Ketua Dewan Pembina Persija Jakarta, Komjen Pol. (Purn.) Syafruddin, angkat bicara mengenai situasi sepakbola nasional saat ini. Terutama terkait adanya wacana PSSI yang disarankan oleh beberapa pihak untuk segera menggelar Kongres Luar Biasa (KLB).
Itu adalah imbas dari mundurnya Letjen TNI (Purn.) Edy Rahmayadi dari kursi ketua umum PSSI dalam Kongres PSSI di Bali, 20 Januari lalu. Tampuk kepemimpinan pun diserahkan Edy kepada Joko Driyono selaku wakil ketua umum paling senior, dan itu sudah berdasarkan Statuta PSSI.
Ditunjuknya Joko sebagai penerus Edy memang memunculkan pro dan kontra. Di samping itu, ada juga anggota PSSI yang ingin terjadinya pergantian pengurus secara keseluruhan. Maka itu, Syafruddin mencoba memberikan sarannya mengenai waktu yang tepat untuk digelarnya KLB terkait pergantian pengurus PSSI.
"Kalau ingin melakukan pergantian, sebaiknya dilakukan reguler sesuai jadwal, di 2020 nanti. Kalau muncul masalah, selesaikan. PSSI kan punya aturan secara global, Statuta FIFA. Jadi, jangan sampai mengganggu. Pemain bisa terganggu," kata Syafruddin di kantor Wakil Presiden Republik Indonesia, kawasan Medan Merdeka Utara, Kamis (7/2).
Mantan Wakapolri itu cemas, kondisi ini menimbulkan gangguan dan bakal dianggap melanggar Statuta FIFA, sehingga mengancam kelangsungan pemain dan klub di pentas internasional. Dia takut, tim Macan Kemayoran turut terkena imbas dari kasus ini.
"Persija sedang mengikuti kualifikasi Liga Champions Asia. Sempat menang di Singapura. Kemudian akan tampil di Australia. Jangan ganggu pemain, pengurus, klub, suporter, sudah sangat baik," jelas Menteri PAN RB tersebut.
a
Goal Indonesia


