Kejutan luar biasa dihadirkan Sanfrecce Hiroshima pada J1-League Jepang 2018. Memasuki pekan kesembilan, mereka berhasil memuncaki klasemen sementara.
Tak main-main karena Sanfrecce unggul sampai sembilan poin jauhnya dari FC Tokyo, yang menguntit di pos runner-up. Dari sembilan matchday, tim asuhan Hiroshi Jofoku itu nyaris sempurna dengan meraih delapan kemenangan dan sekali imbang.
Pertahanan jadi alasan terbesar mengapa Sanfrecce bisa sekukuh itu di puncak klasemen. Walau cuma mampu gelontorkan 1,3 gol per partai, mereka baru kebobolan sepasang gol saja!
止まらない快進撃#サンフレッチェ広島 はリーグ戦開幕から9試合、未だ負けなし‼️
— Jリーグ (@J_League) April 25, 2018
これまでの試合をプレイバック@sanfrecce_SFC#Jリーグ
サンフレッチェ広島についてはこちらhttps://t.co/dKAswBVIObpic.twitter.com/m6DbxN0nOd
Padahal musim lalu Sanfrecce nyaris terdegradasi lantaran akhiri musim di peringkat 15 dari 18 peserta. Perombakan cukup besar lantas mereka lakukan musim ini dengan datangakan dua bomber tajam, Patrick, dan penyerang terbaik ASEAN saati ini, Teerasil Dangda.
Hasilnya brilian, karena keduanya memproduksi sembilan dari 12 gol Sanfrecce musim ini. Meski begitu, secara keseluruhan inti permainan tetap terletak pada para penggawa lawas di sektor pertahanan, terutama sang kapten, Hiroki Mizumoto.
Dalam sembilan matchday yang dimainkannya, Mizumoto membuat jala Sanfrecce clean sheets sampai delapan kali. Satu gol lain yang bersarang ke jala timnya, terjadi setelah dirinya diganti dalam kemenangan 3-1 atas Yokohama Marinos.
Performa puncak Mizumoto hadir akhir pekan lalu ketika meraih kemenangan tipis 1-0 atas Sagan Tosu. Meski bermain di kandang sendiri, Sanfrecce dibuat menderita oleh sang tamu yang bermin begitu ofensif.
Untungnya Mizumoto menjelma jadi benteng kukuh, yang membuat lima tembakan Sagan diblok dan kalah sampai lima kali dari tujuh duel udara di kotak penalti Sanfrecce. Pemain 32 tahun itu juga lepaskan enam tekel, dengan hanya satu yang luput hingga hadirkan kartu kuning di menit 79. Tuan rumah pada akhirnya menang 1-0.
Apa yang ditampilkan Mizumoto sepanjang duel tersebut, juga seakan jadi bukti bahwa kualitasnya masih ada dan hidup kembali setelah sempat gagal di masa lalu. Maklum dahulu dia dipandang sebagai penerus bek legendaris timnas Jepang, Yuji Nakazawa, tapi tak konsisten hingga cuma mengoleksi tujuh caps bersama Samurai Biru.
Jika Mizumoto mampu pertahanan konsistensi yang menstimulasi performa positif rekan-rekannya, bukan tak mungkin Sanfrecce bakal jadi kampiun J1-League untuk kali keempat dalam tujuh musim terakhir.


