Olivier Giroud Montpellier

Kisah Kuda Hitam: Olivier Giroud Jadi Inspirasi Montpellier Juarai Ligue 1 Prancis

Sejak diambil alih kartel Qatar pada 2011, Paris Saint-Germain resmi menjadi bos Ligue 1. Dengan kekayaan yang tidak tertandingi, hegemoni mereka di papan teratas klasemen terbilang aman.

Akan tetapi, pada puncak dominasi mereka, klub sederhana dari pantai di Prancis Selatan melakukan “aksi pembangkangan” terakhir pada 2012. Ya, Montpellier menjuarai Ligue 1 untuk kali pertama dalam sejarah mereka.

Meskipun menjadi salah satu anggota pendiri kasta teratas, Montpellier belum pernah juara. Mereka bahkan nyaris terdegradasi pada musim 2010/11. Kala itu, La Paillade finis di urutan ke-14 atau cuma berjarak tiga poin dari zona degradasi.

Yang menarik, Ligue 1 musim 2011/12 menghasilkan sejumlah pemain berbakat. Eden Hazard muda yang menjadi jagoan Lille dan Pierre-Emerick Aubameyang yang menjadi mesin gol Saint-Etienne. Di Montpellier, Olivier Giroud memainkan peran paling menentukan dalam raihan gelar juara yang mengejutkan.

Pemain internasional Prancis—yang dengan dijuluki 'Le buteur de charme (Striker Memesona)' karena ketampanan dan kemampuannya untuk mencetak gol—menyelesaikan musim tersebut dengan torehan 21 gol sekaligus menjadi topskor.

Meskipun gelandang PSG, Nene, mengoleksi jumlah yang sama, Giroud lah yang tetap diberikan Sepatu Emas karena ia mencetak gol lebih banyak dari permainan terbuka.

Pencapaian yang layak. Giroud berkontribusi besar dalam serangan Montpellier. Seiring dengan 21 gol-nya, ia juga menyumbangkan sembilan assist.

Gol saja tidak cukup untuk memenangkan gelar bagi tim yang tidak diunggulkan. Manajer Rene Girard pun sukses membuat timnya tampil solid di lini belakang. Mereka paling sulit ditembus, cuma kebobolan 34 gol dalam 38 laga.

Lille head coach Rene Girard.

Dua pemain Montpellier yang didatangkan semusim sebelumnya, yakni bek asal Brasil, Vitorino Hilton, dan fullback asal Kamerun, Henri Bedimo, adalah kunci dari rekor pertahanan tim.

Bersama Giroud, kedua pemain itu terpilih masuk dalam tim terbaik Ligue 1 musim 2011/12.

Sejumlah pemain muda Montpellier juga turut berperan. Fokus klub pada pengembangan pemain muda terhitung membuahkan hasil sejak mereka promosi ke Ligue 1 pada musim 2009/10.

Pemain-pemain lulusan akademi, seperti: Remy Cabella, Benjamin Stambouli, Younes Belhanda, dan Mapou Yanga-Mbiwa, semua datang pada momen yang tepat. Kecuali Belhanda, tiga pemain tersebut akhirnya sempat menjajal Liga Primer Inggris pada musim-musim selanjutnya.

Musim yang jauh dari sempurna sebetulnya untuk Montpellier. Bagaimana tidak? La Paillade kalah 3-0 di kandang PSG pada pekan awal. Mereka juga masih perlu menghindari kekalahan dari Auxerre untuk memastikan gelar pada pekan pamungkas.

Sementara PSG sudah memastikan kemenangan atas Lorient, Montpellier sempat tertinggal di Stade de l'Abbe-Deschamps dan laga terhenti beberapa kali karena fans tuan rumah melemparkan telur dan beberapa benda lain ke lapangan.

Meskipun harus melalui gangguan, skuad arahan Girard tetap sukses mengalahkan Auxerre 2-1 berkat dua gol dari mantan striker timnas Nigeria John Utaka sekaligus menuntaskan keajaiban sepakbola Prancis.

Olivier Giroud Montpellier

“Saya sangat bangga dengan para pemain. Mereka telah menghasilkan musim yang luar biasa," ucap Girard kala selebrasi juara dimulai di Montpellier.

"Kami bermain bagus, mencetak banyak gol, minim kebobolan. Kami layak mendapatkan ini.”

"Saya pikir kemenangan kami adalah sejarah untuk sepakbola Prancis. Itu menunjukkan bahwa siapapun bisa dikalahkan dan menegaskan bahwa uang bukan segalanya dan akhir dari segalanya.”

“Kami adalah klub yang sederhana, klub yang bersahabat dengan pemain muda, dan memberi mereka kesempatan. Pada akhirnya, skenario itu berjalan dengan baik untuk kami. Kami memainkan sepakbola yang hebat, dengan tim yang seimbang dan saya kewalahan [memilih pemain,” pungkasnya.

Keberhasilan Montpellier hanya satu sejarah, PSG mengklaim enam dari tujuh gelar Ligue 1 berikutnya, dan hampir pasti mengamankan gelar ketujuh pada musim ini setelah penangguhan liga dicabut.

Satu-satunya gelar yang dilewatkan PSG yakni pada musim 2016/2017. Kembali, kala itu mereka dikalahkan oleh tim kaum muda lainnya, yakni Monaco. Kylian Mbappe cs sukses meraih trofi.

Sementara itu, Montpellier mulai terlupakan di kancah sepakbola Prancis. Mereka finis keenam mereka pada musim 2018/19, pencapaian terbaik sejak gelar pertama mereka.

PSG benar-benar mendominasi. Les Parisiens menghabiskan banyak uang dalam upaya untuk tidak hanya menaklukkan Ligue 1, tapi juga Eropa.

Meski begitu, pada musim 2011/12, investasi signifikan dari PSG, hingga perekrutan Carlo Ancelotti sebagai pelatih, sama sekali tidak cukup untuk menghentikan keajaiban Montpellier.

Iklan