Manajer Manchester City, Pep Guardiola, memaklumi reaksi Oleksandr Zinchenko kepada Presiden Rusia Vladimir Putin terkait invasi militer di tanah kelahiran sang full-back, Ukraina.
Setelah Rusia menduduki wilayah Ukraina per Kamis kemarin, Zinchenko sempat mengunggah kecaman kepada Putin di media sosial yang berbunyi: “saya harap Anda mati dengan cara yang paling menyakitkan” — yang kemudian dihapus pihak Instagram.
Gurdiola mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Zinchenko. Pelatih asal Spanyol itu merasa sang pemain telah melakukan tindakan tepat.
Meski kekhawatiran melanda, Zinchenko tetap berlatih jelang laga kontra Everton pada pekan ke-27 Liga Primer Inggris di Goodison Park, Minggu (27/2) dini hari WIB.
"Kami membicarakan semua ini, saya telah berbicara semua hal dengannya," ucap Guardiola dalam sesi jumpa pers pralaga.
"Ini adalah berita utama di seluruh dunia, ini menjadi perhatian bersama. Aleks [sapaan Zinchenko] sangat kuat, dia pria yang sangat brilian,” tutur juru taktik berkepala plontos itu.
"Tentu saja ini tidak mudah baginya, tapi hari ini dan kemarin dia brilian dalam sesi latihan. Dia siap bermain jika dia harus bermain,” imbuhnya.
Guardiola mengatakan bahwa reaksi emosional Zinchenko sepenuhnya dapat dimengerti.
"Apa yang akan Anda lakukan jika ada pihak lain dari luar negeri menyerang Inggris? Itulah yang dia rasakan,” ujar Pep.
"Apa yang terjadi di Yugoslavia, tidak ada yang bisa melakukan apa-apa. Di seluruh dunia ada banyak perang, sangat disayangkan.”
"Orang yang tidak bersalah akan mati ketika mereka hanya menginginkan hidup damai. Di seluruh dunia Anda menginginkan rumah, tidur nyenyak, makanan di atas meja, film, makanan, atau seseorang untuk dicintai.”
"Ketika Anda tidak terlibat, kemudian mereka menyerang negara Anda, berada di titik ini adalah sesuatu yang rumit.”
"Selalu orang yang tidak bersalah harus menanggung hal-hal yang mengerikan, karena keputusan satu atau dua orang. Kita tetap tidak belajar dari apa yang terjadi di masa lalu.”
“Saat ini di Suriah dan banyak tempat. Pada akhirnya pihak yang kuat selalu membunuh yang lemah.”
"Ini mengkhawatirkan, apa yang kami rasakan dengan negara tempat kami dilahirkan. Membunuh orang yang tidak bersalah, bagaimana perasaan Anda? Saya rasa itu yang dia rasakan.”
"Tentu saja [invasi Rusia ke Ukraina] itu beririsan dengannya. Tentu saja dia mendapat dukungan kami. Kami hidup bersama setiap hari, itu yang juga bisa terjadi di negara tempat dia dilahirkan. Dia tangguh, dia dicintai, dan dia tahu kami ada untuknya,” pungkas Guardiola.
