Ole Gunnar Solskjaer, Man UnitedOle Gunnar Solskjaer, Man United

Ole Gunnar Solskjaer & Cinta: Manchester United Sebetulnya Tak Pernah Mengobati Luka

"Anda mati sebagai pahlawan, atau Anda hidup lama hanya untuk melihat dirimu jadi penjahat." - Harvey Dent, The Dark Knight.

Manchester United resmi memecat Ole Gunnar Solskjaer. Sosok yang kala dahulu jadi pemain, mengukir momen paling mulia dalam sejarah klub: gol di menit-menit akhir kontra Bayern Munich dalam final Liga Champions 1999. Kini, dia pamit meninggalkan kegetiran yang cukup mendalam.

Ole angkat kaki sebulan setelah menyaksikan timnya diluluhlantakkan rival abadi mereka, Liverpool, 5-0 di kandang sendiri, kekalahan yang sama memalukannya saat mereka dihancurkan Manchester City.

Orang terakhir yang paling jengah dengan pekerjaan Soslkjaer tampaknya adalah dewan direksi. Kesempatan terakhir Ole ada di laga kontra Watford, namun tak dinyana Man United dipermalukan tim promosi itu dengan skor mencolok, 4-1. Ironisnya, Watford adalah tim yang belum sekali pun mengamankan kemenangan di kandang sendiri musim ini, tetapi menghadapi lawan sekelas The Red Devils mereka bisa leluasa menceplos hingga empat gol.

Di akhir karier olahraga setiap pemain, mereka akan dikenang dengan cara yang berbeda-beda. Umumnya, mereka lekang di ingatan fans karena persembahan trofi yang diberikan. Ole pun menutup karier profesionalnya sebagai pahlawan Setan Merah.

Namun, saat dia ditunjuk untuk mengambil tampuk manajerial pada 2018, mencuat sederet pertanyaan besar: bisakah dia merestorasi kejayaan yang pernah diukir pelatih legendaris Man United Sir Alex Ferguson?

Di tahapan itu, Man United limbung. Kadung dicap sebagai salah satu klub tersukses Eropa di bawah rezim Sir Alex, pelipur lara mereka saat ditinggal Sang Gaffer adalah menunjuk salah satu legenda masyhur mereka, Ole. Mulanya berjalan manis, lama kelamaan menjadi pahit.

Memang, tak ada salahnya menengok masa lalu atas apa yang telah dikerjakannya untuk klub. Mungkin sejarah akan selalu terasa manis buat Ole, tapi perbedaan peran akan sangat menentukan. Penunjukannya kala itu terkesan jadi sebuah perjudian besar, meskipun Ole terbilang telah melakukan beberapa pekerjaan yang patut diacungi jempol.

Ole Gunnar Solskjaer 1999Getty Images

Ole membuat start fantastis dengan memenangkan 14 dari 19 pertandingan pertama, termasuk mengeliminasi Paris Saint-Germain di Liga Champions. Dalam perkembangannya, Ole kerap dikritik karena dinilai telah menghilangkan tradisi permainan Man United yang sebenarnya, dan itu benar-benar terjadi di banyak pertandingan.

Namun, Ole menjawab segala tantangan yang diberikan dengan mengantar timnya finis di posisi runner-up musim lalu, pencapaian yang bisa jadi kebanggaan tersendiri buat manajer mana pun.

Ole memangkas skuad yang dimilikinya, dan berani mendepak pemain-pemain bintang yang tak masuk dalam rencananya. Dia mempromosikan deretan talenta klub, dan berhasil memimpin Setan Merah meraih kemenangan krusial menghadapi para rival terdekat.

Man-management Ole kadang-kadang menakjubkan. Misalnya dia membuat para pemain kunci jauh lebih meningkat dari level sebelumnya. Yang paling mencolok, bagaimana dia mengubah Luke Shaw kembali ke performa terbaiknya, bagaimana dia membujuk Paul Pogba agar bertahan saat potensi pergi sangat mungkin terwujud.

Namun, rezim Ole juga tak jarang sering menimbulkan atmosfer 'perang gerilya'. Lawan-lawan underdog yang semestinya bisa diatasi dengan mudah, kadang malah menyentak Man United. Lantas, para fans pun menerka-nerka, kalau begitu tim kesayangan mereka akan dipreteli lawan-lawan besar jika mereka bermain terbuka. Dan itu terbukti.

Tanda pelatih terhebat dalam permainan adalah mereka yang bisa konsisten dari minggu ke minggu, memenangkan laga besar ke laga besar lainnya. Itu memang bukan sesuatu mutlak yang harus dimiliki pelatih, tapi Ole gagal membangun elemen itu dan pada akhirnya dia tak pernah dimasukkan dalam jajaran manajer elite sepakbola.

Pemilik Man United menolak beberapa masukan, semua didasari karena mereka tidak cukup menaruh perhatian atas apa yang terjadi di lapangan. Mungkin karena prioritas mereka sangat kontras dengan para suporter.

Keluarga Glazer mengakuisisi Man United pada 2005 dan mengubah institusi ini berkembang pesat dari sisi finansial, tapi ragam keberhasilan di lapangan pun beriringan dengan menggunungnya hutang. Boleh dikatakan, ini adalah akuisisi yang tidak sentimental alias hanya murni peluang investasi, dan penunjukan Ole adalah wujud untuk menutupi tidak adanya sentimentalitas pada klub.

manchester united(C)Getty Images

Sekarang, setelah sang legenda pergi, fans Man United akan dihadapkan kembali pada kenyataan pahit: klub dijalankan tanpa cinta yang tersemat di hati.

Hadiah terbesar yang diberikan Ole sebagai penyerang adalah kepekaannya terhadap waktu. Dia mafhum betul kapan dan di mana dia harus tiba di kotak penalti. Ironisnya, lantaran salah satu musim terbaiknya semasa jadi pemain adalah bermain sebagai penyerang sayap, dia justru gagal mengakomodasi Jadon Sancho dalam peran yang sama.

Kritik utama terhadap Ole yakni timnya tak mampu membentuk pola serangan yang kompleks untuk menghancurkan pertahanan terbaik lawan. Dengan kata lain, taktiknya kadaluarsa.

Bandingkan dia dengan katakanlah manajer Chelsea Thomas Tuchel, yang berkembang pesat karena kompresi ruang antarpemain saat bertahan. Man United arahan Ole terlalu sering terjebak dalam isolasi, satu pemain dengan pemain lainnya terdampar jauh, sering kalah jumlah di tengah lapangan. Ujung-ujungnya, kewalahan saat gelombang serangan cepat datang.

Terlepas dari itu, ini adalah kesalahan mereka yang bertanggung jawab atas bisnis transfer tim, plus klub yang gagal berinvestasi di lini tengah. Di samping itu, layak pula dikatakan bahwa ada terlalu banyak kesalahan taktis di sektor utama.

Glazers FamilyGetty

Siapa pun yang nantinya mengambil tongkat estafet kepelatihan Ole, mungkin tidak bakal membuat iri pelatih mana pun. Siapa saja yang duduk di kursi panas Old Trafford, terlalu diabaikan oleh keluarga Glazer sejak kepergian Sir Alex pada 2013. Oleh karena itu, setiap pelatih akan paham bahwa perekrutan pemain bukanlah tuntutan terkuat para petinggi klub atau jadi perhatian utama mereka.

Para pemangku kuasa di Man United secara sadar mengerti bahwa pembelian pemain lebih karena 'syahwat bisnis' mereka demi menciptakan deretan headline di media-media besar dan interaksi menguntungkan di media sosial daripada prospek kesuksesan di lapangan.

Namun, ada perspektif lain yang terasa lebih menyejukkan, bahwa terlepas dari rangkaian rasa frustrasi yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir, Solskjaer tetap pergi dengan perasaan bahwa dia telah memberikan yang terbaik. Sebab perasaan terakhir saat kepergiannya adalah kesedihan, bahkan terasa sangat emosional alih-alih amarah dari fans.

Dalam konteks ini, pemilik klub siap kembali tancap gas bersama manajer baru dengan rekor mentereng di level teratas. Namun perlu diingat, Soslkjaer pergi dengan mengajarkan kita apa arti sebuah kepercayaan diri, sifat terbaik klub, sebagaimana yang kita ketahui semasa Sir Alex berkuasa.

Semoga sukses di petualangan berikutnya, Ole!

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0