Ciro Immobile David Silva Andreas Pereira Lazio GFXGetty/Goal

Mimpikan David Silva Tapi Dapat Andreas Pereira: Bagaimana Berantakannya Rencana Lazio Di Liga Champions

Dua hari sebelum Lazio menjalani laga pembuka Serie A di markas Cagliari, salah satu kelompok ultras klub menggantungkan spanduk di pagar jembatan layang Ponte Milvio di Roma.

Bunyinya: "Janji palsu dan medioker. Bursa transfer adalah kekacauan yang sudah biasa terjadi. Keluarlah dari kuil, saudagar!"

Spanduk bernada kritikan itu ditujukan kepada presiden Lazio Claudio Lotito, yang memiliki reputasi sebagai orang yang hemat.

Tentu saja, kehati-hatian bukanlah tindakan yang bijaksana dalam iklim ekonomi saat ini. Tetapi Lotito memiliki banyak pengalaman dalam hal mengecewakan suporter klubnya di pasar transfer sebelumnya.

Pada 2013, fans Lazio memboikot pertandingan awal musim dan menyatakan jendela musim panas mereka "tak lagi berguna". Tahun berikutnya, banyak yang tidak hadir untuk menyaksikan laga Serie A melawan Atalanta di Stadio Olimpico.

Namun, reaksi terbaru ini sedikit berbeda. Meski memperhitungkan dampak pandemi virus corona, bursa transfer musim panas Lazio sempat diperkirakan akan berjalan dengan baik.

Lagi pula, dengan finis keempat di Serie A musim lalu, Biancocelesti memastikan partisipasi di fase grup Liga Champions untuk pertama kalinya sejak 2007. Untuk itu, mendatangkan pemain kemudian menjadi urusan yang seharusnya mudah. Sayangnya, itu terbukti sangat sulit.

Ketika jendela transfer dibuka, Lazio tampak siap untuk merekrut legenda Manchester City David Silva. Saat ditutup, mereka malah menjemput pemain ‘buangan’ Manchester United Andreas Pereira.

Oleh karena itu, pesimisme para suporter untuk pertandingan pembuka Liga Champions pada Rabu (21/10) dini hari WIB melawan Borussia Dortmund dapat dimengerti. Tapi ada beberapa alasan untuk optimis. Mula-mula, mereka terundi di grup yang relatif mudah.

Dortmund jelas dipenuhi dengan talenta-talenta muda yang mengesankan, tetapi Lazio boleh optimis tentang peluang mereka untuk finis di atas Zenit dan Club Brugge - jika mereka dapat menurunkan susunan XI terbaiknya di setiap pertandingan Grup F.

Dan di situlah letak inti masalahnya.

Alasan mengapa para penggemar sangat kecewa dengan kurangnya perekrutan bintang di musim panas kemarin adalah karena skuad tersebut tidak punya kedalaman.

Lazio memang memiliki XI utama yang kuat. Musim lalu, pemain seperti Ciro Immobile, Sergej Milinkovic-Savic, Luis Alberto, Francesco Acerbi dan Thomas Strakosha menempatkan klub ibu kota itu dalam posisi yang bagus untuk memenangkan gelar Serie A pertama sejak 2000. Namun demikian, Covid-19 mengubah segalanya.

Ketika pertandingan dihentikan pada Maret, Lazio yang menempati urutan kedua hanya berjarak satu poin di belakang pemuncak klasemen Juventus dan tidak terkalahkan dalam 21 pertandingan di liga.

Ketika sepakbola kembali bergulir pada Juni, Lazio kalah di enam dari 12 pertandingan terakhir mereka dan berakhir jauh di urutan keempat.

Ciro Immobile Lazio GFXGetty/Goal

Dengan skuad minimalis yang sangat diuntungkan karena tersingkir dari Liga Europa sejak babak penyisihan grup, Lazio justru mengalami kemunduran dengan padatnya jadwal pasca-lockdown yang memaksa mereka bermain hampir tiga hari sekali.

Lazio jelas tidak beruntung dengan rentetan cedera, tetapi masalah kebugaran adalah hasil yang tak terelakkan karena mereka terlalu mengandalkan pemain yang sama di setiap pertandingan.

Menjadi jelas bahwa bahwa skuad arahan Simone Inzaghi perlu diperdalam selama musim panas, dan itu ditujukan demi mengatasi tuntutan bersaing di dua kompetisi musim ini.

Hanya ada enam pemain yang mereka datangkan - Pepe Reina, Gonzalo Escalante, Vedat Muriqi, Mohamed Fares, Pereira dan Wesley Hoedt - dengan total biaya mencapai €27,5 juta (£25 juta / $32 juta).

Fares adalah perekrutan yang cerdas, mengingat Lazio sangat membutuhkan bek sayap baru di sisi kiri, sementara mantan penyerang Fenerbahce Muriqi diharapkan meringankan beban mencetak gol pada Immobile, yang di musim lalu menyamai rekor gol Gonzalo Higuain di satu musim Serie A.

Lebih lanjut, Pereira diharapkan tampil seperti pemain yang menjanjikan selama dipinjamkan Manchester United ke Valencia daripada ketika ia beraksi untuk klub Old Trafford tersebut, dan periode kedua Hoedt di Olimpico jauh lebih baik daripada yang pertama.

Dengan semua itu, mudah untuk memahami mengapa para suporter sangat kecewa. Klub mereka tidak merekrut satu pun pemain bintang selama musim panas. Tidak satu pun dari rekrutan baru yang terlihat bisa mengubah permainan.

Harus diakui bahwa hanya sedikit yang bisa mereka lakukan soal situasi Silva. Gelandang Spanyol itu sejatinya setuju untuk pindah ke Stadio Olimpico, tapi kemudian berubah pikiran dan bergabung dengan Real Sociedad.

Claudio Lotito Atalanta LazioGetty

Perlu dicatat pula bahwa Lazio sebenarnya telah menaikkan tagihan gaji mereka musim ini, di saat hampir semua rival mereka memangkas pengeluaran.

Selain itu, direktur olahraga Igli Tare dengan tepat menunjukkan bahwa tujuan klubnya adalah untuk menambah kedalaman skuad, dan dia pasti telah mencapai target itu. Tapi apakah itu akan berhasil, masih perlu dipantau lebih lanjut.

Keterbatasan Lazio telah diekspos di Serie A musim ini, di mana mereka hanya mengumpulkan empat poin dari empat pertandingan pertama mereka, bahkan mengalami kekalahan telak dari Atalanta dan Sampdoria.

Ekspektasinya sekarang telah turun jauh jelang pertandingan pertama mereka di Liga Champions dalam 13 tahun.

Inzaghi, yang telah melakukan pekerjaan luar biasa sejak mengambil alih klub pada 2015, berusaha untuk tetap optimis. Dia menjelaskan bahwa rekrutan baru memang diperlukan sebelum pertandingan melawan Cagliari dan dia masih yakin Lazio bisa memiliki "tahun yang hebat", seperti halnya Lotito.

“Skuad ini memiliki segala yang dibutuhkan untuk mendapati musim yang bagus," kata presiden klub baru-baru ini, sebelum menambahkan dengan nada tidak menyenangkan: "Saya selalu mengatakan bahwa saya tidak menjual mimpi - hanya kenyataan yang solid."

Kenyataannya, sang saudagar mungkin akan berurusan dengan lebih banyak seruan agar dia keluar dari ‘kuil’ jika mimpi Liga Champions dan Scudetto Lazio berakhir pada Natal.

Lotito sekali lagi mengandalkan Inzaghi untuk membuat keajaiban kecil lainnya di Olimpico.

Iklan
0