Lionel Messi Eden Hazard Cristiano RonaldoGetty/Goal

Messi & Ronaldo Pensiun: Mampukah Mbappe & Haaland Jadi Rivalitas Terbesar Sepakbola?

Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo? Itu adalah pertanyaan yang telah mendikotomikan sepakbola. Penyebab banyaknya argumen di seluruh dunia.

Pada era media sosial, Anda dilarang menjagokan keduanya. Anda harus memilih salah satu. Siapa yang Anda pilih menentukan bagaimana sudut pandang Anda terhadap pertandingan. Seperti yang dikemukakan oleh Luis Figo, itu benar-benar masalah selera: "Ini seperti memilih antara truffle putih atau kaviar."

Memang, satu hal yang disepakati semua orang adalah bahwa keduanya adalah pemain luar biasa; keduanya selalu masuk dalam percakapan tentang siapa pemain terbaik sepanjang masa.

Mereka, bagaimanapun, bertanggung jawab atas persaingan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah permainan: dua pemain hebat sepanjang masa di sisi yang berbeda kala El Clasico di Spanyol. Selama sembilan tahun, melecut satu sama lain untuk skala pencapaian yang lebih tinggi.

"Itu adalah duel yang akan bertahan selamanya karena berlangsung selama bertahun-tahun, dan tidak mudah untuk mempertahankan level tertinggi Anda begitu lama. Terutama di dua klub tempat kami berada, dengan tuntutan tinggi, di Real Madrid dan Barcelona, klub terbaik di dunia,” ucap Messi kepada DAZN.

“Berkompetisi dengan selalu berhadapan selama bertahun-tahun akan diingat selamanya. Persaingan olahraga di antara kami sangat baik pada tingkat pribadi. Saya pikir para fans juga menikmatinya, baik suporter Madrid atau Barca, atau hanya mereka [penonton netral] yang menyukai sepakbola,” tambahnya.

Ini belum berakhir, tentu saja. Ronaldo (35 tahun) dan Messi (32 tahun), mereka belum menunjukkan tanda-tanda nyata untuk menyerah. Ronaldo berpindah tim, meninggalkan Real Madrid untuk Juventus pada 2018, tetapi persaingan dengan Messi bertahan; perdebatan berkobar. Setidaknya di antara para pendukung mereka yang paling bersemangat.

Ketika Ronaldo hijrah ke Turin, fans sang pemain tetap setia. Jumlah pengikut media sosial Juventus melejit, fenomena baru ini tercipta dari fans yang memprioritaskan pemain di atas klub.

Penikmat sepakbola yang sangat modern tersebut memiliki pemain favorit, bukan tim favorit, yang menimbulkan pertanyaan yang jauh lebih mendesak daripada Messi atau Ronaldo: Apa yang terjadi setelah sepasang rival ini pensiun?

Apakah sepakbola akan kehilangan pengikut? Dua protagonis terhebat dalam drama paling menarik selama sedekade terakhir akan meninggalkan panggung. Akankah beberapa penonton pergi sebelum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? Lagipula, bagaimana mungkin sesuatu melebihi apa yang telah terjadi sebelumnya?

Ronaldo dan Messi telah mengubah persepsi kita tentang apa yang mungkin terjadi di lapangan sepakbola, menjadikannya luar biasa, dan membuatnya seperti biasa saja.

Mereka telah mengubah ide kami tentang apa musim yang luar biasa. Apapun yang kurang dari 50 gol dalam satu musim, di masa depan, dapat dianggap sebagai kegagalan.

"Saya tidak ingin menjadi pesimistis,” kata mantan penyerang Barcelona dan Real Madrid, Javier Saviola, kepada Goal.

“Tetapi, akan sulit bagi siapapun untuk mencapai level Ronaldo dan Messi setelah mereka pergi. Saya pikir Leo, pada khususnya, telah melakukan sesuatu yang 'tidak manusiawi'. Sangat sulit untuk memenangkan gelar yang dimenangkannya, mencetak gol yang dia cetak, dan memainkan cara dia bermain.”

"Leo dan Cristiano, kita akan berbicara tentang mereka sebagai yang terbaik selama bertahun-tahun ke depan setelah apa yang mereka lakukan selama satu dekade, memenangkan 11 Ballons d'Or!”

Ya, dan itulah kuncinya: konsistensi.

Cristiano Ronaldo Lionel MessiGetty Images

"Mereka sudah melakukannya begitu lama," ujar penulis sepakbola Spanyol Andy West kepada Goal.

"Mereka baru saja libur sepekan. Mereka berdua memiliki kebugaran fisik untuk bermain 40 atau 50 pertandingan setahun. Tidak satupun dari mereka yang benar-benar memiliki masalah cedera serius, itu yang luar biasa. Jika Anda kembali ke sejarah dari permainan, ada sangat, sangat sedikit pemain yang mampu mempertahankan keunggulan itu begitu lama.”

"Bahkan jika Anda melihat pemain hanya dari masa hidup saya, seperti Ronaldo Luiz [Brasil], ia adalah pemain terbaik di dunia pada puncaknya, tetapi ia memiliki begitu banyak masalah cedera yang berarti, ia hanya berada di masa terbaiknya untuk periode singkat.”

"Sebelum Messi di Barcelona, ada Ronaldinho, bakat duniawi lainnya. Dia bisa melakukan banyak hal dengan sepakbola yang bahkan tidak bisa dibayangkan orang lain. Tetapi, dia memiliki puncak karier yang pendek karena kehilangan fokus. Dia menikmati kehidupan yang baik. Dia mungkin memiliki empat atau lima tahun terbaik sebelum performanya menurun.”

"Jadi, itu hal yang sulit untuk tetap bertahanan di puncak karier. Namun, Ronaldo dan Messi telah menyajikannya selama satu dekade lebih, tanpa henti. Lalu fakta bahwa mereka juga melakukannya secara bersamaan begitu lama, saat bermain di liga terbaik sepakbola, untuk dua tim terbesar di dunia, itulah yang membuat era mereka sangat luar biasa.”

“Mereka sulit untuk disamai pemain lain. Banyak pemain hebat selama sedekade terakhir yang sebelumnya diklaim sebagai pemain terbaik di dunia, tetapi mereka bahkan belum mendekati. Saya tidak berpikir siapapun akan membantah hal itu. Tidak ada yang mendekati level Messi dan Ronaldo,” pungkasnya.

Bahkan bukan pula oleh Eden Hazard. Pemain asal Belgia itu adalah salah satu pemain terbaik di dunia selama bertahun-tahun, gemilang di Liga Primer Inggris dengan sihir di sisi sayap Chelsea.

Namun, bahkan Hazard sendiri telah mengakui bahwa ia tidak mampu menyamai angka-angka Ronaldo dan Messi, sebagaimana ditegaskan dengan “menyakitkan” dari penampilan pemain berusia 29 tahun itu dan masalah kebugaran di tahun pertamanya di Real Madrid.

"Saya sering bertanya pada diri sendiri apa yang bisa saya lakukan untuk menjadi seperti Messi dan Ronaldo dan mendapatkan 50 atau 60 gol dalam satu musim," ucap Hazard kepada Sport/Foot.

"Saya mencoba, tentu saja, tetapi saya menyadari bahwa saya tidak akan pernah menjadi pencetak gol sejati seperti mereka. Itu tidak ada dalam diri saya. Ini terutama masalah mental: pada keunggulan 2-0, mereka tidak berpikir itu cukup misalnya. Sementara terkadang saya masih berpikir setelah mencetak gol, ‘itu sudah cukup’.”

"Saya tidak mengincar rekor seperti beberapa pemain lain. Jika saya bisa mencetak antara 15 dan 20 gol setiap musim, saya sudah sangat bahagia,” tambahnya.

Lionel Messi Eden Hazard Cristiano RonaldoGetty/Goal

Orang tidak akan pernah bisa membayangkan Messi atau Ronaldo puas dengan pencapaian seperti itu.

Tentu saja, demi narasi, mereka digambarkan sebagai dua kutub yang berlawanan: Messi adalah jenius yang pendiam dan sederhana yang mengutamakan tim; Ronaldo yaitu mesin pencetak gol yang sangat bangga dengan pencapaian dan rekor individu. Keduanya adalah karikatur sederhana, yang bisa saling merugikan. Messi bisa sama kejamnya dengan Ronaldo; Ronaldo bisa dengan murah hati seperti Messi.

Selain itu, mereka tidak hanya dibalut oleh kecemerlangan, tetapi juga tekad, dorongan batin yang menjadikan keduanya mutlak memiliki keterampilan yang luar biasa.

"Messi memiliki dedikasi yang sama besarnya dengan Ronaldo, tetapi dengan cara yang berbeda," kata Andy West, penulis buku 'Lionel Messi and The Art of Living'.

"Kita tentu bisa mengatakan bahwa Ronaldo telah melakukan segala daya untuk menjadi pemain terbaik di dunia. Dia selalu terbuka tentang itu: dia ingin orang lain memandangnya dan mengatakan dia yang terbaik. Dia selalu berfokus akan hal itu, jadi dia melakukannya untuk pengakuan eksternal.”

"Namun, saya pikir Messi memiliki dorongan yang sama; hanya saja dia berasal dari dalam. Dia ingin menjadi yang terbaik yang dia bisa. Dia mendorong dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik, tidak untuk menginginkan orang lain mengatakan dia yang terbaik, tetapi agar dia bisa berdamai dengan dirinya sendiri.”

“Saya pikir dia tidak membutuhkan kepuasan eksternal seperti yang dilakukan Cristiano, tetapi dia masih memiliki dorongan yang sangat untuk dirinya dan mendapatkan yang terbaik dari dirinya sendiri.”

"Jadi, dalam pencapaian luar biasa dan konsistensi itu, banyak yang bermuara pada mentalitas,” tambahnya.

Mungkin itulah sebabnya Neymar bukan lagi favorit untuk menjadi sorotan ketika Messi dan Ronaldo mundur. Tidak pernah ada keraguan atas kemampuan pemain Brasil ini, tetapi tingkat fokusnya telah lama menjadi perhatian.

"Neymar selalu berada di tengah badai untuk hal-hal di luar sepak bola. Dia perlu bermain sepakbola untuk meningkatkan dan mengembangkan banyak aspek. Dia hanya akan mencapainya dengan sepakbola. Masalahnya adalah dia terus-menerus dikaitkan dengan hal-hal negatif,” tutur Johan Cruyff, lima tahun silam.

Untuk sementara, situasi Neymar nyaris tidak membaik. Bahkan, badai itu hanya memburuk. Seperti kondisi fisiknya.

Sejak pindah ke Paris Saint-Germain dengan rekor dunia pembelian termahal pada 2017, karier Neymar terganggu oleh cedera dan tingkat disiplin yang buruk. Berusia 28 tahun, jalur kariernya tampak lebih mungkin mengikuti jejak Ronaldinho ketimbang Cristiano, yang sejauh ini gagal mencapai keseimbangan sempurna antara perkembangan olahraga dan komersial.

Messi, Neymar, RonaldoGetty composite

"Saya pikir jika Anda melihat [Cristiano] Ronaldo, saya pikir itu adil untuk mengatakan bahwa ia sangat berhati-hati terhadap citranya, sama seperti Neymar," tutur West.

"Cristiano sangat tertarik untuk mengeksploitasi semua peluang untuk popularitasnya sebagai pesepakbola. Tetapi, dia mempertahankan kesadaran bahwa semua ini berasal dari apa yang dia lakukan di lapangan. Sepakbola lebih dulu.”

"Dia tidak membiarkan porsi kehidupan komersialnya mengurangi kehidupan profesionalnya. Saya tidak berpikir Anda bisa mengatakan hal yang sama tentang Neymar. Jika Anda melihat cuitan Neymar di Twitter, misalnya, itu hanya merek, merek, merek.”

“Anda tidak akan tahu dia seorang pesepakbola dengan cara dia membentuk citranya pada waktu-waktu tertentu. Dia seorang selebriti pertama dan utama, sedangkan Ronaldo tampak tidak pernah melakukan apapun yang berpotensi membahayakan kemampuannya untuk tampil di lapangan.”

"Messi juga, memiliki masalah fisik di awal kariernya dan tim medis Barca cukup cepat mendiagnosisnya karena masalah diet dan sistem latihan yang buruk [di klub lamanya].”

“Jadi, mereka mengubah dietnya, mereka meyakinkannya untuk berhenti makan pizza dan minum Coca-Cola, dan dia menjadi lebih bugar dan mampu mengatasi masalah kebugaran yang diderita.”

"Tetapi Neymar, dia terlalu menikmati hal-hal lain di dalam hidup. Dia tidak memiliki komitmen yang sangat untuk kariernya, artinya dia belum mampu mencapai tingkat konsistensi Messi dan Ronaldo,” pungkasnya.

Tetapi, bagaimana dengan generasi selanjutnya? Kylian Mbappe dan Erling Haaland dianggap sebagai kandidat utama untuk mengisi kekosongan yang akan ditinggalkan Messi dan Ronaldo. Keduanya adalah talenta muda yang luar biasa.

Mbappe adalah satu-satunya pemain selain Pele (17 tahun 249 hari) yang mencetak gol di final Piala Dunia ketika masih remaja (19 tahun 207 hari); Haaland adalah pemain termuda dalam sejarah yang mencetak 10 gol Liga Champions, ia mencapai jumlah tersebut hanya dalam tujuh pertandingan.

Potensi mereka jelas sangat besar. Keraguan tetap ada, tentu saja. Bisakah mereka mempertahankan bentuk permainan terbaik mereka? Apakah mereka bisa menghindari cedera serius? Apakah mereka akan mendedikasikan diri sepenuhnya kepada profesi ini seperti Messi dan Ronaldo?

Keduanya dianggap karakter warna-warni. Mantan rekan setim Haaland di RB Salzburg, Maximilian Wober, menggambarkan pemain asal Norwegia itu sebagai "orang gila" merujuk bagaimana striker itu menghabiskan waktu dalam perjalanan jauh dengan "membaca artikel ilmiah tentang bagaimana ia dapat memperbaiki pola tidur atau pola makan”, di saat rekan setim lainnya asyik bermain kartu.

Dalam pola yang sama, Mbappe pernah melewatkan pesta untuk selebrasi juara Monaco pada Ligue 1 musim 2016/17. Ia memilih istirahat cukup untuk berada dalam kondisi fisik terbaik untuk sesi latihan hari berikutnya.

Pria Prancis itu masih remaja saat itu, dan ada  kekhawatiran tentang perilaku egoisnya sejak menjadi rekan setim Neymar di PSG, sebagaimana pertengkarannya dengan pelatih Thomas Tuchel.

Mbappe mengakui bahwa ia "bukan pekerja keras”, tetapi masih dianggap oleh jurnalis yang mengikuti liga dan timnas Prancis sebagai pemain yang hanya suka bermain sepak bola. Selama dia tetap memiliki gairah untuk bermain, dia harus—seperti Haaland—terus mencatat rekor demi rekor.

Erling Haaland, Kylian MbappeGetty composite

Mbappe bahkan mengakui bahwa membandingkannya dengan Messi nyaris tidak mungkin. Dia mencetak 33 gol dalam 29 pertandingan di Ligue 1 musim lalu dan itu masih tidak cukup untuk menyangkal pemain Argentina itu untuk meraih Sepatu Emas Eropa ketiga berturut-turut.

"Ada hari-hari ketika saya mencetak tiga gol dan kemudian dia [Messi] akan mencetak empat," kata Mbappe kepada France Football.

"Saya ingat bahwa saya berbicara dengan Ousmane Dembele [pemain Barcelona dan timnas Prancis) dan berkata: 'Itu tidak mungkin! Apakah dia sengaja melakukannya [melebihi saya]?’,” tambahnya.

Tentu saja, tidak adil untuk mengharapkan seseorang menyamai Messi atau Ronaldo yang luar biasa itu. Atau mengubah level permainan ke era baru. Selain itu, rivalitas Messi-Ronaldo bukan satu-satunya pertunjukkan di kota ini selama 10 hingga 15 tahun terakhir.

Messi belum pernah bermain di EPL, sementara Ronaldo hengkang pada 2009. Namun, kasta teratas Liga Inggris tersebut adalah liga yang paling banyak ditonton yang otomatis menjadi kompetisi dengan perputaran duit tertinggi.

Tentu saja ada banyak alasan untuk popularitasnya di dunia: kecepatan permainan memisahkannya dari liga-liga lain di di Eropa. Kualitas itu membuat kompetisi ini seperti hiburan yang hingar-bingar.

Selain itu, hampir tidak adanya lintasan lari di sekitar lapangannya menonjolkan atmosfer riuh yang dihasilkan oleh kerumunan besar dan bersemangat, di dalam stadion modern. Inggris mengubah praktik dan citranya setelah tragedi Heysel dan Hillsborough pada 1980-an, dan kini menuai hasilnya.

Dengan kehadiran format EPL pada 1992, sepakbola Inggris menjadi produk yang dikemas secara sempurna dan komersial, dijual kepada pemirsa di seluruh dunia oleh BSkyB.

Pada waktunya, kekayaan lebih lanjut didapatkan klub-klub dengan penjualan hak siar yang memungkinkan mereka mengakuisisi beberapa karakter paling berbakat dan karismatik dalam sepakbola.

Semua ini, ditambah dengan drama olahraga tanpa naskah, membuat EPL menjadi tontonan menarik.

"Saya pikir sepakbola sudah menunjukkan hal yang memikat. Ekonomi di dalam sepakbola terangkat karena penyiar dan permainan di Inggris yang tidak diragukan lagi," tutur Reporter Olahraga Eropa untuk Wall Street Journal dan penulis 'The Club', Josh Robinson, kepada Goal.

"Jadi, sepakbola adalah pertandingan yang sangat populer sebelum Ronaldo dan Messi, dan juga sebelum ada EPL.”

"Ronaldo dan Messi, kebetulan, ada dalam persaingan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini pada saat yang sama media sosial meledak. Jadi, mereka mengantarkan cara baru dalam mengonsumsi sepakbola.”

"Ronaldo dan Messi, kebetulan, ada dalam persaingan yang belum pernah terjadi sebelumnya, pada saat yang sama, media sosial meledak. Jadi, mereka mengantarkan cara baru dalam mengonsumsi sepakbola.”

"Misalnya, ketika Ronaldo meninggalkan Real Madrid ke Juventus, kami juga melihat perubahan besar dalam jumlah pengikut media sosial kedua klub.”

“Namun, ada banyak aspek unik bagi Ronaldo, Messi dan persaingan mereka, cara menonton dan mengonsumsi bagi penonton menunjukkan mereka yang telah mendominasi sedekade terakhir, kini telah mendarah daging bagi fans.”

“Jadi, bahkan setelah mereka pensiun, para fans hanya akan menerapkan praktik dan kebiasaan yang sama untuk mengikuti pemain baru,” pungkasnya.

Pada dasarnya, sepakbola menghadapi kekhawatiran yang jauh lebih mendesak daripada pensiunnya dua legenda yang akan segera terjadi, yakni pandemi COVID-19 yang telah menjerumuskan sepakbola ke dalam krisis keuangan yang berpotensi ancaman eksistensial yang sangat nyata bagi klub dan liga di seluruh dunia.

Pada dasarnya, sepakbola adalah permainan simpel. Popularitasnya tidak akan redup oleh pandemi; jika ada, itu dapat ditingkatkan, karena orang menjadi lebih menghargai olahraga yang dapat dimainkan oleh siapa saja dengan bola.

Jadi, jika sepakbola bisa bertahan dari COVID-19, itu juga bisa selamat andai kehilangan Messi dan Ronaldo. Pertunjukan akan terus berlanjut. Namun demikian, akankah juga untuk perdebatan tentang siapa yang lebih baik: Messi atau Ronaldo?

Tidak akan pernah ada kesepakatan, tentu saja, tapi itu intinya. Seperti kata Messi, persaingannya dengan Ronaldo adalah duel yang akan bertahan selamanya.

Iklan
0