Pada malam yang memukau lainnya, Lionel Messi memilih untuk membalas semua rekor dan pesaingnya dengan caranya sendiri; kapten Argentina ini tidak hanya memimpin timnas negaranya, tetapi juga menulis ulang sejarah Piala Dunia, serta membuktikan bahwa bagi para pemain luar biasa, usia hanyalah angka di akta kelahiran.
Bintang Argentina Lionel Messi, kapten Inter Miami, terus memecahkan rekor setelah memimpin timnas negaranya meraih kemenangan besar atas Aljazair, dengan mencetak "hat-trick" bersejarah yang mengangkatnya ke puncak daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia, sejajar dengan legenda Jerman Miroslav Klose dengan masing-masing 16 gol.
Prestasi Messi ini terjadi pada momen yang dramatis, karena hanya beberapa jam sebelumnya Kylian Mbappé telah mencetak dua gol yang meningkatkan jumlah golnya menjadi 14, sementara itu secara sementara melampaui Messi dan memanaskan persaingan di puncak klasemen, namun responsnya tak lama datang: tiga gol yang dicetaknya dengan ciri khasnya—ketepatan, ketenangan, dan ketegasan—membuat pemain berusia 38 tahun ini kembali ke posisi puncaknya, menegaskan bahwa gairah tak pernah pudar.
Yang semakin menambah nilai pencapaian ini adalah fakta bahwa Messi mencapainya saat ini bermain di Major League Soccer (MLS) bersama Inter Miami, yang ia bergabung pada Juli 2023, Sejak kedatangannya, sorotan dunia beralih ke MLS, di mana bintang-bintang sekelas Jordi Alba, Sergio Busquets, Luis Suárez, Rodrigo de Paul, Son Heung-min, dan Hugo Lloris mengikuti jejaknya. Namun, peran terbesar dalam revolusi sepak bola ini sepenuhnya berasal dari pengaruh Messi sendiri.
Dengan hat-trick ini, Messi menjadi pemain aktif pertama di liga Amerika yang mencetak “hat-trick” dalam sejarah Piala Dunia, menambahkan pencapaian unik ke dalam daftar panjang gelar dan rekornya. Pencapaian ini bukan hanya bersifat pribadi, tetapi juga membawa pesan kuat mengenai level dan nilai liga yang diwakilinya.
Kini, sang kapten Tango dihadapkan pada dua tugas besar: Yang pertama, memimpin Argentina untuk mempertahankan gelarnya di apa yang mungkin menjadi turnamen internasional besar terakhirnya, di mana ia akan menghadapi dua pertandingan di babak penyisihan grup melawan Austria dan Yordania sebelum melaju ke babak gugur; dan yang kedua, terus menciptakan kejayaan bersama Inter Miami, tim yang telah berubah menjadi kekuatan yang tangguh sejak ia bergabung.
