OLEH ANUGERAH PAMUJIIkuti di twitter
Dalam 12 bulan terakhir, Napoli menjelma menjadi tim terbaik di Serie A Italia. Menurut hitungan satu tahun kalender 2017, Partenopei telah mengeruk 99 poin - enam angka mengungguli Juventus - dan mencetak 96 gol.
Rekor ini jadi yang terbaik di antara seluruh tim Italia sejak 1952.
Mereka pun menyandang gelar juara non-resmi: 'campione d'inverno' atau juara paruh musim dengan catatan spesial sebagai satu-satunya di antara seluruh tim dari lima liga top Eropa yang belum terkalahkan dalam laga tandangnya.
Pertanyaan yang kemudian muncul: mampukah kali ini Napoli menuntaskan dahaga puasa gelar sejak era keemasan Diego Maradona pada musim 1989/90? Prestasi tertinggi kubu Naples di Serie A setelah kejayaan Maradona berakhir hanya sebatas juara setengah musim.
Menurut catatan historis yang dihimpun Il Mattino, lebih dari 68 persen tim yang menyabet status 'campione d'inverno' pada akhirnya keluar sebagai perengkuh Scudetto. Sepuluh dari 11 juara musim dingin terakhir, mereka berhasil berdiri di podium juara saat musim berakhir.
Menariknya, satu-satunya tim yang "menodai" tren 'campione d'inverno' di atas adalah Napoli sendiri! Ketergelinciran itu terjadi dua tahun silam, kala Maurizio Sarri melakoni musim debut bersama Partenopei. Sempat menciptakan gap dua poin dari Juventus setelah 19 pertandingan, Napoli harus puas tertinggal defisit sembilan poin di pengujung 2015/16.

Sarri menyadari, skenario itu berpotensi kembali terulang. Makanya, sang juru taktik enggan terburu-buru meluapkan keyakinannya soal probabilitas timnya mendulang Scudetto 2017/18. Baginya, Napoli tak ubahnya underdog dalam pacuan Scudetto. "Kami tahu, ada tim-tim yang lebih kuat dibandingkan dengan kami," ujar Sarri di awal 2018.
Harus diakui, Napoli memang tidak memiliki kedalaman SDM layaknya yang dimiliki Juventus. Aktualnya, bisa dilihat saat Gonzalo Higuain di landa penampilan inkonsisten di lini depan, sang jawara bertahan masih memiliki Paulo Dybala yang kerap menghadirkan momen magis. Misalnya, saat Dybala mencetak gol penentu kemenangan di 20 menit terakhir menghadapi Hellas Verona, yang berakhir skor 3-1, di tengah kebuntuan Higuain.
Kontras dengan Napoli yang tak mempunyai banyak alternatif ketika manuver Lorenzo Insigne terhenti di pengujung November silam akibat kombinasi cedera dan kelelahan. Belum lagi problematika cedera lutut parah yang dialami striker Arakdiusz Milik, yang diperkirakan masih butuh pemulihan sampai beberapa bulan ke depan. Fakta ini boleh jadi bakal mendorong Napoli berbelanja di jendela transfer Januari.
Namun, bila kembali mengingat apresiasi dari seorang Pep Guardiola, manajer pengusung permainan sepakbola cantik, yang mengatakan bahwa "Napoli merupakan tim dengan permainan sepakbola terbaik di Italia", ada rasa optimisme yang berbeda dibandingkan episode pilu dua tahun lalu.

Getty ImagesMencermati lebih dalam, Napoli berbeda dari seluruh kontestan Serie A, di mana statistik mencatat bahwa mereka jadi satu-satunya tim yang merata ke seluruh pemain dalam urusan mencetak gol alias tidak tergantung pada satu figur tertentu, serta mereka juga adalah tim yang paling sedikit kebobolan sepanjang musim ini.
Tengok saat Insigne membuntu, Dries Mertens atau Jose Callejon kesulitan mengembangkan permainan, Napoli tak serta merta gagal mencetak gol. Marek Hamsik sanggup melapisi kefrustrasian lini depan tim. Contohnya saat sang kapten mencetak gol tunggal di laga Napoli-Crotone yang berakhir kemenangan 1-0 di awal tahun baru.
Tantangan terberat Hamsik cs di 2018 adalah mereplikasi penampian brilian di paruh pertama musim. Bila hal ini bisa diaktualisasikan, bukan mustahil Napoli bisa menghimpun 96 poin di akhir musim. Hanya satu tim yang sukses melebihi perolehan itu dalam satu dekade terakhir, yakni Juventus era Antonio Conte di musim 2013/14.
Si Langit Biru sedang melangit dengan duduk di singgasana klasemen sementara Serie A, memegang keunggulan satu poin dari rival terdekatnya, Juventus. Paruh kedua musim masih terbentang panjang dan konsistensi Napoli akan diuji. 'Campione d'inverno' dua tahun lalu benar-benar jadi evaluasi dan seharusnya kegetiran serupa tak boleh terulang.
