Kepergian Henk Wullems untuk selamanya meninggalkan duka yang mendalam bagi insan sepakbola Indonesia. Dua striker legendaris Indonesia yang pernah bekerja sama dengan Henk, yakni Kurniawan Dwi Yulianto dan Peri Sandria mengaku terpukul mendengar kabar meninggalnya Henk yang pernah menjadi pelatih.
Kurniawan yang kini menjadi pelatih kepala Sabah FA (Malaysia) mengaku pernah punya momen khusus dengan Henk saat masih memperkuat tim nasional pada 1997. Henk yang kala itu menjadi pelatih kepala timnas Indonesia, diakui Kurniawan pernah memberikan motivasi lebih saat Kurniawan sempat gagal terpilih ke dalam skuad SEA Games 1997.
"Pernah saya tidak terpanggil tapi saya ingat pesan dia yang selalu menanamkan kerja keras akan menuai hasil yang baik. Terbukti, saya sempat tidak terpanggil skuad SEA Games 1997 tapi akhirnya dipanggil berkat kerja keras dan suntikan motivasi dari dia," ujar Kurniawan.
Kerja sama Kurniawan dan Henk tidak hanya terjadi di tim nasional saja. Pada tahun 2000, Kurniawan kembali bekerja sama dengan Henk di PSM Makassar yang di mana berhasil menjadi kampiun Liga Indonesia. Kala itu, hubungan keduanya adalah antara pemain dan direktur teknik.
GoalKurniawan pun terkenang dengan karakter kepelatihan Henk yang kini ia terapkan dalam kariernya sebagai pelatih kepala. Bagi Kurniawan, Henk adalah sosok yang punya banyak andil dalam karier sepakbolanya.
"Henk adalah pelatih yang tegas, disiplin tapi juga humoris, punya pendekatan yang baik pada pemain. Ia juga pelatih yang berapi-api sehingga bisa melecutkan semangat bermain. Tentunya saya merasa kehilangan sosok Henk Wullems," cerita Kurniawan.
Hampir senada dengan Kurniawan, Peri Sandria yang pernah bekerja sama dengan Henk di Bandung Raya pada musim 1995/96 juga menilai Henk adalah sosok spesial. Di mata Peri, Henk adalah seorang pelatih yang punya cara unik dalam hal pendekatan dengan pemain.
Peri mengaku jika Henk merupakan tipikal pelatih yang membebankan tanggung jawab pemain kepada pemain itu sendiri. Dalam pengakuan Peri, Henk adalah pelatih yang membebaskan pemain melakukan apa saja asalkan saat bermain mampu bermain lebih dari 100 persen.
"Kita pasti kehilangan sosok Henk. Saya tidak pernah lupa, kami nyaman kemudian dia orangnya terbuka di luar, dan di dalam lapangan. Saat di luar lapangan, kami sampai minum-minum pun sama-sama dengan beliau. Dia pernah bilang pada saya bahwa minum, merokok, dan tidak tidur itu urusan masing-masing tapi yang penting di lapangan dia menuntut bisa tampil lebih dari seratus persen," kenang Peri.
"Bagi Henk, dia sangat percaya pada saya. Satu hal yang paling penting dia mengingatkan untuk tugas saya yakni membuat gol sebanyak-banyaknya, itu saja. Maka dari itu, saya nyaman dengan dia," lanjutnya.
Keluwesan Henk di luar lapangan juga diakui Peri terbawa ke dalam lapangan. Peri menilai jika Henk adalah pelatih yang tidak miskin taktik dan sangat cerdas dalam menentukan komposisi pemain.
IstimewaSebagai pelatih asal Belanda, Henk tentunya memiliki filosofi TotalFootball seperti yang dianut kebanyak pelatih asal negara Johan Cruyff tersebut. Akan tetapi menurut Peri, Henk justru tidak menerapkan dan memaksakan TotalFootball untuk Peri dan rekan-rekannya saat masih sama-sama memperkuat Bandung Raya.
"Bermain bola bagi Henk itu harus rapi karena jika kerja tidak rapi tidak menunjukkan kerja sama tim dan soal gol adalah nomor dua karena jika bermain rapi, gol akan mengikuti," kata Peri.
"Soal gaya bermain, tidak mentang-mentang Henk orang Belanda kemudian dia mengadaptasi TotalFootball seratus persen. Henk mau menyesuaikan dengan gaya yang ada di Indonesia. Dia juga cerdas mampu memodifikasi pemain muda dan tua. Keluwesan dan kecairan dia tidak hanya di luar lapangan tapi juga di dalam lapangan," papar Peri menambahkan.
Bersama Henk, Peri pernah membawa Bandung Raya menjadi kampiun Liga Indonesia 1995/96. Pemain tersubur Liga Indonesia edisi pertama itu pun mampu menjelma menjadi bomber lokal yang disegani saat ditangani Henk Wullems pada medio 1990-an.
