Mengejar Bayang-Bayang Kazimierz Deyna

Komentar()
Getty
Gol indah Kazimierz Deyna ke gawang Portugal empat dasawarsa silam menjadi simbol kebesaran sepakbola Polandia di masa lalu.

Di antara banyaknya tim kuda hitam yang meramaikan Euro 2016, aktor terkenal Russell Crowe punya jawaban menarik. Setelah Polandia mampu menahan imbang Jerman tanpa gol di laga kedua Grup C, Crowe berkicau, "Saya suka tim ini, underdog sejati, tampak seperti tim yang kompak." Crowe merujuk pada Polandia, tentu saja. 

Kicauan itu disambut positif masyarakat Polandia. Crowe seolah menjadi duta tak resmi suporter Biale Orly selama Euro 2016 berlangsung. Aktor asal Australia ini mengikuti perkembangan turnamen dan sesekali berkicau tentang hasil pertandingan, tetapi dukungannya kepada Polandia sangat kentara.

Hingga tulisan ini dibuat, Crowe belum berkicau apa-apa menyambut pertemuan Polandia dengan Portugal di babak perempat-final, Kamis (30/6) malam. Kekuatan kedua tim terbilang seimbang. Polandia hanya mampu mencetak satu gol dalam 90 menit pertandingan sepanjang turnamen ini; sementara, Portugal tidak mampu menang di waktu normal pertandingan. Siapa yang bakal jadi pemenang?

Sebelum laga di Stade Velodrome itu dipentaskan, kedua negara telah sepuluh kali bertemu. Rekornya relatif seimbang. Polandia menang tiga kali, Portugal empat, dan sisanya berakhir imbang. Di ajang turnamen besar, Polandia pernah menelan kekalahan memalukan 4-0 dari Portugal di Piala Dunia 2002. Namun, Polandia juga pernah meraih kemenangan penting 1-0 atas Portugal untuk melangkah lolos ke babak gugur Piala Dunia 1986.

Pertemuan pertama kedua tim diawali di kualifikasi Piala Dunia 1978. Polandia mengalahkan Portugal 2-0 di Porto dan pada pertemuan kedua di Chorzow, Polandia memastikan langkah ke putaran final dengan hasil imbang 1-1. Sebuah momen penting terjadi pada pertandingan itu.

Namanya Kazimierz Deyna. Putra seorang pekerja peternakan, dia menekuni sepakbola di kota kelahirannya di utara Polandia, dan pada usia 19 tahun dipanggil masuk militer yang otomatis mengharuskannya membela Legia Warsawa -- klub militer yang memiliki hubungan erat dengan rezim pemerintahan komunis di Polandia.

Sebutlah nama Deyna dengan lantang karena namanya mewakili periode keemasan sepakbola Polandia di era 1970-an. Deyna, 25 tahun, mengantarkan Polandia merebut medali emas Olimpiade Munich 1972. Di final, Deyna memborong dua gol kemenangan saat Polandia mengatasi Hongaria, 2-1. Deyna mengoleksi sembilan gol dan menjadi pengumpul gol terbanyak di Olimpiade itu.

Pemain yang biasanya disapa "Kaka" atau "Kazi" ini menjadi kapten Polandia di Piala Dunia 1974. Ditangani pelatih legendaris Kazimierz Gorski, Deyna bersama Grzegorz Lato, Henryk Kasperczak, Wladyslaw Zmuda dkk meraih prestasi tertinggi Polandia sepanjang partisipasi di Piala Dunia, yaitu medali perunggu. Banyak yang meyakini, jika laga menentukan melawan tuan rumah Jerman Barat tidak dirundung hujan deras, Polandia yang akan berhadapan dengan Belanda di babak puncak. 

Pasalnya, genangan air di lapangan menghambat permainan cepat Polandia yang menjadi gaya bermain khas Deyna dkk. Polandia menjadi salah satu tim kreatif yang tampil menghibur di Piala Dunia 1974. Lato berhasil menjadi topskor dengan tujuh gol dan Zmuda menjadi pemain muda terbaik turnamen, tapi tidak ada yang bisa mengesampingkan Deyna sebagai playmaker tak tergantikan dalam skuat Polandia.

Untuk kali pertama Polandia berhasil melaju ke babak delapan besar Euro.

Deyna merupakan pemain dengan tendangan terukur, umpan ajaib, dan keterampilan menggiring bola yang mumpuni. Kemampuannya kian diakui dengan menempati peringkat ketiga penghargaan Ballon d'Or 1974 -- hanya kalah dari Johan Cruyff dan Franz Beckenbauer. Real Madrid menginginkannya dan mengirimkan kaus bertuliskan namanya ke Legia untuk membuka pintu negosiasi transfer, tapi rezim pemerintahan komunis mencegahnya pergi.

Momen abadi penampilan emas Deyna bersama Polandia terjadi pada pertandingan melawan Portugal, 29 Oktober 1977. Hanya berselang enam hari dari ulang tahunnya ke-30, Deyna mencetak gol yang tak terlupakan. Polandia mendapat tendangan penjuru pada menit ke-28 dan Deyna berjalan menghampiri sudut lapangan. Dengan sedikit aba-aba, Deyna menendang bola. Laju bola melengkung dan langsung bersarang di dalam gawang lawan!

Momen itu terekam dalam kenangan kolektif masyarakat Polandia tentang kebesaran sepakbola negara mereka. Budaya populer ikut melestarikan legenda itu. Olympic goal Deyna itu menjadi latar cerita film "Być jak Kazimierz Deyna" -- "Being Kazimierz Deyna" -- tahun 2012. Film bercerita tentang kelahiran seorang anak tepat saat Deyna mencetak gol dan tidak didampingi sang ayah yang memilih menonton pertandingan di pub.

Gol Deyna ke gawang Portugal telah meraih status sebagai simbol abadi kebesaran generasi emas Polandia yang terpilih di antara banyak momen bersejarah lain. "Bukan final Olimpiade 1972, kemenangan atas Inggris di Wembley tahun 1973, laga hujan lebat melawan Jerman Barat 1974, maupun laga dramatis melawan Argentina 1982," bilang penulis Radoslaw Nawrot. 

Deyna akhirnya baru benar-benar hijrah empat tahun kemudian ke Manchester City setelah media Inggris mengamati penampilannya di Piala Dunia 1978. Negosiasi dilakukan dengan atasan militer Deyna dan Legia. Kesepakatan pun tercapai. The Citizens mengeluarkan biaya sebesar £100 ribu dalam bentuk perlengkapan medis, perangkat elektronik, mesin fotokopi, dan dolar AS ke Legia untuk mendapatkan Deyna.

Deyna menghabiskan tiga musim bersama City, lebih banyak berkutat dengan cedera, sebelum berkiprah di liga sepakbola Amerika Serikat hingga tutup usia pada 1989 akibat kecelakaan mobil. Pada 1994, Deyna dinobatkan sebagai pemain terbaik Polandia sepanjang masa.

"Kalau boleh memilih, saya ingin bisa meninggalkan Polandia tiga tahun lebih awal, tapi itu tidak mungkin. Kami harus mematuhi peraturan bahwa pemain baru boleh pergi saat mendekati usia 30 tahun," ujar sang legenda suatu ketika.

Robert Lewandowski. Topskor babak kualifikasi, masih mandul di putaran final.

Polandia mengalami penurunan signifikan pada dasawarsa 1980-an. Mereka masih mampu merebut medali perak Olimpiade 1976 dan medali perunggu Piala Dunia 1982, tetapi pelan-pelan tersingkir dari percaturan sepakbola top dunia. Sebelum 2002, Polandia tiga kali absen beruntun di Piala Dunia. Di putaran final Euro, Polandia baru mencatat partisipasi pertama pada 2008.

Partisipasi kedua Euro Polandia terjadi pada 2012 saat menjadi tuan rumah bersama Ukraina. Saat itu, Polandia merupakan tim dengan peringkat paling rendah di antara 16 tim peserta lain. Dalam enam penampilan di fase grup 2008 dan 2012, Polandia tak pernah mampu memetik kemenangan serta hanya mampu mencetak tiga gol. Di luar lapangan, sepakbola Polandia diguncang pula dengan skandal korupsi asosiasi sepakbola mereka (PZPN) dan sentimen pemain berdarah asing yang memperkuat timnas.

Berbeda dengan dua penampilan terdahulu, optimisme menyertai penampilan Polandia di Euro 2016. Si Putih-Merah berhasil melangkah ke babak delapan besar dengan rekor dua kali kemenangan, dua kali imbang, dan hanya kebobolan sekali. Problem mereka terletak di sektor depan karena hanya mampu tiga kali membobol gawang lawan. Striker bintang Bayern Munich, Robert Lewandowski, yang diharapkan bersinar belum mencetak gol sama sekali.

Dengan babak perempat-final di depan mata, pelatih Adam Nawalka sedang mengejar bayang-bayang Deyna. Masyarakat Polandia berharap kejayaan era Deyna dan Gorski berulang. Bahkan mungkin dilampaui oleh Lewandowski dan Nawalka. Bukan kebetulan jika Nawalka pernah secara langsung menyerap ilmu dari Deyna.

Selain memiliki tanggal ulang tahun yang sama, Nawalka pernah bermain bersama Deyna di Piala Dunia 1978. Ketika itu karier Nawalka, baru berusia 20 tahun, tengah melejit dengan menjadi bagian skuat inti Polandia bersama Zbigniew Boniek, Zmuda, dan Deyna. Sayangnya, karier top Nawalka berhenti di usia 27 tahun akibat deraan cedera.

Pelatih Adam Nawalka memimpin Polandia lolos ke Euro 2016.

Seperti Deyna, Nawalka menghabiskan sisa karier di Amerika Serikat. Nawalka kemudian menekuni karier kepelatihan sampai akhirnya diminta Boniek menangani timnas, Oktober 2013 lalu. 

"Nawalka seorang yang perfeksionis. Saya jamin dia seseorang yang memiliki impian untuk mencapai sukses, bukan orang yang hanya ingin mengantungi jaminan pensiun," ungkap Boniek, selaku presiden PZPN, memberi alasan penunjukan sang pelatih.

Sesuai janji sang presiden asosiasi, Nawalka yang workaholic berhasil membawa Polandia lolos ke Euro 2016 dengan rekor meyakinkan -- salah satunya dengan mengalahkan Jerman 2-0, kemenangan pertama dalam sejarah pertemuan mereka.

Polandia, kereta bertenaga uap yang tampil kolektif.

Berbeda dengan generasi emas Deyna, Polandia sekarang sangat mengutamakan kolektivitas permainan. Nawalka mengandalkan kekompakan Kamil Glik dan Michal Pazdan sebagai duet bek sentral. Jika keduanya dilewati lawan, keterampilan dan refleks Lukasz Fabianski dapat diandalkan. Sebagai jaminan pertahanan yang stabil, Grzegorz Krychowiak dan Tomasz Jodlowiec, dimainkan sebagai poros kembar di tengah.

Polandia menumpukan kreativitas serangan pada pemain sayap seperti Jakub Blaszczykowski, Kamil Grosicki, maupun pemain 19 tahun, Bartosz Kapustka, untuk menyuplai umpan kepada duet Lewandowski dan Arek Milik. Bagi Nawalka, tim yang ditanganinya selayaknya sebuah kereta bertenaga uap.

"Fakta bahwa Lewandowski belum mencetak gol bukanlah masalah bagi tim kami. Robert telah bekerja keras, dia punya pengaruh besar terhadap tim, dan cara bermain kami. Dia sangat penting buat kami, seperti lokomotif untuk tim," ujar sang pelatih.

Kamis esok, kereta uap Nawalka berjuang untuk menulis sejarah baru yang rasanya takkan cukup jika hanya dituangkan melalui akun Twitter milik Russell Crowe.

 

Tutup