Setelah melalui berbagai spekulasi, transfer akhirnya terlaksana dan Kai Havertz sekarang resmi pemain Chelsea.
The Blues telah membayar £70 juta ($91 juta) termasuk biaya tambahan untuk mengakuisisi playmaker muda Bayer Leverkusen itu.
Uang ekstra itu akan terpenuhi jika Havertz tampil apik setelah mengamankan kepindahannya ke Stamford Bridge, dan selagi semua tanda awalnya menunjukkan bahwa pemain 21 tahun itu akan sukses di Liga Primer, masih ada pertanyaan tentang peran yang bakal ia mainkan di tim arahan Frank Lampard.
"Havertz mencetak gol dengan kaki kiri, kaki kanan dan kepalanya," kata mantan direktur pelaksana Leverkusen Reiner Calmund kepada Goal. "Itu adalah kualitas yang luar biasa untuk dimiliki. Dia juga serbabisa, bugar, secara teknis kuat dan cepat. Dia adalah bakat yang luar biasa."
Keserbagunaan itu akan menjadi kunci sebagaimana Lampard mendatangkan banyak talenta pada musim panas yang membuat The Blues menghabiskan £206 juta ($272 juta) untuk pemain baru.
Mantan manajer Derby County itu sudah memiliki pemain seperti Timo Werner, Hakim Ziyech, Tammy Abraham, Christian Pulisic, Mason Mount, Callum Hudson-Odoi dan Olivier Giroud dalam lini serang sebelum kedatangan Havertz, dan dengan demikian mencari kombinasi yang tepat akan menjadi kunci Chelsea untuk merebut trofi pada 2020/21.
Havertz menikmati kesuksesan paling besar sebagai nomor 10 atau second striker dalam sistem 4-2-3-1 atau 4-4-1-1, meskipun tidak ada formasi yang menjadi andalan Lampard sejak ia mengambil kendali di London barat.
Sosok berusia 42 tahun itu cenderung menggunakan formasi 4-3-3 atau 3-4-3 selama musim pertamanya kemarin, yang berarti Havertz kemungkinan harus puas bermain dalam peran yang sedikit kurang familiar.
GoalSatu opsi memungkinkan Havertz ditempatkan di sisi kiri dalam skema tiga penyerang, meskipun itu jelas bahwa dua pemain seperti Pulisic, Ziyech dan Hudson-Odoi terpaksa diparkir.
Jika Lampard memilih untuk memainkan susunan barunya dalam peran yang ‘advance’, formasinya kemungkinan akan 3-4-3 dan mengandalkan bek sayap, dengan naluri menyerang dari sesama pemain baru Ben Chilwell memungkinkan Havertz untuk merangsek ke dalam dan bermain lebih dekat ke gawang daripada melebar.
Itu adalah peran yang dilakukan Mount pada musim lalu, dan Havertz menunjukkan selama musim terakhirnya di Bundesliga bahwa dia memiliki naluri menyerang untuk menjadi bagian dari lini depan.
Dia mencetak 18 gol di semua kompetisi untuk tim Peter Bosz dan mengungguli ‘expected goals’ (xG) di liga dengan nilai 2,85, yang menunjukkan dia mencetak gol dari sejumlah peluang sulit.
Havertz juga memiliki rasio konversi tembakan di angka 20,3 persen di Bundesliga, dan tidak ada penyerang sayap Chelsea saat ini yang lebih produktif dari itu pada 2019/20. Christian Pulisic mencetak sembilan gol liga, dengan 14,3 persen dari tembakannya berbuah gol selama kampanye perdananya di Liga Primer.
Begitu impresifnya Havertz di sepertiga akhir sehingga Bosz bahkan bereksperimen dengan memainkannya sebagai 'false nine' seusai lockdown akibat pandemi; Sebuah langkah yang memungkinkan anak muda itu memanfaatkan tingginya untuk memenangkan penguasaan bola di udara serta terus mendatangkan malapetaka lewat bola di kakinya.
Itu tidak mungkin ditiru oleh Lampard dengan Werner, Abraham, dan Giroud, dan peran yang lebih dalam untuk Havertz mungkin bisa terjadi.
GoalBermain di sisi kiri dari tiga gelandang sebagai salah satu dari dua pemain No. 8 akan memberi kesempatan Havertz untuk terus mempengaruhi permainan di sepertiga akhir, meskipun ia juga akan diminta untuk melakukan tugas yang lebih defensif.
Menjelang akhir musim lalu Lampard mulai memainkan N'Golo Kante sebagai gelandang bertahan utamanya, dan kemampuan pemain internasional Prancis itu dalam memenangkan penguasaan bola memungkinkan Havertz sedikit lebih bebas.
Memiliki pemain muda di lini tengah juga akan memungkinkan Lampard untuk kembali ke posisi empat bek, yang pada gilirannya berarti dia akan lebih cenderung memilih Pulisic sebagai bagian dari tiga penyerang.
Lampard enggan memainkan bintang Amerika Serikat itu ketika memakai bek sayap, dengan merasa bahwa memiliki pemain seperti Marcos Alonso di sayap akan memaksa Pulisic terlalu jauh ke dalam mengingat dia berada di kondisi terbaiknya ketika mengisolasi full-back lawan.
GoalSatu opsi lebih lanjut adalah mengambil inspirasi dari RB Leipzig dan Ajax, dan memasukkan Havertz ke dalam sistem 4-2-2-2 yang sudah dikenal oleh Werner dan Ziyech.
Dalam formasi seperti itu, Havertz akan bermain sebagai salah satu dari dua gelandang serang di belakang sepasang penyerang, dengan bek sayap diandalkan untuk memberikan umpan melebar.
Itu lagi-lagi akan membuat pemain seperti Pulisic dan Hudson-Odoi terpinggirkan, dan sekarang tampaknya opsi untuk mengerahkan Havertz di lini tengah adalah yang paling masuk akal bagi tim yang kemungkinan akan bermain menghibur selama sembilan bulan ke depan.
Ada alasan mengapa sejumlah klub dari seluruh penjuru Eropa iri dengan belanja musim panas Chelsea, dan keberhasilan merekrut Havertz hanya akan membuat kekhawatiran mereka bertambah.
Chelsea sekarang memiliki penyerang serbaguna kelas dunia yang mereka dambakan sejak Eden Hazard pergi. Tugas mereka kini adalah mencari tahu di posisi mana dia akan menimbulkan kerusakan paling parah.


