Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Evonik Marco Reus

Marco Reus - Kisah Perjalanan Ikon BVB Menjadi Legenda Klub Seperti Michael Zorc

Hitam dan Kuning. Dua warna ini adalah darah dan daging Dortmund, sebuah kota di Jerman tepatnya di wilayah North Rhine-Westphalia, dikenal secara mendunia sebagai rumah Die Schwarzgelben (The Black and Yellows) atau lebih populer lagi, Borussia Dortmund. 

Markas mereka, Signal Iduna Park, adalah keajaiban stadion - perpaduan sempurna antara beton dan baja dan tentu saja dibalut warna hitam dan kuning. 

Pada hari pertandingan, Sudtribune (Tribun Selatan) menciptakan Tembok Kuning raksasa, satu area tribun dengan 25.000 fans yang menimbulkan rasa takut dan kecemasan pada lawan melalui suaranya yang menggelegar dan dukungan besar sepanjang 90 menit pertandingan. 

Dan bukan lagi kejutan jika kita melihat legenda klub seperti Marco Reus, figur asli Dortmund, mengungkap bagaimana BVB telah ada di pikiran semua orang di masa kecilnya. 

"Apa yang kami semua pikirkan adalah hitam dan kuning," jelas bintang Jerman tersebut. 

Ayah Reus adalah pelatih klub lokal Post SV dan dia mulai mendapat arahan sebagai pesepakbola di usia lima sebagai bek. Tetapi tidak lama kemudian, insting menyerangnya yang lebih berkembang lalu dia mulai bermain lebih ke depan. 

Setelah dua tahun pada 1996, datanglah 'tawaran' itu dan Reus mengamankan satu tempat di tim muda F Borussia Dortmund. 

"Tidak pernah terlintas sedikitpun jika 10 atau lima belas tahun kemudian saya ingin bermain di stadion, dan itu memang terlalu dini. Waktu itu saya hanya berpikir datang berlatih mengenakan lambang BVB, bepergian melihat pertandingan, dan itu sudah sangat berarti," kenang kapten Borussia Dortmund ini. 

Selama 10 tahun, dia bermain di sejumlah posisi untuk tim junior Dortmund hingga pergi ke tim Rot Weiss Ahlen U-19 pada musim panas 2006 demi mendapat kesempatan bermain yang lebih banyak. 

Akan tetapi setelah satu musim sensasional bersama tim rival Borussia Monchenglandbach, pemain timnas Jerman ini pada akhirnya kembali ke pelukan Dortmund pada kesempatan pertama di 2012. 

Evonik Marco Reus

Di konferensi pers pertama, dia ditemani oleh Michael Zorc, figur mitos lainnya dalam sejarah sepakbola kota Dortmund. 

Zorc juga menyebut Dortmund sebagai 'rumahnya' dan dia tidak pernah membela klub lain kecuali Der BVB. 

"Borussia Dortmund adalah klub dan kota saya. Kami semua dewasa di sini dan menikmati kehidupan lokal. Teman dan keluarga saya di sini, istri saya dari Dortmund," tegas sosok yang sudah dikaitkan dengan klub lebih dari empat dekade tersebut; pemain pertama yang kemudian menjadi direktur olahraga. 

Tahun paling sukses Zorc dengan jersey kuning tercipta di senja karier, ketika itu Dortmund dua kali merajai sepakbola Jerman, juara Liga Champions 1996/97 dan berjaya di Piala Interkontinental di musim yang sama. 

"Dia adalah legenda," tutur Reus memperlihatkan kekagumannya terhadap sosok yang selalu membimbingnya tersebut. 

Perbedaan utama antara Zorc dan Reus adalah keputusan soal meninggalkan klub dan bergabung ke Rot Weisss Ahlen demi menit bermain, sesuatu yang disesalkan oleh sang supremo BVB hingga detik ini. 

"Mereka mengatakan tidak mau melepasnya, dia tidak bahagia dengan menit bermain. Sungguh disesalkan harus terjadi seperti itu. Bukan karena kami harus membelinya dari Gladbach dengan harga mahal, tetapi saya lebih suka melihatnya mengikuti jejak saya."

Meskipun punya catatan seperti itu, Reus tetap dicintai oleh para loyalis Dortmund seperti mereka mencintai Zorc. Ada sejumlah tim-tim besar menyodorkan tawaran dengan mahar selangit, namun Reus selalu memilih cinta sejati yang telah mengubah kehidupannya sejak di usia tujuh.

Sayang kegemilangannya bersama Borussia harus diganggu cedera. 

Dia bahkan terpaksa menarik diri dari skuad Jerman yang merajai Piala Dunia 2014 karena cedera engkel di laga pemanasan lawan Armenia yang dimenangkan dengan skor 6-1 dan sejak saat itu cedera kerap menghampiri. 

Meski demikian, Reus selalu mampu bangkit dan membungkam semua peragu dengan sederet penampilan impresif. 

Pada 24 November 2016, dia merumput lagi setelah 185 hari absen karena cedera abductor yang didapat ketika berlaga di final Piala Jerman pada Mei 2016, dan dia membawa pulang bola pertandingan (meskipun gol ketiga pertandingan pada akhirnya dinyatakan gol bunuh diri) setelah terlibat dalam duel kemenangan 8-4 lawan Legia Warsaw di Liga Champions. 

"Tentu, situasinya selalu semakin sulit, kami tidak ingin membicarakannya. Cedera, tidak peduli jenisnya selalu menghadirkan kemunduran, terutama cedera serius. Tetapi pada satu titik, Anda harus menyikapinya dengan pikiran positif."

Pada musim 2019/20, Reus lagi-lagi melewatkan 14 pertandingan terakhir Dortmund karena masalah kebugaran, namun sejatinya pandemi virus corona menghadirkan lebih banyak kecemasan bagi sang pesepakbola karena dampaknya yang dahsyat terhadap penduduk Dortmund. 

Bisnis rumahan mengalami kerugian besar akibat dari pembatasan Covid-19 dan hampir mematikan banyak usaha kecil dan menengah. 

"Saya dan istri duduk bersama dan berpikir apa yang bisa kami lakukan. Lalu ada ide untuk merancang 'Help your Hometown' - untuk membantu perusahaan-perusaan kecil-menengah melewati periode sulit. 

Sejumlah pub dan tempat makan diuntungkan berkat inisiatif ini dan Reus berharap dapat meningkatkan investasi demi mencegah banyaknya perusaan yang bangkrut. 

Marco Reus Evonik

Pandemi ini juga berdampak buruk terhadap jadwal sepakbola sehingga tim-tim di lima liga top Eropa harus bermain di tengah jadwal yang padat dan itu berarti mereka bakal menghabiskan banyak waktu di perjalanan ketimbang bersama keluarga. 

Meskipun Reus dan Zorc menentang jadwal padat, mereka juga menerimanya sebagai jalan hidup. 

"Jelas tidak menyenangkan. Jika Anda jarang di rumah di empat bulan terakhir dalam satu tahun, tidak bertemu istri dan anak perempuan, itu jelas tidak menyenangkan. Tetapi pada dasarnya kami jadi terbiasa secara permanen berada di luar, dan itulah yang biasanya terjadi, terutama dalam beberapa bulan ke depan. Memang begitulah adanya. Kami harus menerima itu dan tidak seorangpun dapat mengeluh," tegas Reus. 

Sementara itu bagi Zorc, namanya telah identik dengan klub dan dia lebih senang bepergian dengan tim ketimbang membuang-buang waktu.

"Saya selalu memperhatikan jadwal, termasuk apa yang harus dilakukan, kebiasaan, dan itu cara saya hidup selama ini. Untuk orang 'normal', kehidupan sangat berbeda. Ketika level adrenalin mereka menurun pada Jumat sore, bagi kami justru meningkat. Tidak ada akhir pekan."

"Saya telah menghabiskan lebih banyak waktu bersama klub ketimbang dengan orang-orang di sekitar saya, mungkin dengan pengecualian keluarga dekat. Setelah saya gantung sepatu, saya mengambil karier yang berbeda jika dibandingkan dengan orang lain - yang mungkin lebih masuk akal - yang memilih beristirahat dulu lalu menemukan jalan lain."

Zorc sadar betul, menghadirkan wajah baru ke klub selalu baik, tetapi virus corona telah membuatnya menambah kontrak satu tahun hingga 2022 karena keengganannya meninggalkan BVB yang tercinta di tengah-tengah ketidakpastian global. 

Selama ini Zorc selalu setia bersama klub di situasi apapun, entah dalam krisis finansial, krisis olahraga atau serangan bom, dan dia siap menyertai klub melewati pandemi sebelum pensiun. 

Jika Zorc siap menghadapi tantangan di luar lapangan, hal serupa bakal dihadapi oleh Reus di atas lapangan. 

Sang penyerang telah mengubur periode cedera lainnya dan siap bermain habis-habisan. Dortmund butuh kapten mereka berada dalam kondisi top untuk menantang dominasi Bayern di kancah domestik dan jika kebangkitan itu adalah sebuah seni, maka Reus adalah Picasso dalam hal tersebut.

SUKA CERITA INI?

Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

Ikuti GOAL di Google