Farmer’s League/Liga Petani: Istilah bernada menghina untuk liga sepakbola yang tidak memiliki kualitas atau daya saing.
Frasa di atas adalah bunyi ejekan yang makin populer di kalangan fans Liga Primer Inggris yang memandang rendah liga di negara lain di mana para juara tampak sudah terprediksi bahkan sebelum musim dimulai.
Sementara Liga Primer lazim dimulai dengan empat atau lima tim yang diperkirakan menjadi kuda pacu untuk posisi teratas. Sedangkan bagi banyak orang, juara Liga Jerman, Prancis, dan Italia, sudah dapat dengan mudah ditebak.
Misal, siapa pun yang mengunggulkan Bayern Munich, Paris Saint-Germain, atau Juventus untuk menjuarai liga masing-masing selama sembilan tahun terakhir bakal benar 90 persen. Sebaliknya di Liga Primer yang memiliki lima pemenang berbeda selama periode tersebut.
Namun, Man City saat ini sedang memimpin dengan gap menganga 11 poin di puncak klasemen sementara. Tentu, Liga Primer berpotensi menjadi “Liga Petani” lainnya.
Skuad Pep Guardiola di trek yang nyaman untuk mengamankan gelar keempat dalam lima musim terakhir. Dominasi City membuat perburuan tiga kuda pacu makin menjauh.
City sukses perpanjang rekor kemenangan beruntun mereka menjadi 12 pertandingan pasca-kemenangan 1-0 atas Chelsea, akhir pekan lalu. The Blues—salah satu klub pesaing juara—bahkan hanya mampu lepaskan satu tembakan tepat sasaran.
Thomas Tuchel mengakui bahwa timnya kesulitan untuk tetap dalam perburuan gelar dan kini tampaknya hanya Liverpool–berjarak 11 poin dengan tabungan satu laga–yang masih menyimpan harapan.
Lantas, apakah papan atas Liga Primer menghadirkan persaingan juara? Apakah pada kenyataannya tidak lebih kompetitif dari Bundesliga atau Ligue 1?
Sebelum menjawabnya, ada baiknya menunjukkan bahwa fans Liga Jerman, Prancis, dan Italia mungkin akan mendebat ejekan tersebut, yang tahu bahwa tim harus berjuang lebih keras untuk meraih gelar ketimbang yang diyakini oleh fans di Inggris.
Bayern telah memenangkan sembilan gelar Bundesliga terakhir, tapi pada musim 2018/19 juara harus ditentukan pada pekan terakhir. Sementara PSG maupun Juve kini masing-masing bukan juara bertahan Prancis atau Italia.
Perlu juga diingat bahwa dominasi lebih merupakan sebuah siklus dan bukan fenomena baru, bahkan di Inggris.
Aston Villa pada 1890-an, Arsenal pada 1930-an, Liverpool pada akhir 70-an dan awal 80-an, serta Manchester United dalam tiga periode pada rentang antara 1992–2011, semuanya memenangkan empat gelar dalam kurun lima tahun.
Aman dikatakan, City sudah tampil luar biasa sejak musim pertama dilatih Guardiola, tapi mereka hampir tidak terlalu jauh memimpin di depan rival mereka. Perburuan gelar dianggap sebagai kesimpulan yang sudah pasti sejak awal musim.
Juara Liga Champions, Chelsea, diperkirakan akan menjadi penantang serius setelah mendatangkan Romelu Lukaku senilai £98 juta. Jorginho dkk juga mampu kalahkan City hingga tiga kali pada musim lalu.
Liverpool juga diproyeksi ada di dua besar. Apalagi dengan kembalinya Virgil van Dijk dari cedera panjang. Sementara Manchester United dianggap penantang lainnya dengan kehadiran Cristiano Ronaldo, Jadon Sancho, dan Raphael Varane.
Getty/GOALSementara performa United menurun drastis, Chelsea dan Liverpool tampak berada di posisi yang tepat untuk mempertahankan status sebagai penantang gelar. Memang, pada 11 Desember lalu, hanya dua poin yang memisahkan The Blues, The Reds, dan City.
Namun yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tidak diharapkan penonton netral. Chelsea hanya memenangkan empat dari 13 pertandingan terakhir mereka di Liga Primer. Sementara kemenangan atas Brentford akhir pekan lalu adalah yang pertama bagi Liverpool dalam empat pertandingan teraktual.
Liverpool saat ini berada di jalur dengan maksimal 81 poin, yang masih berpeluang untuk menjamin dua gelar pada dekade ini. Sedangkan proyeksi total 74 poin Chelsea tidak akan cukup untuk keluar sebagai juara dalam sejarahnya.
Tapi, perburuan gelar masih jauh dari selesai.
Liverpool masih punya satu pertandingan di tangan dan laga tandang ke Stadion Etihad yang, jika menang, akan memangkas jarak menjadi hanya lima poin. Skuad asuhan Jurgen Klopp mesti mengumpulkan kemenangan beruntun untuk bikin City berada di bawah tekanan.
Performa sang juara mungkin menakutkan, tapi mereka masih bisa dikalahkan.
Tanyakan saja pada Crystal Palace, yang menang di Etihad, atau Southampton, Wolves, yang dapat menyalahkan keputusan kontroversial wasit karena gagal melakukan hal yang sama.
Lalu Arsenal, yang tampil lebih baik dalam kekalahan 2-1 pada hari Tahun Baru, atau Leicester, Spurs, dan West Ham, yang semuanya telah mengalahkan City di lintas ajang musim ini.
Getty/GOALTentu saja, City sudah menetapkan standar yang dibutuhkan untuk menjaga gap di posisi teratas.
Jika mereka mampu mencapai proyeksi 97 poin, itu akan menjadi pencapaian kelima kalinya dalam sejarah Liga Primer, yang terjadi dalam lima tahun terakhir [City dua kali dan Liverpool dua kali].
Jelas, Guardiola bakal menerima banyak pujian atas hegemoni City, tapi akan selalu ada pencela yang siap mengecam pencapaian City.
Ketika sampai pada kesuksesan mereka, cepat atau lambat masalah uang akan muncul. Klub kaya umumnya berkutat pada masalah ini.
Tidak beda dengan City. Setelah menghabiskan lebih dari klub manapun sejak Sheikh Mansour mengambil alih pada 2008, sejumlah pemain bintang didatangkan untuk membentuk tim Pep menjadi mesin.
Dalam laga kontra Chelsea, selain lulusan akademi Phil Foden, setiap pemain bernilai lebih dari £35 juta.
Namun, skuad Tuchel hampir tidak dapat dikompilasi dengan uang, lalu dia mengeluh bahwa City telah mengatasi Covid-19 dan cedera dengan lebih baik. Padahal, delapan dari sembilan opsi penggantinya adalah pemain berlabel timnas, sedangkan empat pemain cadangan Guardiola tercatat baru main total tiga menit di Liga Primer.
Jadi, sekuat-kuatnya skuad City, tetap menyisakan lubang. Tapi hebatnya, mereka menjalani musim tanpa striker murni atau bek kiri ortodoks, bahkan hingga menempatkan Joao Cancelo yang mampu tampil oke dalam peran tersebut.
Getty/GOALCity menginginkan Harry Kane pada musim panas, tapi ketika ia dipastikan tidak dilepas Spurs, keputusan dibuat untuk melanjutkan apa yang mereka miliki ketimbang membeli ketidakcocokan.
Keinginan Ronaldo untuk keluar dari Juve membuatnya muncul sebagai opsi, tapi minat City berakhir ketika United maju. The Citizens memutuskan untuk menunggu hingga musim panas 2022 sebelum melakukan pembelian yang jauh lebih masuk akal.
United adalah contoh klub yang telah membuat beberapa kesalahan mahal di bursa transfer dalam beberapa tahun terakhir, paling tidak membayar biaya gila atau upah besar untuk pemain seperti Alexis Sanchez, Harry Maguire. dan Fred – yang semuanya diinginkan oleh City tapi dibatalkan ketika jumlah yang terlibat dalam kesepakatan yang diusulkan meroket.
Tercecer di urutan ketujuh Liga Primer, dengan manajer sementara, dan pemain yang ingin hengkang, United adalah kontra-argumentasi pepatah lama bahwa uang membeli kesuksesan. Mereka adalah bukti bahwa kekuatan finansial hanya menjadi faktor jika Anda mampu membelanjakan uang dengan bijak.
City tentu saja berada di tengah periode emas, tapi sejarah menunjukkan bahwa mereka sangat tidak mungkin bertahan di sana selamanya, terutama mengingat kualitas rival seperti Liverpool dan Chelsea, yang telah memenangkan dua dari tiga Liga Champions terakhir.
Guardiola memang meraih kesuksesan luar biasa bersama Barcelona dan Bayern Munich, tapi ia mungkin sulit membayangkan apa yang diperlukan untuk membuat skuadnya tetap termotivasi untuk menjaga mereka tetap di puncak.
“Untuk menang dan menang, di negara ini, di liga ini, ini adalah gelar terbaik yang saya miliki dan yang terbaik yang akan saya miliki ketika saya pergi,” ucap Pep selepas kemenangan atas Chelsea.
Sejauh menyangkut Guardiola, Liga Primer jelas bukan Liga Petani. City hanyalah satu potongan di atas sejumlah rival berkualitas tinggi yang ada saat ini.
