Bukan sang pelatih Lionel Scaloni yang diangkat-angkat selepas peluit panjang di Rio de Janeiro. Para pemain dan staf Argentina justru mengangkat-angkat sang kapten Lionel Messi.
Semua pemain dan orang-orang yang bekerja untuk timnas mafhum, hari ini bakal jadi hari bersejarah bagi Messi. Hari yang akan menyenangkan hati sang megabintang sampai kapan pun.
Bersamaan dengan itu, tuntas pula perdebatan siapa sosok GOAT sejati yang melibatkan duo 'alien' lapangan hijau, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, seiring nama pertama berhasil membawa Argentina berdiri di podium juara Copa America edisi sekarang.
Mantan megabintang Barcelona itu resmi menyamai superstar Juventus tersebut perihal prestasi internasional. Sebagaimana diketahui, Ronaldo lebih dulu mengangkat trofi Euro 2016 silam, disusul capaian di Nations League.
Kendati Messi bergelimang gelar juara di level klub, termasuk segudang prestasi pribadi, titel Copa America merupakan trofi pertama Messi sepanjang kariernya di kancah internasional.
Penantian panjang La Pulga akan torehan kampiun bersama Argentina terbayar kontan selepas kemenangan 1-0 timnya menghadapi sang bebuyutan abadi, Brasil, di final yang diselenggarakan di Maracana Stadium.
Messi memang tidak mencetak gol di final, tapi performa attacker 34 tahun itu sepanjang turnamen cukup untuk merangkum kegemilangan paripurna Tim Tango yang dipimpinnya.
Getty Images
Getty ImagesAdalah Angel Di Maria yang menjadi pahlawan kemenangan berkat gol tunggalnya di menit ke-22, melanjutkan umpan terobosan jauh dari belakang sebelum menaklukkan kiper Ederson.
Momen emas di Maracana Stadium tak sebatas bernilai bagi Argentina secara umum, tapi ini akan memberi pengaruh yang sangat besar secara khusus terhadap psikis pemain terhebat mereka sepanjang masa.
Sebagaimana legenda Brasil dan Argentina, Pele-Maradona, baik Messi dan Neymar belum pernah memenangkan Copa America. Final di Rio de Janeiro hari ini akan sangat bermakna bagi keduanya, namun dewi fortuna lebih memilih untuk menahbiskan status GOAT sejati untuk Si Kutu dari Rosario.
Bagi Messi, ini adalah final Copa keempatnya dan mungkin menjadi kesempatan pamungkas dia untuk mengangkat trofi mayor internasional bersama Argentina atau bisa jadi akan ada episode indah lainnya di turnamen mayor selanjutnya.
Selama Copa America 2021, Messi menjadi performer paling kontributif bagi Tim Tango, di mana dia berhasil mengemas empat gol dan menciptakan lima kreasi genting, menggambarkan dia adalah pemimpin sesungguhnya di atas lapangan kendati raihan juara Argentina ditentukan oleh Di Maria.
Namun, semua orang tampaknya bisa bersepakat, Messi adalah protagonisnya.
Getty ImagesJauh sebelum capaian supremasi ini, Messi sudah merasakan jatuh bangun getirnya kegagalan di ambang kejayaan. Messi pernah patah hati di final Copa America edisi 2007, 2015 dan 2016. Pun saat harus mendapati Argentina ditaklukkan secara menyakitkan oleh Jerman di final Piala Dunia 2014.
Deretan kegagalan final di atas sempat membuat Messi frustrasi, hingga membuat dia beberapa kali memutuskan untuk pensiun dari pentas internasional. Akan tetapi, Messi menyadari, angkat bendera putih di usia yang masih terbilang produktif adalah sebuah kemunduran hebat dalam kariernya.
Ya, karena satu-satunya prestasi yang tersisa bagi Messi sekarang hanyalah gelar juara bersama timnas, dan hari ini Messi telah menyelesaikan misi terbesar dalam perjalanan panjang sepakbolanya.
