Florentino Perez selaku presiden Real Madrid kembali menegaskan bahwa Liga Super Eropa sejatinya bisa "menyelamatkan sepakbola”. Meski begitu, ia menyayangkan reaksi keras dari banyak pihak hingga menyebabkan kompetisi itu ditangguhkan selagi tak menampik proyek yang ia gulirkan itu “tidak dijelaskan dengan baik”.
Perez merupakan pemimpin di balik Liga Super, yang runtuh selang dua hari sejak pengumumannya seturut pengunduran diri enam klub Inggris, Atletico Madrid dan Inter Milan.
Namun bos Madrid itu, yang telah menjadi sasaran kritik dari kepala LaLiga Javier Tebas, tetap berkomitmen pada gagasan Liga Super dan mengatakan dia masih percaya bahwa itu adalah yang dibutuhkan sepakbola di tengah kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi virus corona.
Apa Yang Dikatakan Perez?
"UEFA mengadakan acara, yang membuat saya sangat terkejut," katanya kepada program televisi Spanyol El Larguero. "Seolah-olah kita telah menjatuhkan bom nuklir. Kesalahan apa yang kita lakukan? Mungkin kita menyajikannya dengan buruk, tapi mengapa mereka tidak membiarkan kita membicarakannya?
"Tidak adil bahwa di Inggris enam [klub pendiri] kalah sedangkan 14 lainnya menang, juga klub besar di Spanyol kehilangan uang dan klub kecil menghasilkan uang. Sepakbola adalah piramida. Jika ada uang di puncak, maka uang akan mengalir turun dan semua pihak mendapatkannya.
"Di puncak [olahraga tenis, [Roger] Federer harus bermain melawan [Rafael] Nadal. Orang-orang tidak akan melihat Nadal melawan pemain urutan ke-80 di dunia."
Dia menambahkan: "Saya belum pernah melihat agresi seperti itu, dari presiden UEFA dan dari liga domestik. Tampaknya ini semua diatur. Penghinaan, ancaman; kami seperti dituduh membunuh sepakbola. Kami sejatinya mencoba menyelamatkan sepakbola."
Bagaimana Ke Depannya?
Terlepas dari kemunduran Liga Super, Perez yakin pada akhirnya akan ada proposal lain dan rencana serupa untuk mengubah Liga Champions yang saat ini disebutnya "usang".
"Saya sedih dan kecewa," lanjut Perez. "Kami telah bekerja selama bertahun-tahun dalam hal ini, mencari cara untuk membuat segalanya lebih baik dari segi sepakbola dan ekonomi. Liga [domestik] itu sakral. Yang bisa kami ubah adalah pertandingan tengah pekan. Liga Champions sudah usang. Yang menarik cuma berlaku dari babak perempat-final.
"Kami terbuka untuk orang lain yang datang dengan opsi lain selain Liga Super," tambah Perez. "Ini bukan tentang si kaya dan si miskin. Madrid tidak kaya, tapi kami kaya akan trofi. Saya tidak mendapat sepeser pun dari ini. Saya harus mengatakan bahwa dalam 20 tahun, jika saya menginginkan jersey, saya membayarnya. Saya memiliki otoritas untuk mengatakan bahwa jika saya melakukan ini, itu demi kebaikan sepakbola."


