FC Sheriff Tiraspol, klub antah-berantah yang berada di negara termiskin Eropa. Betapa jadi sebuah ironi tersendiri ketika mengetahui bahwa mereka kerap kali memainkan pertandingan di Moldova dalam keadaan lapangan yang sangat berantakan, di hadapan 'hanya' puluhan fans.
Seluruh penggawa yang ada di skuad, adalah pemain-pemain medioker yang berasal dari Uzbekistan, Macedonia Utara, Guinea dan beberapa daerah sekitar, yang jika ditotal 'cuma' bernilai $13,6 juta.
Dan Selasa malam tadi, publik dipertontonkan bagaimana klub kelas teri menghajar sang raja Eropa, Real Madrid.
Dalam kompetisi kasta teratas Eropa, memenangkan laga menghadapi klub dengan raihan gelar juara terbanyak di Benua Biru mungkin akan jadi episode paling mencengangkan dalam sejarah Liga Champions.
11 pemain yang berada di lapangan dengan banderol harga total tak lebih dari $1 juta, mampu menjinakkan barisan pemain kelas dunia mulai dari bintang jawara Piala Dunia, peraih Golden Ball dan sosok-sosok perengkuh medali juara Liga Champions.
GettyIni bukan mimpi. Sheriff benar-benar menggulingkan Los Blancos 2-1, berkat gol superdramatis di menit ke-89 oleh gelandang Luxembourg Sebastian Thill.
Mereka benar-benar mengalahkan klub yang memiliki kekuatan super, yang menghabiskan uang untuk satu pemain lebih banyak dari yang dikeluarkan Sheriff untuk seluruh penggawanya dalam sejarah 25 tahun klub kecil ini. Demikian klaim Transfermarkt.
Madrid juga memiliki lebih banyak torehan juara La Liga daripada musim yang telah dimainkan Sheriff. Raksasa Spanyol ini pun mengoleksi 13 trofi UCL. Sementara Sheriff, hingga dua minggu lalu, belum pernah memainkan sekali pun fase grup Liga Champions.
Skuad Madrid saat ini bernilai $872 juta, sedangkan Sheriff hanya 1/64 dari itu. Betapa mencengangkan.
Namun para bintang Madrid, semisal seorang Eden Hazard, yang dibeli dengan harga $126 juta, dibuat tak berkutik oleh barikade pertahanan Sheriff. Sementara pemain-pemain medioker Sheriff seperti striker Uzbek Jasurbek Yakhshiboev, yang mencetak gol pembuka, membungkam seisi Estadio Santiago Bernabeu.
Saat peluit akhir ditiup, para pemain Sheriff berlutut dengan sangat emosional. Para pelatih saling berpelukan. Kapten Gustavo Dulanto mengepalkan tangan seraya melihat sekitar, kombinasi antara kelelahan, kebanggaan dan ketidakpercayaannya atas apa yang baru saja terjadi.
Mereka bersatu, mereka bersama-sama, menyulap lapangan menjadi salah satu kisah paling bersejarah dalam sepakbola Eropa.
Alkisah
Semua akan terasa pelik ketika membuka kembali lembaran sejarah Moldova, bekas republik Soviet yang PDB per kapitanya, menurut perkiraan, adalah yang paling rendah di Eropa. Sheriff telah mendominasi Divizia Nationala [Liga kasta tertinggi di Moldova] sejak didirikan pada akhir 1990.
Namun, hal itu dilakukan dengan minoritas pemain asli Moldova, di mana sebagian besar penggawa di skuad kala itu berasal dari Amerika Selatan, Afrika dan beberapa dari Eropa Timur. Itu mewakili kota yang tidak menganggap dirinya bagian dari Moldova.
Tiraspol adalah ibu kota Transnistria, sebuah republik yang memisahkan diri tapi diakui dunia sebagai bagian dari Moldova. Namun, Transnistria sendiri mengakui bendera palu dan arit yang terpisah dan mata uang yang terpisah.
Sebagian besar masyarakatnya berbahasa Rusia. Sebuah patung Lenin, revolusioner Rusia dan pendiri Soviet, berdiri di luar gedung parlemen.
Faktanya, Sheriff adalah klub sepakbola yang banyak ditopang oleh konglomerat bisnis eponim, yang mengendalikan negara separatis. Perusahaan Sheriff sendiri dibangun pada 1990, segera setelah pecahnya Uni Soviet, oleh dua agen layanan khusus Soviet. Banyak dari spesifikasinya yang tidak jelas, dan sejak saat itu, perusahaan ini bergerak di beberapa aktivitas 'gelap'. Dewasa ini, nama "Sheriff" terpampang di seluruh wilayah, mulai dari di supermarket, pom bensin dan tentunya klub sepakbola.
Secara kebetulan -- mungkin juga tidak -- FC Sheriff merupakan klub terkaya di liga kasta tertinggi Moldova. Mereka mengalahkan saingan domestiknya, tidak membagi kekayaan relatifnya untuk membangun sepakbola akar rumput, sehingga mereka hampir selalu menang.
Getty ImagesNamun, setelah terbangun dari rangkaian kemenangan, Sheriff lalu lolos ke babak kualifikasi Liga Champonis. Dari situ, mereka bertransformasi dari Goliath ke David, dengan kata lain malah selalu jadi pecundang.
Mereka tidak pernah lolos ke fase grup Liga Champions hingga musim ini, ketika mengalahkan jawara Kroasia [veteran di UCL] Dinamo Zagreb dalam putaran terakhir kualifikasi Liga Champions.
Seolah tak ada kesempatan 'bernafas' bagi Sheriff ketika mereka disatukan dengan Madrid, Inter Milan dan Shakhtar Donetsk di babak grup.
Dan sebulan kemudian, Sheriff kini duduk di puncak klasemen setelah mengalahkan Shakhtar di matchday 1 lalu menaklukkan Madrid 13 hari berselang. Kisah Cinderella di ajang Liga Champions boleh jadi terulang, sebagaimana gebrakan APOEL Nicosia, klub Siprus, yang berhasil melaju ke perempat-final edisi 2012.
Perjalanan di Liga Champions masih panjang, tapi episode yang baru saja dilalui Sheriff akan menumbuhkan konfidensi mereka untuk tak gentar bermimpi tinggi di kompetisi antarklub terbaik Eropa.


