Fabio Paim Chelsea 2008Getty/Goal

Kisah Fabio Paim: Bintang Muda Yang Pernah Disebut Lebih Baik Dari Cristiano Ronaldo

Ekspektasi dan ‘hype’ adalah hal yang berbahaya di sepakbola.

Beberapa pemain, seperti Cristiano Ronaldo, bisa mengatasi itu. Kemudian ada contoh lain, sebut saja Fabio Paim, yang hancur gara-gara itu.

Mungkin Anda tidak pernah mendengar Paim, seorang winger yang sekarang berusia 32 tahun. Dia ini memiliki karier bagaikan rollercoaster dan sempat menjajal sepakbola di negara macam Angola, Qatar, Tiongkok, Malta, Lithuania dan Luksemburg dalam beberapa tahun terakhir.

Dahulu di negara asalnya Portugal, sosok Paim pernah menjadi salah satu bakat paling menjanjikan, dengan Sporting CP memiliki sang winger di akademi mereka sejak usia sembilan tahun.

Di awal perjalanannya di Lisbon dia bertemu Ronaldo muda, yang tak sungkan menyanjung talenta yang dimiliki Paim.

“Jika kalian pikir saya bagus, tunggu sampai kalian melihat Fabio Paim,” begitu kata Ronaldo kepada wartawan setelah merapat ke Manchester United dari Sporting pada 2003.

Duo bertalenta itu, yang berteman di Portugal, tampak ditakdirkan untuk hal-hal besar. Namun selagi karier Ronaldo melesat dalam sekejap, Paim justru tersandung dari satu bencana ke bencana lainnya.

Karier Paim kiranya mekar terlalu dini, dengan sejumlah klub elite Eropa, termasuk Barcelona dan Manchester United, memantaunya saat masih muda.

Sporting berusaha untuk mempertahankan bintang muda mereka dan akhirnya mempertaruhkan banyak uang pada si pemain, yang beberapa tahun sebelumnya bahkan tidak mampu membeli sepatu bola yang layak.

Paim sendiri sempat menegaskan bahwa dia menghasilkan hingga €150.000 sebulan saat masih berusia 16 tahun, padahal dia belum bermain bola di level senior.

“Saya menerima banyak uang ketika saya berusia 16 tahun, saya sudah memiliki kontrak. Saya menerima lebih banyak daripada para pemain tim utama karena banyak klub yang menginginkan saya,” kata Paim kepada Globo Esporte pada 2017.

"Saya tidak terbiasa punya uang. Ketika saya mulai bermain, saya bahkan tidak punya sepatu bola. Tiba-tiba, banyak hal terjadi, dan saya tidak siap."

Meski Sporting senang mengeluarkan uang, mereka tidak begitu cepat menawarkan pengalaman tim pertama kepada Paim, selagi bakat muda itu sudah dikirim dengan status pinjaman sebanyak tiga kali di Portugal di usianya yang menginjak 19 tahun.

Peminjaman itu berjalan cukup lancar, tetapi kemajuan apa pun yang dia buat di dalam dan di luar lapangan dibatalkan oleh keputusan anehnya untuk pergi ke Chelsea dengan status pinjaman pada 2008.

Dengan sedikit peluang untuk masuk ke tim utama di London barat, Paim dibiarkan sendiri untuk menjelajahi ibu kota Inggris, dan mengakui bahwa uangnya yang banyak telah mengalihkan pandangannya dari sepakbola.

"Saat itulah saya mulai berhenti berlatih, mulai gagal memenuhi kebutuhan, mulai minum... Saya mulai melakukan banyak hal karena saya punya banyak uang, saya membuka pintu untuk melakukan apa yang saya inginkan," kata Paim. .

Pada saat itulah, dengan Paim yang baru berusia 20 tahun dan dengan seluruh kariernya yang sejatinya masih panjang, calon superstar Sporting itu langsung terjun bebas.

GERMAN ONLY Fabio Paim 30082007Getty Images

Setelah meninggalkan Chelsea tanpa penampilan senior, Paim kembali ke tanah airnya pada 2009 sebelum dia kembali dipinjamkan, kali ini ke Rio Ave, namun dia dipulangkan tanpa memainkan pertandingan karena gajinya yang tinggi.

Peminjaman yang mengecewakan ke divisi tiga Portugal segera menyusul, dan sebelum Paim menyadarinya pada 2010, Sporting telah memutuskan hubungan mereka dengan pemain yang sebelumnya berada di radar klub-klub terbesar Eropa tersebut.

Dari ketertarikan Real Madrid saat remaja, Paim kemudian menemukan dirinya bermain-main di Angola dan Qatar dalam upaya untuk menghidupkan kembali kariernya yang lambat.

Sementara detail pasti dari transfernya selama beberapa tahun terakhir masih samar-samar, satu hal yang menonjol - dia hampir tidak pernah memainan beberapa penampilan untuk setiap klub sebelum pindah.

Pada 2015, saat bermain di divisi dua Luksemburg, Paim dikabarkan dipecat karena perilaku tidak profesional, dan mantan pemain timnas junior Portugal itu mengakui bahwa ia memiliki kebiasaan bergaul dengan orang yang salah.

"Saya ingin mengubah banyak hal [tentang karier saya]. Mungkin, terkait orang-orang yang ada di sekitar saya," katanya.

Kebiasaan itu tampaknya sulit diatasi Paim, dengan pemain yang kini berusia 32 tahun itu diduga telah ditangkap di Portugal tahun lalu karena kepemilikan narkotika.

Sementara Ronaldo terus menunjukkan ketajamannya bersama Juventus, Paim baru-baru ini mengamankan kepindahan ke divisi lima Polandia, dan bisa dipahami mengapa dia menyesal karena telah menyia-nyiakan begitu banyak potensi.

"Cristiano Ronaldo berada di dunia lain saat ini, tidak ada bandingannya," kata Paim dalam wawancara dengan Globo Esporte . "Di masa lalu, ya. Mungkin saya lebih baik dari dia tapi saya tidak memiliki apa yang dia miliki, yaitu kekuatan, keinginan untuk menang, untuk menjadi apa yang diinginkan.

"Dia pekerja keras, sedangkan saya tidak. Saya memiliki kualitas, mungkin lebih dari dia, tetapi saya tidak memiliki sisanya. Saya lebih memilih untu memiliki kualitas yang jauh lebih sedikit dan punya atribut lain, dan kemudian saya bisa saja menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

"Saya pikir hanya dengan bakat saya akan berhasil, tapi tidak."

Bakat saja, seperti kata mereka, tidak pernah cukup. Itu adalah pelajaran hidup dari Fabio Paim.

Iklan
0