Sebelum Harvey Elliott mengklaim diri sebagai pemain termuda Liga Primer Inggris, Matthew Briggs membawa kehormatan itu selama lebih dari satu dekade.
Briggs merupakan keajaiban Fulham lainnya, dengan bek itu tampil di 13 menit terakhir di pertandingan papan atas pertamanya melawan Middlesbrough pada Mei 2007.
Melakoni debutnya di Liga Primer selang 65 hari setelah ulang tahunnya yang ke-16, Briggs kemudian harus kembali ke sekolah keesokan harinya untuk ujian sebagaimana ia dan teman-temannya di kelas kesulitan untuk memahami lesakan kariernya yang sangat cepat.
13 tahun telah berlalu, mungkin sekarang banyak yang penasaran dengan apa yang terjadi pada mantan pemain internasional muda Inggris tersebut, yang sejak itu terpaksa turun ‘kelas’ untuk bermain sepakbola divisi delapan dan bahkan menukar sepatu sepakbola dengan helm proyek.
Selagi para pesepakbola terus mencari cara untuk melakukan debut senior mereka di usia yang lebih muda, momen terobosan Briggs bisa dibilang datang terlalu cepat. Cita rasa pertamanya menjajal Liga Primer kemudian diikuti oleh pil pahit karena ia harus memperkuat tim junior Fulham lagi selama dua tahun ke depan.
"Itu langsung menghancurkan rasa percaya diri saya dan saya rasa saya tidak pernah kembali dari itu, jujur saja," kata Briggs kepada BBC.
"Karena saya adalah anak laki-laki yang tergolong besar untuk usia saya, saya merasa mereka memperlakukan saya seperti saya sudah menjadi seorang pria, padahal saya masih sangat muda secara mental - saya masih kecil dan saya membutuhkan pengasuhan, dukungan, dan bimbingan yang sebenarnya tidak saya dapatkan.”
Terlepas dari debutnya yang singkat di papan atas, Briggs berhasil menarik perhatian Manchester United saat remaja tetapi setiap ia mencoba untuk pergi dari Craven Cottage, itu selalu diblokir karena pihak klub menuntut banderol yang konyol untuk pemain yang belum membuktikan dirinya.
Sang bek pada akhirnya menerobos tim utama di Fulham, bermain secara reguler dalam kampanye Liga Europa 2011 mereka, dan hampir mendapatkan perpanjangan kontrak sebelum cedera dan pemecatan Martin Jol secara tiba-tiba membuatnya tidak punya klub pada usia 23 - selang tujuh tahun dari debutnya di Liga Primer yang bagai dongeng.
GettyMillwall lantas merekrut Briggs, yang kemudian dipinjamkan dan akhirnya dibeli oleh tim League One, Colchester United. Dengan Briggs yang semakin menuruni tangga sepakbola Inggris, ia justru bermain secara teratur untuk pertama kalinya dalam karier seniornya dan tampaknya membangun momentum sebelum pindah ke klub League Two, Chesterfield pada 2017, yang membuat kariernya mundur lagi.
Terpaksa melakukan perjalanan pulang-pergi selama sepuluh jam dan masih baru menjadi seorang ayah, Briggs mengakui bahwa fokusnya pada sepakbola memudar.
“Saya ingat pernah bermain pertandingan satu kali dan memberikan telepon saya kepada fisio jika ada keadaan darurat,” Briggs, yang istrinya melahirkan secara prematur, mengatakan kepada Planet Football.
"Saya tidak bisa sepenuhnya fokus bermain sepakbola. Pikiran saya agak ke tempat lain.”
Pada Januari 2018, Briggs dibebaskan oleh Chesterfield dan setelah gagal mengamankan kontrak dengan Barnet, ia mendapati dirinya menukar lapangan sepakbola dengan lokasi konstruksi selagi ia berusaha untuk menafkahi keluarganya.
Dengan debut Liga Primer yang sekarang menjadi kenangan memudar, Briggs mencoba menggunakan peralihan kariernya itu sebagai motivasi untuk memastikan perjalanan sepakbolanya tidak akan berakhir sebelum waktunya.
"Saya sangat tertekan tentang hal itu dan paman saya berkata kepada saya, 'Dengar, datang dan bekerja', jadi saya melakukannya dan, sejujurnya, saya angkat topi ke industri konstruksi karena saya belajar banyak," kata Briggs kepada BBC.
"Saya belajar bagaimana memasang tembok, membangun balok dan melakukan semua itu. Saya belajar beberapa keterampilan hidup.
"Saya berpikir, 'Inikah tujuan hidup saya?' Bukannya bersikap tidak hormat pada industri konstruksi tetapi bermain di Liga Primer di usia 16 untuk kemudian mengerjakan pekerjaan konstruksi, itu membuat saya bergairah untuk mengubahnya kembali.”
Putus asa untuk membuktikan bahwa dia masih bisa bermain secara profesional, Briggs menerima tawaran untuk menghabiskan musim 2018/19 dengan klub divisi delapan Inggris Maldon & Tiptree. Ia mencatatkan 38 penampilan di musim tersebut, yang menjadi catatan terbaik dalam kariernya. Sang bek lantas berhasil menarik minat dari Denmark dan akhirnya bergabung dengan klub divisi satu HB Koge.
Namun, sekali lagi, masalah di luar lapangan dengan cepat menggagalkan waktunya di sana. Briggs malah mengklaim klub tersebut gagal menghormati kesepakatan yang akan memastikan dia berkumpul kembali dengan anak-anaknya selama liburan musim dingin.
Pulang ke Inggris lagi, sang mantan keajaiban Fulham itu baru-baru ini menjadi pemain divisi enam Dartford, dan pada usia 29, ia menolak menyerah untuk naik ‘kelas’ sekali lagi.
“Saya ingin kembali ke Liga [Football League] - setidaknya League Two, League One. Itu adalah level yang seharusnya saya mainkan,” katanya kepada Planet Football.
"Jelas, dengan Covid-19 semuanya berjalan sangat lambat, dan banyak klub enggan merekrut. Saya benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya berharap saya mendapatkan keberuntungan di suatu tempat dan mencapai level yang seharusnya saya mainkan."
Meskipun dia tidak akan pernah lagi menambah penampilannya di Liga Primer, kisah Briggs adalah peringatan bagi setiap pesepakbola muda untuk tidak menganggap remeh segalanya, termasuk debut di usia dini.


