Sejak merapat ke Manchester United pada 2011, David de Gea telah berkontribusi penting di lapangan. Namun dalam 18 bulan terakhir, kesalahan demi kesalahan terus ia lakukan, bahkan blunder lain membuat United harus tersingkir dari babak semi-final Piala FA setelah kalah melawan Chelsea pada Senin (20/7) dini hari WIB tadi, dan keraguan pun kini ditujukan kepada sosok yang Ole Gunnar Solskjaer sebut sebagai “kiper terbaik dunia” tersebut.
Selama bertahun-tahun, kiper internasional Spanyol De Gea memang menjadi palang pintu kokoh untuk United. Reaksinya yang bagai kucing dan penyelamatan akrobatiknya telah menyelamatkan Setan Merah lebih banyak dari sekadar yang bisa kita ingat sejak ia merapat dari Atletico Madrid.
Tapi, sejak Ole mengambil alih tampu kepemimpinan, performanya justru menukik tajam.
Ole berfokus untuk membangun unit penyerangan demi menyaingi rival terbaik di Liga Primer, namun De Gea malah menjadi titik lemah klub, yang menjadikannya sebagai kiper dengan bayaran termahal pada September tahun lalu.
Bahkan di periode sejak sepakbola Inggris dimulai kembali setelah jeda akibat pandemi virus corona, De Gea mengalami kesulitan.
Dia layak disalahkan atas gol yang dicetak Steven Bergwijn di markas Tottenham Hotspur, sementara ia juga ditaklukkan oleh Junior Stanislas dari jarak dekat dalam kemenangan 5-2 melawan Bournemouth.
Ole rutin membela kiper nomor satunya itu, dengan berkata setelah hasil imbang 1-1 di Spurs: “Dia mungkin menyelamatkannya, dia mungkin tidak. Tapi dia melakukan banyak penyelamatan hebat untuk kita. Dia memenangkan pertandingan untuk kita. Saya masih yakin dia adalah kiper terbaik di dunia.”
Manajer asal Norwegia itu bisa dimaafkan karena secara terbuka membela pemainnya, tetapi, dalam kenyataannya, Dea Gea telah jauh dari status terbaik di dunia untuk waktu yang lama.
Waktu sekarang terus bergulir sebagaimana Dean Henderson melanjutkan performa mengesankannya selama dipinjamkan di Sheffield United, dan, jika sesuatunya tidak membaik, Ole mungkin harus mengambil keputusan pada musim panas.
Performa De Gea di Wembley menjadi titik nadir dari kemundurannya. Setelah ditunjuk sebagai starter di kompetisi piala domestik, yang jarang ia dapatkan karena Ole selama ini mempercayakannya pada Sergio Romero, kiper Spanyol itu justru melakukan kesalahan dan mengakibatkan timnya kalah 3-1.
Di babak pertama, De Gea tidak mampu mencegah upaya jarak dekat dari Olivier Giroud setelah striker Prancis itu mendapat ruang untuk menyambut umpan silang Reece James. Terlepas itu adalah penyelesaian cerdas dari eks Arsenal tersebut, bola itu sejatinya lurus ke arah kiper, tapi De Gea kurang sigap sehingga tercipta gol pembuka untuk The Blues.
Ole lantas memerintahkan timnya menyerang di awal babak kedua, namun semua yang ia katakan saat jeda dibuyarkan hanya dalam waktu dua menit menyusul kesalahan lain yang dilakukan De Gea.
GettySetelah Brandon Williams kehilangan bola di lapangannya sendiri, Mason Mount melepaskan tendangan mendatar dari jarak 25 yard yang, entah bagaimana, gagal diselamatkan De Gea yang sudah menjatuhkan diri ke arah kiri.
Kemudian sang kiper kembali ditaklukkan di tiang dekat setelah Harry Maguire membelokkan umpan silang ke gawangnya sendiri, dan saat itulah suporter mulai melayangkan kecaman dan kritiknya di media sosial.
De Gea bisa merasa aman karena mantan kapten United Roy Keane tidak bertugas sebagai pandit di televisi, mengingat saat duel melawan Spurs ia mengaku siap ‘bertarung’ dengan sang kiper jika ia terus membuat kesalahan mendasar seperti itu.
Selagi De Gea akan menerima beban kritik setelah penampilannya yang mengejutkan itu, Ole sendiri tidak sepenuhnya bisa disalahkan terkait hasil akhir.
Ole mengalami kesulitan untuk menentukan seberapa banyak rotasi yang diperlukan untuk memastikan timnya melangkah ke final sembari menjaga skuadnya tetap bugar di dua pertandingan terakhir Liga Primer Inggris, dengan mereka berusaha mengamankan finis di empat besar.
Pemilihan skuadnya, yang membuat United bermain dengan tiga bek dan mencadangkan Anthony Martial, Paul Pogba hingga Mason Greenwood, menjadi bumerang, dengan United tampil di bawah standar saat melawan rival yang memiliki 48 jam waktu istirahat lebih lama.
GettyOle pada akhirnya kembali memakai formasi 4-2-3-1 yang membuat timnya tidak terkalahkan di 19 pertandingan beruntun setelah Eric Bailly ditarik keluar karena mengalami cedera kepala dan digantikan oleh Martial, namun itu tidak cukup untuk mengubah alur permainan.
Chelsea yang memiliki kebugaran lebih baik layak mendapatkan kemenangannya, yang hanya dirusak sedikit oleh gol hiburan dari Bruno Fernandes lewat titik penalti.
Ole kini harus kembali ke papan tulis untuk menulis strategi demi menghadapi West Ham United dan Leicester City di dua partai pamungkas Liga Primer musim ini.
Dan soal De Gea, masa depannya akan terus dipertanyakan jika dia tidak bisa melenyapkan blunder yang akhir-akhir ini kerap merugikan timnya.




