Malam magis di Paris, dipenuhi drama dan kejutan, lalu pulang dari ibu kota Prancis dengan sambutan bak raja semalam. Alan Kennedy mungkin tak pernah bermimpi keluar sebagai protagonis Liverpool di partai final Piala Champions atau European Cup [format lama Liga Champions] menghadapi Real Madrid pada edisi 1981.
Faktanya, sang fullback jadi penentu kemenangan The Reds atas Los Blancos berkat gol tunggalnya yang menghadirkan gelar ketiga Eropa bagi klub Merseyside kala itu.
Sang pemain belakang sempat divonis mesti menepi selama sepuluh pekan lantaran mengalami patah pergelangan tangan ketika menghadapi leg pertama semi-final kontra Bayern Munich.
Sebulan berlalu, secara mencengangkan manajer Bob Paisley memboyong Kennedy ke Paris. Yang bersangkutan memang tak menutupi hasratnya untuk bisa berandil di babak puncak ajang tertinggi Eropa itu. Kalau pun tidak diturunkan, setidaknya merasakan atmosfernya.
Namun ceritanya lain. Dia "dipaksa" oleh Bob untuk tetap mengawal sisi kiri pertahanan The Reds dengan mengenakan bebat logam yang diikatkan di pergelangan tangannya yang cedera. Kennedy berterus terang, dia tidak siap secara mental.
"Kami terbang dari Liverpool pada hari Minggu dengan mennggunakan Aer Lingus. Kami selalu terbang dengan pesawat itu karena ada petanda keberuntungan," kenang Kennedy.
"Beberapa pemain lain sudah memainkan dua final European Cup sebelumnya [pada 1997 ketika Liverpool mengalahkan Borussia Monchengladbach dan Club Bruges]. Tetapi ini yang pertama bagi saya. Saya tidak bisa tidur nyenyak semalam sebelumnya. Saya terus memikirkan tentang pertandingan ini dan masih merasakan sakit pada pergelangan tangan saya."
"Bob [baru] memberitahu kami tim [yang akan diturunkannya] ketika kami menuju lapangan. Mengejutkan, bisa terlibat di dalamnya dan saya mungkin tidak dalam kondisi yang benar-benar siap secara mental. Namun ketika manajer memberi Anda lampu hijau, Anda harus menyetel diri Anda dan melaju."
Belum selesai masalah Kennedy, Liverpool kembali harus menghadapi problem tak terduga sesaat sebelum pertandingan kick-off. Pihak klub berselisih dengan kubu penyiar TV berkaitan dengan iklan.
Saat itu, logo Umbro menempel di seragam Liverpool sehingga mereka diwajibkan menutupinya dengan plester sebelum memainkan pertandingan. Alih-alih melakukan pemanasan jelan laga, alhasil para pemain Liverpool malah saling bekerja sama untuk membantu memasangkan plester demi menutpi logo tersebut.
"Benar-benar kejam!" tukas Kennedy, mengingat momen konyol itu.
"Benar-benar konyol dan tidak akan pernah terjadi di era sepakbola zaman sekarang."
Bagaimanapun, Bob merespons segala masalah yang dihadapinya dengan cemerlang. Insting tajam sang manajer terbukti ampuh lantaran keputusan berisikonya menurunkan Kennedy membuat sang pemain justru menulis sejarahnya sendiri.Madrid menurunkan dua sosok yang sangat familiar dalam perjalanan sejarah Liverpool: gelandang Jerman Uli Stielike, yang bermain untuk M'gladbach saat bentrok dengan Liverpool di final 1977, dan mantan winger West Brom dan Inggris Laurie Cunningham.
Pelatih Madrid kala itu, Vujadin Boskov, selebihnya menurunkan skuat kejutan, yang sebagian besar, menurut Kennedy, tak ada dalam catatan strategi Bob. Jose Antonio Camacho, yang di kemudian hari jadi manajer Madrid, menyia-nyiakan peluang terbaik di awal-awal laga, sementara Graeme Souness gagal menaklukkan kiper Agustin Rodriguez setelah mendapatkan umpan matang dari Kenny Dalglish.
Permainan Liverpool meningkat ketika Souness berhasil menguasai lini tengah, sedang penyerang Madrid Cunningham banyak telibat adu kekuatan dengan Phil Neal di sisi kanan. Alhasil, Kennedy memiliki keleluasaan untuk merangsek ke depan dari sektor kiri pertahanan.
Delapan menit sebelum laga bubar, Kennedy yang berusia 26 tahun kala itu bermanuver ke depan sebelum melakukan cut-in dan membuat penyelesaian akhir dengan apik.
"Saya tak pernah berpikir akan mencetak gol. Saya cuma berpikir bila saya bisa berlari dari titik ini, itu mungkin menghadirkan ruang bagi Souness, McDermott atau Dalglish. Tapi Dalglish beralih ke mulut gawang, jadi saya berlari menuju ruang yang terbuka bagi saya," ungkap Kennedy, mengisahkan proses golnya.

Kopites - sebutan fans Liverpool - bergemuruh dan larut dalam kebahagiaan. Kennedy melanjutkan lari ke arah tribun untuk merayakan golnya bersama fans sebelum diikuti oleh rekan-rekannya.Malam indah di Paris berlanjut pesta di Merseyside dengan klub melakukan pawai bus secara terbuka sembari memamerkan Si Kuping Lebar. Di tengah pawai, para pemain membentangkan spanduk betuliskan "Terima kasih, Barney" - julukan untuk Kennedy merujuk kemiripan wajahnya dengan karakter di Flintstones Barney Rubble.
Hebatnya, hari itu Kennedy tak hanya dicintai loyalis Liverpool. Para fans klub rival sekota, Everton, pun ikut menyambutnya sebagai pahlawan kota Merseyside.
