Berita Live Scores
Liga 1

CATATAN: Ketum Baru PSSI Di Pusaran Orang Lama, Jangan Sampai Keluar Sebelum Waktunya

12.21 WIB 04/11/19
Moch Iriawan - Iwan Bule  - PSSI
PSSI saat ini dipimpin Mochamad Iriawan yang diharapkan membawa perubahan lebih baik untuk sepakbola Indonesia.

PSSI telah mendapatkan ketua umum baru untuk periode 2019-2023. Adalah Komjen Pol. Mochamad Iriawan, yang terpilih menduduki jabatan tersebut setelah mendapatkan 82 suara dalam Kongres Luar Biasa Pemilihan PSSI di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (2/11).

Terpilihnya jenderal bintang tiga itu memunculkan harapan baru bagi para pencinta sepakbola nasional. Pasalnya, pria yang akrab disapa Iwan Bule tersebut merupakan sosok baru di kepengurusan PSSI.

Banyak harapan yang dibebankan ke pundaknya. Terutama terkait prestasi tim nasional Indonesia di level senior. Namun tidak boleh dilupakan juga, bagaimana pembinaan di level usia dini, serta mutu kompetisi yang harus ditingkatkan.

Itu bukan hal yang mudah dibenahi dalam waktu sekejap atau bahkan empat tahun hingga masa periode kepemimpinan Iriawan berakhir. Perlu diingatkan juga, jangan sampai pria yang pernah menduduki jabatan Kapolda Metro Jaya dan Jawa Barat itu melakukan blunder terkait keputusan strategis sehingga membuat posisinya saat ini mudah digoyang.

Dengan jabatannya sebagai Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional (Sestama Lemhanas), semestinya stabilitas organisasi bisa dijaga dengan baik. Jika stabilitas tersebut bisa dijaga, praktis seluruh program yang dirancang bisa berjalan dengan baik. Bukan hanya harus siap menghadapi tekanan dari internal organisasi, tapi juga dari pihak-pihak eksternal.

Mundurnya Letjen TNI (Purn.), Edy Rahmayadi, yang lebih cepat dari masa berlakunya di PSSI bisa menjadi pelajaran tersendiri bagi Iriawan. Jangan sampai hal itu terulang kembali.

Terlebih, situasi yang dihadapi Iriawan saat ini sama dengan yang dialami Edy. Yaitu berada di pusaran orang-orang lama PSSI. Jika melihat daftar komite eksekutif (exco) yang terpilih dalam kongres, kemarin, mayoritas bisa dibilang adalah orang yang kenyang pengalaman di kepengurusan PSSI.

Sebut saja Iwan Budianto, Yunus Nusi, Ahmad Riyadh, serta Dirk Soplanit. Ada juga para petinggi klub seperti Yoyok Sukawi (PSIS Semarang), Endri Erawan (Mitra Kukar), Pieter Tanuri (Bali United), hingga Hasnuryadi Sulaiman (Barito Putera), yang dikhawatirkan bisa memanfaatkan jabatan mereka di exco nanti untuk kepentingan klub masing-masing. Artinya, ini tantangan bagi Iriawan untuk membangun kepercayaan publik terhadap organisasi yang dipimpinnya tersebut.

Karena hingga saat ini, pencinta sepakbola Indonesia terkesan cenderung memandang negatif dengan citra pengurus lama PSSI. Itu tidak terlepas dari situasi di sepakbola Indonesia, mulai dari kompetisi yang kerap dihinggapi isu match-fixing, hingga prestasi timnas Indonesia di level senior yang begitu jeblok.

Bahkan, sempat terlontar dalam sekadar obrolan warung kopi di antara para jurnalis sepakbola. "Sekarang PSSI mau buat program sebagus apapun tetap aja di-bully atau dinilai negatif. Mungkin kalau timnas seniornya sudah menangan atau juara, baru berhenti kali ya bully-an itu."

Tak bisa dimungkiri, pengurus PSSI periode sebelumnya sudah mencapai beberapa prestasi. Mulai dari adanya juara Piala AFF U-16 2018 dan Piala AFF U-22 2019. Belum lagi digulirkannya Elite Pro Academy Liga 1 U-16, U-18, dan U-20, Liga 1 Putri, serta banyaknya kursus kepelatihan bahkan digelar untuk pertama kalinya kursus AFC Pro di Indonesia. Dan yang paling menyita perhatian adalah membawa Indonesia terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021. 

Tentunya, catatan positif itu yang harus terus dilanjutkan atau bahkan dibuat menjadi lebih baik di kepengurusan saat ini. Jangan lupakan juga bagaimana merangsang para Asprov PSSI untuk melakukan pembinaan di daerah masing-masing secara mandiri. Kebanyakan, para Asprov itu mengeluhkan kurangnya dana dalam menjalankan program mereka. Nah, di sini tugas dari PSSI untuk mengasistensi agar program-program para Asprov itu bisa lebih diminati oleh para sponsor. Jangan malah sekadar disusui dengan subsidi.

Jika pembinaan di daerah berjalan dengan baik, tentunya ini akan bermuara pada pembentukan timnas yang lebih berkualitas di semua level.

Akhir kata, selamat bertugas Jenderal!