Kepa Arrizabalaga dan pergantian pemain di menit-menit akhir dalam sebuah laga final turnamen mayor. Anda tentu familiar dengan situasi ini, benar?
Masih cukup hangat di ingatan ketika final Piala Liga Inggris 2019 silam, saat Chelsea bentrok dengan Manchester City, di mana kiper Spanyol seharga £71 juta itu menolak untuk ditarik keluar untuk digantikan Willy Caballero di masa injury-time.
Insiden ini kemudian dikenang publik Stamford Bridge khususnya, dan juga fans sepakbola secara umum, sebagai momen memalukan dari seorang pesepakbola profesional.
Di pertandingan itu, dia menyelamatkan satu penalti meski Chelsea pada akhirnya tetap keluar sebagai pecundang. Kepa lantas dihukum oleh klub karena menentang instruksi penting dari manajer Maurizio Sarri saat itu.
Rabu malam lalu, takdir berkata lain. Kepa kali ini menunjukkan sikap dan aksi herois saat dipercaya turun menghadapi Villarreal dalam ajang Piala Super Eropa di Belfast.
Duel ini berakhir sama kuat, 1-1, setelah Gerard Moreno menetralkan keadaan dari gol pembuka Hakim Ziyech. Namun, Chelsea di bawah penjagaan Kepa berhasil mengakhirinya dengan gelar juara.
Kiper utama yang digantikan Kepa, Edouard Mendy, sama sekali tidak keberatan dengan substitusi ini dan taktik Tuchel pun terbukti manjur.
Saat sesi adu penalti, Kepa bergerak cukup sibuk, namun yang akan dikenang oleh fans Chelsea adalah bagaimana dia menggagalkan eksekusi Aissa Mandi disusul Raul Albiol yang kemudian menentukan torehan Piala Super Eropa.
GettySetelah meredam tendangan Albiol, Kepa seketika dikerubungi rekan-rekannya yang ingin melakukan selebrasi juara bersamanya. Kepa digendong-gendong, Kepa disanjung-sanjung.
Bukan tanpa alasan mengapa Kepa tiba-tiba dipilih Tuchel untuk mengawal gawang Chelsea di babak adu penalti, kendati semua fans The Blues tahu betul bagaimana performa Mendy dalam semusim terakhir. Tuchel menjelaskan teorinya, yang ternyata sudah dirancang sejak Februari untuk Kepa.
"Itu bukan spontan," kata Tuchel kepada BT Sport.
"Kami telah membicarakannya dengan para kiper kami setelah laga cup pertama menghadapi Barnsley," urainya.
"Kepa memiliki persentase terbaik dalam menyelamatkan tendangan penalti. Para analis kami dan pelatih kiper menunjukkan data itu ke saya. Kami berbicara dengan para pemain dan memberitahu mereka skema ini [memainkan Kepa] bisa saja terjadi ketika kami memainkan laga babak knock-out," jelas Tuchel.
Mendy keluar meninggalkan lapangan dengan perasaan bahagia saat mempersilakan Kepa masuk. Kiper timnas Senegal itu memahami, adu penalti adalah panggungnya salah satu kiper termahal dunia itu.
Getty"Sungguh fantastis, bagaimana Edouard bisa menerima itu [diganti Kepa]," tutur Tuchel.
"Dia [Kepa] pun tidak menunjukkan sikap bangga untuk turun ke lapangan. Dia bahagia mengambil kesempatan ini untuk tim," beber sang manajer.
Kepa dengan rendah hati kemudian mengungkapkan pujiannya pada Mendy selepas pertandingan. Menurutnya, dia hanya melanjutkan performa gemilang koleganya itu di babak adu penalti.
"Ini bukan situasi yang biasa, tapi kami menuju adu penalti setelah Edouard bermain dengan fantastis. Pada akhirnya, kami memenangkan pertandingan dan kami semua bahagia," kata Kepa.
"Saya siap karena saya sudah mengetahui hal seperti ini bisa terjadi. Saya berusaha untuk siap, baik secara mental dan fisik," tandasnya.
Legenda Chelsea Joe Cole menyebut "betapa bagusnya Mendy, tapi Kepa adalah sosok fantastis dalam adu penalti". Senada dengan Eni Aluko, mantan penyerang Chelsea, yang menilai "Kepa telah melewati perjalanan panjang, dan dia sekarang jadi anggota yang populer di skuad".
Getty ImagesJika dua tahun ke belakang Kepa menjadi bahan bully-an karena deretan aksi dan sikap konyolnya, bahkan performa buruknya itu sering dijadikan headline media-media Inggris, sekarang dia telah mengubah segalanya hanya dalam semalam untuk menyandang status pahlawan.
Meski "kesiangan", Kepa tetap punya kualitas yang mesti diakui, dan bersiap melanjutkan perjalanan untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum tuntas bersama Chelsea.




