Di sebuah sesi tanya jawab dengan -ketika itu - ketua eksekutif Arsenal Ivan Gazidis pada Juni 2017, seorang suporter yang mengklaim baru absen di lima pertandingan selama 50 tahun mengatakan atmosfer di klub kesayangannya adalah yang terburuk yang pernah dia ketahui.
"Ada yang keliru," keluhnya ketika itu. "Kita terpuruk, kecuali bisa lebih aktif maka situasinya akan semakin memburuk."
Dia benar dan Gazidis juga pasti menyadarinya. Karena setahun kemudian dia meninggalkan Emirates setelah Arsenal mengakhiri Liga Primer Inggris di peringkat enam - terburuk sejak 1995.
Menjadi tidak mengherankan jika kita akan kesulitan menemukan loyalis the Gunners yang bisa mengeluarkan kata-kata indah tentang Gazidis.
Bahkan striker legendaris Ian Wright suatu waktu pernah menyebutnya 'bodoh' dan 'harus menjawab banyak pertanyaan' terkait penurunan tim selama sembilan tahun Gazidis beredar di London utara.
Oleh karena itu menjadi sebuah keheranan ketika Gordon Singer -yang merupakan penggemar Arsenal- secara personal memboyong Gazidis menjadi CEO AC Milan pada September 2018 (meski baru aktif bekerja pada Desember di tahun yang sama).
Agar menjadi lebih jelas situasinya, dengan kata lain, Gazidis meninggalkan kekacauan yang telah dibuatnya di Emirates lalu dipercaya membereskan kekacauan yang ada di San Siro.
Ketika Gazidis resmi ditunjuk, halaman resmi klub dengan bangga mengabarkan kepada fans jika mereka telah mendapatkan ekskutif sepakbola kelas dunia dengan catatan menawan di dunia olahraga dan komersial.
Suporter Arsenal pasti tidak setuju dengan klaim tersebut bahkan mungkin mereka tertarwa membaca klaim 'Di bawah kepemimpinan Mr Gazidis, tim yang bermarkas di London Arsenal Football Club, menikmati kesuksesan di atas lapangan dan makmur di luar lapangan."

Kenyataannya Arsenal mengalami penurunan di bawah komando Gazidis, baik itu dari sudut olahraga maupun komersial. Untuk membuktikannya sangat mudah, dalam satu dekade terakhir peringkat mereka di Deloitte Football Money League merosot dari urutan lima ke 11.
2,5 tahun sebelum Gazidis datang, Arsenal sukses menerobos final Liga Champions. Bagaimana dengan sekarang? Tim ini tidak sanggup menembus kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa tersebut sejak 2016/17.
Kehilangan pendapatan merupakan tamparan paling keras yang menjadikan Arsenal sulit bersaing di papan atas sepakola Inggris yang diperparah oleh kontrak setinggi langit Mesut Ozil. Mereka juga kehilangan aset berharga seperti Alexis Sanchez yang masuk dalam kesepakatan transfer Henrikh Mkhitaryan dan Aaron Ramsey yang pergi tanpa kompensasi.
Itulah warisan sesungguhnya Gazidis di Arsenal yang masih terasa dampaknya hingga detik ini.
Tetapi Singer tetap merasa Gazidis adalah sosok yang tepat untuk membangkitkan klub yang sekarang dikuasai oleh ayahnya Paul, pendiri Elliot Management sebuah perusahaan pengelolaan investasi yang asal Amerika. Mereka menguasai Rossoneri karena pebisnis Tiongkok Li Younghong tidak kuasa membayar hutang-hutangnya pada 2018.
Elliot dan Gazidis kemudian menaruh kepercayaan pada para legenda untuk mengangkat tim kembali ke Liga Champions yaitu Leonardo (direktur olahraga), Paolo Maldini (srategi olahraga dan direktur pengembangan) dan Gennaro Gattuso (pelatih kepala).
Akan tetapi di akhir musim 2018/19, Leonardo dan Gattuso pergi setelah tim mengakhiri Serie A di peringkat lima.

Di tengah-tengah ketidakpastian masa depan Maldini, sang legenda justru mendapat promosi menjadi direktur teknik pada musim panas tahun lalu sebelum Zvonimir Boban dihadirkan untuk membantu di San Siro.
Maldini dan Boban mendapat tugas mengurus segala aspek olahraga dan kinerja mereka yang paling signifikan pada musim ini adalah menggaet Marco Giampaolo sebagai pelatih.
Sayangnya setelah tujuh pertandingan berlalu, mereka harus memecat mantan juru taktik Sampdoria tersebut.
Penerus Giampaolo adalah Stefano Pioli dan dia berhasil melakukan pekerjaannya dengan baik dengan menstabilkan tim yang sekarang menempati peringkat tujuh di klasemen sementara Serie A, tertinggal tiga poin dari urutan enam dengan satu laga lebih sedikit. Sementara kembalinya Zlatan Ibrahimovic pada Januari lalu telah mengangkat semangat seluruh lapisan klub.
Sayangnya, era Pioli sepertinya akan berakhir di akhir musim nanti hingga memilih pengganti yang tepat adalah langkah paling penting yang harus dilakukan oleh Milan pada tahun ini.
Boban marah besar ketika mengetahui Gazidis telah mengambil keputusan untuk menggaet Ralf Rangnick tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.
Boban memang dikenal tidak pernah takut berbicara secara terbuka dan dia memperlihatkan karakter itu ketika diwawancara oleh Gazzetta dello Sport pekan lalu.
"Dengan memperhitungkan segala kesulitan yang ada, perbedaan budaya dan semangat besar demi Rossoneri, hingga beberapa hari lalu saya tidak pernah percaya ada dua jiwa di Milan," ujarnya.
"Fakta kita ada di sini untuk membicarakan permasalahan tersebut adalah sesuatu yang tidak baik. Hal terburuk dari kejadian ini adalah meruntuhkan momen baik. Tim sedang menanjak dan Anda bisa melihat bagaimana Stefano Pioli bekerja keras."
"Tidak memberitahu kami bukan saja merupakan sebuah sikap tidak hormat tetapi juga jauh dari elegan. Itu bukan gaya Milan. Setidaknya bukan gaya Milan yang kami ingat."
"Kami sudah berbicara pada Gazidis. Demi Milan, sangat penting bagi kami untuk menggelar pertemuan dengan para pemilik klub."
Tetapi pembicaraan itu nantinya tidak akan mengarah pada perdamaian, melainkan negosiasi paket pesangon.
Boban bakal ditendang dan berikutnya Maldini. Yang tersisa dari situasi tersebut adalah konfirmasi resmi.
Mengingat popularitas Boban dan Maldini, tribun di San Siro dipastikan bergejolak dan balik menghantam klub dan jika itu terjadi pasti akan mempengaruhi kamar ganti tim.
Boban punya peran krusial saat tim membawa pulang Ibrahimovic, sementara Maldini adalah sosok di balik yang berhasil merayu Theo Hernandez menurunkan permintaan gaji untuk berkostum Rossoneri musim panas lalu.
GettyKecuali tentang Giampaolo yang harus diakui sebagai sebuah bencana, kedua direktur ini boleh mengklaim telah bekerja dengan baik di bursa transfer apalagi jika kita mengingat pada kesulitan finansial yang sedang dihadapi klub yang juga berujung pada diterimanya sanksi untuk tidak berlaga di Liga Europa demi menyeimbangkan buku rekening.
Terkait itu, kepada Gazzetta Boban sedikit memberi bocoran situasi finansial Milan. "Untuk sekarang, dengan segala upaya yang kami lakukan di bursa Januari, memangkas pengeluaran dan gaji pemain, kami masih belum tahu berapa dana yang bisa kami gunakan pada musim panas nanti."
"Kami dimita untuk menurunkan rerata usia skuad dan berhasil melakukan itu dengan perpaduan yang baik antara youngster dan pemain berpengalaman. Keputusan di Januari sudah tepat. Anda bisa melihat bagaimana para pemain muda meningkat dengan tajam di bawah bimbingan figur-figur senior."
"Tetapi pemilik klub juga harus bersikap tegas terkait ketersediaan dana dan target. Intinya, kami harus menghormati kebutuhan klub memperbaiki finansial, tetapi pemilik juga harus menghormati dan mempertanggunjawabkan hasil kepada mereka yang mewakili dan menjunjung tinggi sejarah dan nilai klub besar ini."
Jelas sudah, intervensi Gazidis di sektor teknis menjadi kekesalan nomor satu Boban.
"Gazidis berbicara dengan pelatih lain ketika itu tidak menjadi tugasnya," tutur Christian Vieri pada Tiki Taka. "Siapa sebenarnya Gazidis? Apa yang telah dia lakukan terhadap Milan? Boban dan Maldini ada di sana untuk mengerjakan itu."
"Boban tidak bisa menutup mulut, terima saja fakta itu. Anda butuh nyali untuk hidup, untuk menjadi lelaki sejati dan seperti itulah Boban. Saya tidak bisa mengatakan dia telah dipecat."
"Apa yang terjadi adalah, Gazidis itu pengecut dan bekerja secara diam-diam. Boban bukan boneka. Dia punya karakter kuat dan suka mengatakan apapun yang dia mau di depan muka Anda."

Curva Sud, para ultras Milan, merasa jijik adegan ini secara bebas menjadi santapan publik. Pertengahan pekan lalu mereka mengeluarkan pernyataan agar para petinggi klub menuntaskan pekerjaan tidak secara terbuka karena di mata fans, kondisi tersebut merupakan penegasan sebuah kekacauan.
Ultras juga menunjuk kesalahan yang telah dilakukan oleh Boban dan Maldini mereka menuding keduanya tidak melakukan apapun secara maksimal demi kebaikan klub.
Tetapi pada akhirnya, inti dari semua ini adalah Gazidis selalu mendapat dukungan penuh dari Elliot dan dia memang telah melakukan langkah-langkah radikal sejak musim panas tahun lalu.
Gazidis percaya, ketika finansial mengekang langkah klub maka jalan terbaik yang harus diambil adalah secara eksklusif fokus pada pemain muda. Inilah alasan mengapa dia pernah menjajaki kemungkinan mendatangkan direktur olahraga Lille Luis Campos sebelum Boban dihadirkan.
Sikap Gazidis terkait Rangnick bisa dikatakan sebagai upaya paling akhir yang bisa dilakukannya. Pelatih asal Jerman tersebut dikabarkan bakal mendapat kuasa penuh di klub, dengan kata lain dia akan bekerja sebagai pelatih, direktur teknik sekaligus kepala pemandu bakat.
Ini adalah langkah yang menarik dari Gazidis apalagi jika mengingat kiprah dia di masa lalu yang berhasil mencabut keiistimewaan tersebut dari Arsene Wenger di Arsenal.
Sekarang kemewahan itu akan diserahkan pada Rangnick di San Siro. Harus diakui pelatih ini punya catatan bagus dalam mengembangkan pemain muda.
Milan punya sejarah yang sangat layak untuk diagunkan, tetapi mereka harus melupakan itu semua agar fokus ke masa depan.
Mengingat dukungan penuh dari Singer, perang sipil ini rasanya hanya akan dimenangkan oleh Gazidis.
Satu-satunya pekerjaan rumah yang harus dilakukannya adalah memastikan revolusi Rangnick berjalan mulus.
Jika gagal, maka bersiaplah Gazidis...
Mungkin pertanyaan loyalis Milan akan lebih tajam dari yang pernah dia hadapi di London.
