Kemenangan 3-2 pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions melawan Porto, Rabu (10/3) WIB, tak cukup buat bawa Juventus melaju ke fase berikutnya, setelah kalah gol tandang dengan agregat 4-4.
Megabintang Bianconeri Cristiano Ronaldo tak tampil apik pada laga tersebut, membuatnya dikritik oleh para penggemar Juve.
Tak heran jika penggemar berharap banyak kepada pemain yang berhasil meraih Ballon d’Or sebanyak lima kali itu, karena Ronaldo didatangkan dengan harapan dapat memberikan magisnya kepada Juventus untuk bisa memenangkan Liga Champions. Apalagi, dirinya punya label Mr. Champions League merujuk pada kepiawaiannya menaklukkan kompetisi ini.
Pemain yang ditransfer dari Real Madrid dengan mahar £99,2 juta pada tahun 2018 itu nyatanya tak mampu membuat tim Turin berbicara banyak di Liga Champions.
Praktis sejak berseragam Juve, Ronaldo tak pernah berhasil membawa timnya hingga ke semi-final, dengan perjalanan terjauh Bianconeri bersama pemain internasional Portugal itu ada di musim 2018/19 ketika berhasil lolos ke babak perempat-final, dan terhenti oleh Ajax Amsterdam dengan agregat 3-2 di fase tersebut.
Tiga musim sudah Ronaldo berada di Turin, dan tiga musim juga Juventus bersama CR7 hanya menjadi tim penggembira di Liga Champions. Padahal selama di Los Blancos, mantan pemain Manchester United itu selalu membawa tim yang bermarkas di Santiago Bernabeu tersebut setidaknya mencapai semi-final selama delapan musim beruntun.
GettyDari musim 2010/11 hingga tahun terakhirnya di Madrid yakni musim 2017/18, Ronaldo selalu sukses membawa Los Blancos melaju ke partai semi-final Liga Champions. Bahkan selama di Spanyol, CR7 mampu mengangkat trofi si kuping besar sebanyak empat kali, termasuk tiga kali secara beruntun dari musim 2015/16 hingga 2017/18.
Namun bersama Juventus, Ronaldo benar-benar gagal total, dan yang membuat penggemar kesal adalah, langkah Bianconeri selalu dihentikan oleh tim yang tidak diunggulkan, dengan Ajax Amsterdam di musim 2018/19, Olympique Lyon di 2019/20 dan yang terbaru ini Porto.
Pemain asal Portugal tersebut seolah-olah kehilangan sentuhan ajaibnya di Liga Champions. Meskipun mampu mencetak empat gol dan dua assist dari enam pertandingan di Liga Champions musim ini, hal itu tidak berarti apa-apa jika langkah timnya harus terhenti lebih dini.
Pertandingan melawan The Dragons membuatnya mendapat kecaman keras dari para loyalis bahkan dari eks pemain dan pelatih Juventus, Fabio Capello.
Capello bereaksi keras terhadap kesalahan Ronaldo yang menyebabkan Bianconeri kebobolan.
“Gol Porto di babak pertama adalah hadiah, ada satu hal yang mesti diperhatikan berikutnya. Beberapa gol seharusnya tidak perlu terjadi,” ungkap Capello dilansir dariAS.
“Penalti malam ini adalah hadiah lain. Demiral terlalu naif, itu kesalahan yang sangat serius. Namun ada hal yang lebih serius lagi, yakni Cristiano Ronaldo melompat dan membalikkan badan di pagar betis.”
“Di zaman saya, Anda memilih pemain-pemain yang membentuk pagar betis dan jangan sampai mereka justru pemain yang takut dengan bola. Nyatanya kali ini mereka taku dengan bola dan melompat untuk menghindarinya, membalikkan badan. Itu tak termaafkan."
getty ImagesMasa emas Ronaldo mungkin sudah tamat. Usia 36 bukan lagi angka ideal dalam hitung-hitungan level kompetitif sepakbola. Generasi pun telah berubah. Tunas-tunas calon suksesor dia di Liga Champions mulai memancang, sebut saja Erling Haaland atau Kylian Mbappe.
Kisah heroik Ronaldo di kompetisi tertinggi Benua Biru merupakan bagian dari sejarah hebat sepakbola. Namun terus bertumpu asa di pundak sang megabintang pun bukan pilihan yang elok.
Setelah semua ini, Juventus boleh jadi mulai berpikir masak-masak perihal masa depan sang kapten Portugal di Turin. (*Yos)




