Mantan presiden Barcelona Joan Laporta siap kembali maju di dalam pemilihan presiden klub Catalans untuk melengserkan incumbent Josep Bartomeu.
Bartomeu berada di bawah tekanan setelah enam direksi klub, termasuk wakil presiden Emili Rousand, memilih untuk resign dari jabatan masing-masing.
Mereka mengungkap skandal 'Barcagate' sebagai bukti kebobrokan manajemen di bawah Bartomeu. Sementara Rousand lebih jauh lagi dengan membeberkan bahwa keuangan Blaugrana telah dioperasikan secara ilegal.
Laporta menjalankan klub selama tujuh tahun antara 2003 dan 2010, membangun tim terbaik Barcelona dalam sejarah di bawah komando Pep Guardiola.
Kini, dia mempertimbangkan untuk menantang kembali kursi presiden Barca. Dia menyoroti betul perihal finansial klub.
"Ini adalah proyek yang membuat saya sangat bersemangat, saya mengumpulkan orang-orang yang saya percayai karena kami harus berpikir keras soal bagaimana memulihkan situasi ekonomi," ujarnya kepada saluran Youtube GOL, Jumat.
"Klub berada dalam situasi yang sangat sulit, €3 miliar [bujet Barca saat ini termasuk pendapatan, pengeluaran dan utang] dan sungguh penting untuk menyajikan proposal yang realistis dan menawarkan proyek olahraga yang mengumpulkan antusiasme dan memperbaiki citra institusi kami," sambungnya.
"Saya senang akan kembali, tapi saya masih punya ruang untuk mengambil keputusan," katanya lagi.
Laporta memang tengah mempersipkan diri untuk bisa kembali duduk di kursi orang nomor satu di Camp Nou, tetapi dia tidak sepakat mengedepankan pemilihan presiden di tengah masa pandemi corona.
"Pemilihan harus berlangsung sesuai jadwal, pada Juli 2021," ujarnya.
Bartomeu memimpin Barcelona sejak 2014 ketika dia mengambilalih posisi Sandro Rosell yang memutuskan untuk mengundurkan diri karena kasus Neymar, yang memunculkan tuduhan pidana penipuan pajak.
Kekalahan Laporta sendiri dari Bartomeu di pemilihan presiden 2015 lalu hanya dengan marjin tipis.
