Pablo Aimar, Johor Darul Ta'zimJohor Southern Tigers

Kisah "Pernikahan" Singkat JDT & Pablo Aimar - Kenapa Superstar Argentina Ini Gagal Melejit Di Malaysia

Pablo Aimar melalui dua periode yang sangat kontras bila melihat hasil dari kariernya ketika berada di Malaysia. 

1997 silam, Aimar mendarat di negeri ini bersama timnas Argentina untuk bersaing di FIFA World Youth Championship bareng nama-nama beken seperti Esteban Cambiasso, Juan Roman Riquelme dan Walter Samuel.

Selepas turnamen itu, lantas mencuat pemain-pemain besar yang kita kenal seperti Thierry Henry, David Trezeguet, Nicolas Anelka, Shunsuke Nakamura, David Albelda dan Michael Owen. 

Akan tetapi, timnas Argentina tampak berbeda dan punya sesuatu yang bisa ditawarkan dari bakat alami Aimar untuk masa depan.

Aimar saat itu berusia 17 tahun, tapi sudah menunjukkan talenta menjanjikan hingga dikomparasikan dengan legenda besar Diego Maradona ketika dia memimpin Albiceleste melejit di turnamen itu. Usai menuntaskan fase grup di Perlis, Aimar dan kolega berkunjung ke Johor Baru untuk menghadapi Inggris di babak 16 besar.

Penampilan di Tan Sri Dago Haji Hassan Yunos Stadium pada 26 Juni 1997 bagi Aimar bukanlah jadi yang terakhir di venue itu, sebab dia kemudian bergabung dengan Johor Darul Ta'zim pada 2014 ketika dia berada d pengujung kariernya, usia 34 tahun, setelah melalui petualangan impresif di River Plate, Valencia, Real Zaragoza dan Benfica.

Pablo Cesar Aimar Juan Roman Riquelme during a training session of Argentina in Nuremberg 17062005Getty Images

JDT baru berada di musim kedua dari proses rebranding mereka dan perekrutan Aimar menandakan tekad kuat klub untuk menggapai level tertinggi. Kedatangan Luciano Figueroa di musim yang sama tidak seantusias yang ditunjukkan fans pada Aimar, tapi keduanya benar-benar memberikan kontribusi yang berbeda bagi klub.

Aimar hanya bermain dalam delapan pertandingan musim itu, mencetak dua gol. Kesulitan mencapai kebugaran, petualangan kedua Aimar di Malaysia hanya bertahan selama empat bulan dan dia hengkang pada April 2014. 

Kepergiannya meninggalkan kekecewaan mengingat besarnya ekspektasi pada dirinya. HRH Major General Tunku Ismail Ibni Sultan Ibrahim mengungkapkan sejumlah alasan kenapa karier sang pemain tidak berjalan sesuai harapan.

"Saya kira, Aimar bekerja dengan sangat baik. Hanya saja pada saat itu kami belum siap terhadap Pablo Aimar. Kami tidak siap memiliki pemain dengan kaliber sepertinya dalam hal tim, struktur, fasilitas... Segalanya," ujarnya kepada Goal.

"Sistem kami sendiri dalam proses untuk berkembang," jelasnya.

"Menurut saya, Aimar adalah pemain top dan memainkan peranan penting dalam kesuksesan kami dan juga mempromosikan nama kami secara internasional. Tentu, kami puas dengan kualitasnya, tapi kami tidak siap. Tentu, orang-orang punya ekspektasi tinggi, tapi saya menilai, tidak ada ekspektasi yang terlalu berlebihan," urainya.

"Dia di usia kepala tiga dan di tengah prospek pensiun saat bergabung dengan kami. Saya menilai, dalam hal sepakbola, kontribusi terhadap filosofi kami adalah yang paling saya apresiasi ketimbang hanya menganalisis apa yang dia bisa lakukan di lapangan. Itu lebih seperti pembelajaran bagi kami," tutur sang supremo.

Dalam kemewahannya, Aimar adalah playmaker kreatif dengan visi dan teknik dalam mengeksekusi umpan, memiliki kapabilitas untuk melakukan dribel melewati lawan dan mencetak gol bukanlah salah satu atribut utama dia. Sepanjang berkarier, dia berhasil memberikan kontribusi secara seimbang.

Sungguh jadi kekecewaan ketika fans sepakbola di Malaysia tak dapat melihatnya lagi, 17 tahun setelah dia memikat hati mereka. 

Aimar sudah mengalami kemunduran dan tak lagi punya kapasitas fisik untuk menghasilkan permainan seperti yang ada di imajinasinya dan benak orang-orang.

"Pernikahan" singkat antara dirinya dan JDT benar-benar jauh panggang dari api. Tak ada sesuatu yang bisa diceritakan dengan epik.

Mendatangkannya sempat membuat JDT jadi pembicaraan dunia, karena status yang dimiliki Aimar. Lebih dari itu, kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi TMJ dan JDT terkait rencana masa depan mereka, tipe pemain asing seperti apa yang harus mereka angkut kelak.

"Saya lebih tertarik memiliki 11 pemain yang berlari di lapangan dibandingkan seorang VIP, yang punya nama besar tapi sepuluh pemain lain perlu berlari untuknya. Saya lebih suka 11 pemain kuat yang bersedia mati untuk satu sama lain di lapangan," kata Tunku Ismail.

"Adalah ide yang baik untuk mempromosikan JDT saat itu dan mungkin sangat bagus memiliki pemain besar lainnya di sini kelak, tapi itu tergantung dari pemainnya karena memiliki sosok lain seperti Luciano Figueroa, yang berkontribusi dalam bertahan dan menyerang sepanjang waktu tidaklah mudah," lanjutnya.

"Terutama karena Tiongkok yang merusak pasar, memiliki seorang superstar di sini tidak akan mungkin karena mereka lebih senang merapat ke Tiongkok atau bahkan Jepang, kecuali mereka berencana untuk pensiun atau kami membayar dengan uang yang besar, yang saya kira tidak baik bagi JDT atau tidak adil bagi klub karena kami punya hal lain untuk dipertahankan," urainya.

"Untuk stabilitas finansial, saya lebih senang memiliki pemain-pemain bagus, para pemain lapar yang belum banyak mengecap kesuksesan. Memiliki seperti mereka lebih bergairah daripada seseorang yang ingin bayaran besar dan menganggapnya sebagai liburan," tandas Tunku Ismail

Iklan
0