Jack Wilshere Jordan HendersonGetty

Jack Wilshere & Jordan Henderson, Pilihan Berisiko Inggris

Sudah jadi rahasia umum jika timnas Inggris merupakan tim semut yang digajahkan setiap kali ada turnamen akbar sepakbola.

Entah itu Euro atau Piala Dunia, The Three Lions pasti jadi unggulan khalayak mayoritas sepakbola, tapi hasilnya nyaris selalu nihil. Gelar Piala Dunia 1966 yang mereka raih di rumah sendiri, merupakan satu-satunya alibi yang dimiliki dan terus diungkit-ungkit.

Namun setelah sekian lama jadi pecundang terselubung, harus diakui bila Inggris saat ini benar-benar layak untuk jadi unggulan di Euro 2016 nanti. Sejak era Sir Boby Charlton, tampaknya tak pernah kita melihat mereka bisa sebagus ini.

Tim asuhan Roy Hodgson secara luar biasa meraih hasil sempurna di babak kualifikasi. Mereka juga tampil begitu brilian di partai uji coba dengan menahan Italia dan mengalahkan Prancis serta sang juara dunia, Jerman.

Meski begitu kerentanan tetap saja hadir di tubuh Inggris, dalam persiapannya menuju turnamen yang digelar di Prancis tersebut.

Utamanya setelah Hodgson mengumumkan skuat sementara timnya, yang berjumlah 26 pemain dan akan direduksi menjadi 23 sesuai kuota ketentuan Euro.

646eb76508299c2f4d328d221ee82638c068f307

Wilshere dan Hendo jadi pilihan berisiko Hodgson

Selain kontroversi tak dipanggilnya Theo Walcott, terdapat satu keputusan pemanggilan lain yang dinilai mengherankan. Adalah disertakannya duo pemain yang berposisi sebagai gelandang tengah, yakni Jack Wilshere dan Jordan Henderson.

Jika hanya didasarkan pada kepopuleran nama beserta talenta kedua pemain yang memang mentereng, tentu tak ada yang keliru dengan keputusan ini. Namun Hodgson dinilai salah momen memanggil Wilshere dan Henderson.

Keduanya sama sekali tak menjalani musim 2015/16 yang baru saja berakhir dengan baik. Bukan lantaran performanya yang buruk, tapi karena mereka terhalang oleh cedera parah.

Henderson, sang kapten Liverpool, menderita komplikasi cedera nyaris di sepanjang musim ini secara berselingan. Mulai dari punggung, metatarsal, otot ringan, hingga ligamennya yang terkoyak. Musibah itu membuatnya tak bisa konsisten mengeluarkan kemampuan terbaik. Ia pun tak bisa disebut punya kontribusi besar pada kesuksesan The Reds melaju ke final Piala Liga Inggris dan Liga Europa.

Wilshere jauh lebih mengenaskan. Retak di tulang betis pemain milik Arsenal ini membuatnya hanya mentas di tiga laga pamungkas penghujung musim ini!  Secara mental dan fisik, jelas bahwa keduanya tak bisa dibilang dalam kondisi terbaik untuk turut serta ke Euro 2016.

917ffcf7446642c51d5f1c1a6b8f32e9452200e7

Memiliki posisi yang sama sebagai gelandang tengah, dengan spesifikasi sebagai distributor bola ke lini depan, bukan tak mungkin Hodgson akan mencoret salah satu di antara Wilshere dan Henderson. Ada tiga kemungkinan yang bisa dijadikan tolak ukur sang pelatih dalam keputusannya nanti.

Pertama adalah performa di level klub. Jika itu yang dijadikan komparasi, jelas bahwa Henderson lebih layak masuk ke timnas, karena memiliki menit bermain 1.616 lebih banyak dari Wilshere.

Selain itu statistik teknis mantan pemain Sunderland ini juga tak mengecewakan, dengan mencatat dua gol, tiga assist, , 62 tekel sukses, 26 umpan kunci, plus akurasi operan mencapai 80,5 persen.

Kedua di sisi sebaliknya, yakni performa di level timnas. Jawabannya pun berkebalikan, yakni Wilshere yang jauh lebih layak. Dengan mayoritas duel kualifikasi dimainkan pada musim lalu, pemain 24 tahun itu sukses tampil sebanyak tujuh kali dari total 10 laga.

Dari jumlah tersebut Wilshere berhasil enam kali keluar sebagai man of the match, yang membuat dirinya jadi pemain terbaik Inggris di kualifikasi! Sementara Henderson yang tampil enam kali, tak cukup krusial dengan hanya menyumbang sebiji assist.

9b310e81a5e53782a3c92a7c27a020d70f42122e

Ketiga adalah tak mencoret keduanya, berdasar pada pertunjukan singkat selama kamp pelatihan jelang turnamen.

Hal ini dimungkinkan menilik di babak kualifikasi lalu Wilshere dan Henderson enam kali dimainkan secara bersamaan, tanpa timbul masalah apapun. Meski begitu nama yang disebut terakhir kerap dikorbankan untuk digeser menjadi sayap kanan.

Andai Hodgson mengambil keputusan yang terakhir ini, besar kemungkinan Fabian Delph atau Eric Dier yang akan disisihkan dari pos gelandang.  Kedua pemain itu memiliki posisi yang sama dengan Wilshere dan Henderson, namun gaya bermainnya cenderung lebih pragmatis dan minim pengalaman internasional.

“Wilshere? Di antara kami berdua, sejatinya tidak ada nama yang benar-benar aman [ikut ke skuat final Euro]. Semua berjuang untuk masuk dalam tim yang akan pergi ke Prancis, tak berbeda dengan saya,” tutur Henderson soal persaingannya dengan Wilshere, seperti dikutip Liverpool Echo.

Bagaimanapun situasi terkini membuat pemanggilan keduanya amat berisiko bagi Tim Tiga Singa. Hodgson jelas tak bisa sekonyong-konyong menyingkirkan gelandang berkualitas lain yang telah dipanggil macam Ross Barkley, Delle Alli, James Milner, dan tentu saja Delph serta Dier.

Keputusan sepenuhnya ada di tangan Hodgson dan mari kita nantikan nasib seperti apa yang akan dietentukannya pada Wilshere dan Henderson, guna menjaga momentum Inggris untuk tak lagi jadi pecundang di Euro 2016 esok!

Iklan