Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
32a97203a8e806ae338486b2c7fadbe457c54bc1

Italia Tak Bisa Bohongi Jati Diri

“Jangan harap Italia akan main bertahan. Sepakbola saya adalah menyerang dan kami akan melakukan itu. Mengandalkan serangan balik? Saya punya deretan pemain yang ahli dalam situasi tersebut. Sayang, skema seperti itu tak ada dalam kamus saya bahkan saya lebih suka kebobolan karena serangan balik,” seru pelatih timnas Italia, Antonio Conte, sepekan jelang duel hadapi Belgia.

Jika dilihat dari riwayat kepelatihannya, pernyataan Conte untuk melenyapkan jati diri Italia yang gemar bertahan lewat filosofi catenaccio bisa dimaklumi. Terutama ketika melatih Juventus, ia menunjukkan bahwa taktik menyerang-agresifnya mampu torehkan prestasi masif.

Hal itu ditegaskan dalam komposisi skuat final Italia di Euro 2016 ini, yang kental dengan nuansa ofensif. Conte menumpuk winger dan gelandang pemenang bola, yang tak gemar memperlambat tempo. Ia pun menunjukkan perubahan identitas La Nazionale yang menyerang, dalam deretan uji coba jelang dihelatnya turnamen.

Namun dua hari jelang bentrok kontra Belgia, Conte sepertinya sadar bahwa dirinya telampau naif untuk wujudkan wajah berbeda bagi Italia. Perubahan drastis pada identitas tim yang sudah hinggap nyaris seabad lamanya, bisa jadi senjata makan tuan.

Di kamp latihan Montpellier, Conte kemudian menyelipkan menu latihan bola-bola panjang khas serangan balik, di tengah mayoritas ramuan mentah skema menyerang. Sosok berusia 46 tahun itu paham ia tak bisa bohongi jati diri Azzurri.

32a97203a8e806ae338486b2c7fadbe457c54bc1
Trio BBC jadi poros Italia

Ya, jati diri catenaccio yang menitikberatkan permainan di lini pertahanan. Jati diri yang membawa Italia ke puncak dunia sebanyak empat kali plus sekali jadi penguasa Eropa. Jati diri yang begitu tersohor yang mampu membuat Italia mematri status sebagai salah satu tim terbaik di dunia.

Italia lantas mementaskannya dengan sempurna saat hadapi Belgia, Selasa (14/6) dini hari WIB. Seperti biasanya, mereka menikmati penderitaan dari sang lawan yang punya lini depan mewah, tapi hanya butuh sekelumit momen untuk membunuh hasil.

Trio BBC -- Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, Giorgio Chiellini, secara mengejutkan jadi poros permainan Italia. Sadar tak memiliki dan telah memutuskan untuk tak membawa gelandang pengatur tempo, Conte memusatkan sirkulasi bola pada tiga bek yang ia satukan ketika melatih Juve tersebut.

Tak heran jika di sepanjang laga ketiganya mampu mengoleksi 122 operan, yang lebih banyak dari sektor manapun untuk Italia. Mereka pun ditugaskan untuk gemar melepaskan umpan lambung langsung ke depan, guna hadirkan serangan balik mematikan. Hebatnya 16 dari 25 umpan lambung yang dilancarkan, sukses menemui sasaran.

Satu di antaranya bahkan berbuah gol tak terduga dari Emanuel Giaccherini, yang membuka kemenangan Italia. Gelandang berpostur 167 centimeter itu dengan nikmat menerima umpan mahal Bonucci dari sektor pertahanan, sebelum menaklukkan Thibaut Courtois.

d07e31842e284a2e1bc075c19cbc854db7b0dd77

Meski begitu, bukan berarti trio BBC lantas melupakan lini pertahanan yang tetap jadi tugas utama mereka. Dengan bantuan ekstra kiper sekelas Gianluigi Buffon dan gelandang bertahan elite macam Daniele De Rossi dan Thiago Motta, Italia dibuatnya sempurna menegaskan identitas catenaccio.

Belgia yang diperkuat pemain-pemain ofensif sekelas Eden Hazard, Marouane Fellaini, Dries Mertens, Kevin De Bruyne, hingga Romelu Lukaku, dibuatnya tak berdaya walau mampu menguasai bola hingga 57 persen.

Dari 18 tembakan yang mereka lepaskan, hanya tiga yang tepat sasaran. Bahkan cuma dua yang dilakukan dari dalam kotak penalti. Statistik macam itu, jelas membuat tim manapun nyaris mustahil menghasilkan gol.

Tampak begitu hebat, tapi Italia tak boleh jemawa. Mereka juga terbantu dengan skema menyerang monoton Belgia, yang begitu minim kreasi. Wilmots seakan tak memilik bekal taktik yang cukup untuk bertarung melawan allenatore papan atas macam Conte.

8e92cfd7a1681e3812bbff3e8fafa06cb28ac7e5

Pada akhirnya skor 2-0 untuk kemenangan Italia jadi hasil akhir pertandingan. Graziano Pelle melengkapi raihan positif, lewat gol-nya di detik pamungkas laga. Situasi ini tentu meringankan langkah Gli Azzurri untuk lolos ke babak 16 besar.

Conte jelas bahagia dengan hasil tersebut, meski harus mengkhianati hasratnya sendiri untuk bermain menyerang. “Ya, pada akhirnya kami harus menderita ketika memang dibutuhkan. Hasil ini bagus, tapi kami belum meraih apapun. Ingat Piala Dunia 2014 lalu, di mana kami menang pada laga perdana tapi gagal lolos fase grup,” ujarnya bijak.

Sementara Wilmots tampak tak terima dengan hasil negatif ini. Secara tersirat ia menyebut Italia “tak bermain sepakbola” karena hanya bertahan dan mengandalkan serangan balik. Mantan kapten timnas Belgia itu, sepertinya hilang ingatan dengan gaya sepakbola apa yang selalu diusung Italia.

Wilmots juga mungkin harus meresapi pernyataan Giorgio Chiellini beberapa waktu lalu; “Italia adalah tim yang menang dengan skor 1-0 atau 2-0. Ketika Anda melihat kedudukan 4-3 di papan skor, maka bisa dipastikan itu bukan kami.”

SUKA CERITA INI?

Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

Ikuti GOAL di Google