Baru-baru ini, Lionel Messi melakukan wawancara di Argentina dan menyebut MLS sebagai "liga rendah" saat ditanya apakah dia ingin tampil di Amerika Serikat selaku tuan rumah Piala Dunia 2026.
Kedatangan Messi di klub milik David Beckham Inter Miami menandai titik balik bagi klub dan MLS itu sendiri. Apple dan adidas mendanai sebagian kontrak Messi senilai $60 juta per tahun. Kontrak itu berpotensi diperpanjang hingga 2026.
Apple membayar kesepakatan itu, dengan berlangganan agar bisa menonton Messi bermain, sementara adidas memberi sang megabintang persentase dari penjualan jersey yang bernama punggung Lionel Messi.
MLS mungkin liga yang kualitasnya tak setinggi di Spanyol atau Prancis, di mana Messi pernah bermain di keduanya selama masa-masa emasnya di Eropa.
Akan tetapi, komentar terbarunya dalam wawancara dia di Argentina saat merefleksikan bagaimana capaian Piala Dunia negaranya tahun lalu, telah membuat banyak fans MLS sakit hati.
Ketika ditanya soal Piala Dunia 2026, Messi kepada Star+ mengatakan: "Saya sudah bilang beberapa kali dan itu adalah kenyataan. Saya selalu berusaha untuk bersaing secara maksimal dan saya adalah yang pertama tahu kapan saya bisa berada di sana dan kapan saya tidak bisa."
"Saya juga menyadari bahwa saya datang ke liga rendah, akan tetapi banyak hal terjadi karena cara seseorang menghadapinya dan bersaing," tandas Messi, yang kemudian perkataannya ini jadi polemik.
Ketika dia bergabung ke Miami di musim panas, Messi membuat impak instan, memimpim tim barunya ini keluar sebagai juara Piala Liga dan mencetak 11 gol dalam 14 pertandingan pertama. Klub juga menembus final U.S Open Cup, meski kalah dari Houston Dynamo setelah Messi menepi di laga final karena cedera.
Inter Miami hampir gagal lolos ke babak play-off pascamusim MLS setelah awal yang buruk di 2023 di bawah manajer Phil Neville.
