Napoli & MaradonaNapoli & Maradona

Sang Dewa Naples Akan Bangga: Inilah Rupa Napoli-nya Diego Maradona

Napoli memasuki Oktober dengan rekor tujuh kemenangan dari tujuh pertandingan. Mendiang Diego Maradona tentu akan bangga dengan start sempurna ini.

Bagi fans vintage Napoli, kesempurnaan Azzurri di tahapan awal musim ini mengingatkan mereka pada romantisme memori indah tiga dekade silam.

Sudah 31 tahun sejak Diego Maradona memimpin tim penuh bakat untuk meraih Scudetto yang tak akan pernah terlupakan, ditandai dengan laju 16 laga tanpa terkalahkan pada kampanye Serie A Italia 1989/90. Nostalgia dan realitas adalah dua kenyataan yang berbeda, tapi fans Partenopei mulai memupuk asa tinggi setelah mencatatkan tujuh kemenangan dari tujuh pertandingan.

Berada di puncak klasemen, melesatkan 18 gol dan hanya kebobolan tiga kali, ini benar-benar jadi petanda positif Scudetto akan jauh lebih terbuka untuk diperebutkan selama lebih dari sedekade.

Napoli mungkin tidak akan pernah memiliki tim yang berada pada dimensi era terbaik sepanjang masa milik Maradona. Namun, di dalam stadion yang menyandang namanya, optimisme di kalangan suporter terus menggelora. Kapten dan orang Neapolitan asli, Lorenzo Insigne -- yang menjadi bagian dari tim Maurizio Sarri yang merangkai delapan kemenangan beruntun sebelum finis di edisi 2017/18 di posisi runner-up -- tidak terlalu berani untuk membahas apa pun mengenai perburuan Scudetto , sebagai sikap humble dari seorang pemimpin lapangan.

Diego Maradona NapoliAltitude

Kehilangan satu tempat di kompetisi Liga Champions setelah hasil imbang menyakitkan di kandang sendiri kontra Hellas Verona musim lalu, akan selalu menjadi hari paling menyakitkan bagi seorang kapten yang merasakan kesedihan tifosi lebih dari pemain lain di skuad Luciano Spalletti.

Insigne, 30 tahun, telah memasang target finis di posisi empat besar, dan bukti kesempurnaan di setengah lusin lebih laga pembuka menandakan Napoli setidaknya berada di jalur yang tepat untuk mengamankan spot Liga Champions musim depan jika membicarakan Scudetto untuk saat ini masih dianggap 'tabu'. Satu-satunya cacat dalam rangkaian kesempurnaan Napoli di seluruh kompetisi sejauh ini adalah kekalahan di kandang sendiri melawan Spartak Moskwa dalam laga fase grup Liga Europa.

Ada banyak pekerjaan rumah setelah kekalahan 3-2 di kancah Eropa bagi Spalletti, namun hal itu tidak serta merta menodai catatan komprehensif tim untuk menggapai puncak klasemen di ajang Serie A.

Kemenangan 2-1 atas Fiorentina di Stadio Artemio Franchi bukanlah suatu kebetulan.

Kendati kebobolan gol duluan melalui aksi Lucas Martinez Quarta di paruh pertama, Napoli berhasil memecahkan kebuntuan mereka setelah penalti Insigne bisa dihalau, bola rebound dimaksimalkan dengan baik oleh Hirving Lozano untuk menetralkan keadaan.

Napoli tidak mendominasi laga, tapi membuktikan mereka menjadi tim yang lebih memiliki mental baja. Mampu membaca momen-momen berbeda di pertandingan, dan setelah gol Amir Rrahmani di paruh kedua, Partenopei tampak masih bisa mengemas gol lebih banyak dari situasi serangan balik.

Pendekatan dan sikap mereka di pertandingan ini jauh berbeda dan berkelas.

Kalidou Koulibaly - Fiorentina NapoliGetty Images

Statis dan cenderung bergerak ke samping daripada bermain langsung ke depan di bawah kepemimpinan Gennaro Gattuso, kini ada semangat yang kuat dan tajam, terutama di lini tengah mereka.

Piotr Zielinski dan Fabian Ruiz sekarang menjadi ancaman nyata dan lebih gemar mengejar shot on taget di area-area utama ketimbang terus bermain dalam pola segitiga berulang.

Pemain internasional Polandia dan Spanyol itu telah membukukan beberapa gol liga, ditambah kecepatan dan penetrasi menawan dari Insigne, Matteo Politano dan Hirving Lozano di kedua sayap Napoli akan terus menghadirkan peluang-peluang bagus di setiap pertandingan.

Sejauh ini, Victor Osimhen bisa diandalkan untuk mengonversi setiap peluang seiring dirinya telah mengemas empat gol, luar biasa saat menahan dan mengontrol bola, cerdas dalam bergerak, dan dominan di udara. Bintang Nigeria ini membuktikan kenapa Napoli berani menebusnya senilai €70 juta dari Lille di musim panas 2020 untuk membuat dia memecahkan rekor transfer klub.

Partenopei hanya perlu memastikan, konsistensi Osimhen ini tidak luntur seiring berjalannya liga agar klub bisa mempertahankan posisi di pucuk tabel.

Tentu, sang protagonis baru tak bisa berkembang sendirian. Pemeran pendukung akan sangat diperlukan di sini untuk menjaga tren cemerlang Napoli sejauh ini.

Bek berkebangsaan Kosovo Rrahmani terlihat tidak keluar dari posisinya di empat laga terakhir dan telah mengamankan dua gol. Sementara gelandang berbakat Makedonia Elif Elmas, winger Aljazair Adam Ounas dan attacker Italia Andrea Petanga dipertahankan meski ada upaya transfer peminjaman dari Sampdoria di bursa jual-beli pemain lalu. 

Saat harapan membumbung tinggi, kejayaan di masa lalu akan menjadi obsesi. 

Maradona NapoliGetty

Mural raksasa Maradona yang menghiasi tembok kota akan menjadi pengingat sepanjang masa atas dinasti hebat yang telah dibangun sang legenda besar sepakbola lebih dari tiga dekade lalu.

Menariknya, Spalletti yang sempat mempermasalahkan kedalaman skuadnya di musim ini, justru sama sekali tak menunjukkan adanya problem apa pun di antara para pemainnya.

Setidaknya untuk saat ini, tifosi Napoli yang sudah puluhan tahun menderita, bisa berbangga atas pencapaian awal timnya. Mempertontonkan permainan cantik untuk berada di puncak klasemen, Maradona pasti bangga.

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0