Perubahan taktik Gareth Southgate terbayar dengan kemenangan Inggris atas Jerman kemarin Selasa (29/6), namun sang manajer mengaku ia bisa "mampus" jika taktiknya terbukti salah.
Inggris menaklukkan Jerman 2-0 berkat gol Raheem Sterling dan Harry Kane pada babak kedua demi mengamankan tempat di perempat-final Euro 2020.
Sebelum sepakmula dan selama babak pertama, Southgate dikritik karena memilih skema 3-4-3, yang justru akhirnya mengantarkan kemenangan bagi The Three Lions atas sang rival.
“Saya tahu saya mengubah bentuk, memilih pemain tertentu alih-alih yang lain, dan jika salah, bisa mampus," ujar Southgate kepada BBC One. "Kami harus menggunakan cara yang kami percayai. Kami ingin menekan dengan agresif di seluruh lapangan dan merasa cara terbaik untuk melakukan itu adalah dengan menyamai [formasi] mereka."
"Kami merasa kecepatan di belakang Harry bisa menimbulkan masalah bagi mereka. Saya merasa Bukayo [Saka] dan Raheem menciptakan bahaya di belakang garis pertahanan mereka sejak awal. Kami juga bertahan dengan brilian dan kiper kami hebat. Ini adalah penampilan yang luar biasa."
Southgate menggunakan skema empat bek saat memandu Inggris menjuarai babak grup.
Ia menggunakan 4-3-3 di dua laga pertama saat mengalahkan Kroasia dan diimbangi Skotlandia, sebelum memasukkan Jack Grealish dan memakai 4-2-3-1 pada pertandingan kontra Republik Ceko.
Southgate senang para pemain bisa membuat negaranya bangga dan meruntuhkan tembok bernama Jerman yang telah menghentikan laju Inggris berulang kali sepanjang sejarah, namun berkata kemenangan ini tidak akan berarti jika Inggris terpeleset di babak selanjutnya dan mengajak skuadnya untuk memanfaatkan momentum.
"Saya cuma merasa ini sore hari yang brilian," ujar Southgate. "Kami bicara tentang membawa kesenangan bagi bangsa dan sore hari seperti ini adalah segalanya."
"Para pemain luar biasa hebat ... penggemar juga - hanya 40.000 tetapi ini atmosfer terbaik yang bisa saya ingat di Wembley."
"Kami bermain dengan sangat baik, saya merasa kami pantas menang tetapi harus bilang kepada mereka: 'Dengar, maaf karena mengganggu perayaan, karena jika kita tidak memanfaatkan ini besok Sabtu maka tidak akan ada artinya.'"
Ia menambahkan: "Saat saya memasuki ruang genti, mereka sudah membahas laga besok Sabtu. Penampilan yang hebat tetapi sungguh menguras emosi dan fisik. Kami harus memastikan bisa pulih dengan baik. Ini momen berbahaya bagi kami."
"Kami akan merasakan perasaan hangat tentang negara kami jika menang nanti tapi ini akan menjadi tantangan yang besar. Saya rasa pemain sadar akan itu. Mereka telah berada di babak yang lebih jauh sebelumnya dan mengerti betapa sulitnya perjalanan ini. Mereka masih menapak bumi tetapi harusnya merasa percaya diri setelah tampil seperti itu."
"Kami datang ke sini dengan niat dan kami belum mencapainya. Kami belum pernah menang semi-final setelah menang perempat-final sejak 1966. Para pemain terus menerus menorehkan sejarah dan saya rasa kami punya kesempatan itu lagi. Kami hanya pernah mencapai semi-final Piala Eropa dan berkesempatan untuk mencapai sesuatu yang spesial."





