LIPUTAN ABI YAZID DARI MALANGIkuti di twitter
Kapten Arema FCHamka Hamzah menyentil rekan-rekannya, dan menyampaikan permintaan maaf kepada suporter gagal memberikan kado ulang tahun setelah hanya bermain imbang 2-2 melawan Borneo FC di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (11/8) malam WIB.
Hamka menilai sejumlah rekannya, terutama yang baru merasakan atmsofer pertandingan di Malang, masih kurang memperlihatkan mental pejuang. Hamka mengaku sempat menyampaikan hal itu saat jeda babak kedua.
“Saya ikut sesi jumpa pers ini mewakili tim untuk meminta maaf kepada Aremania tidak bisa memberikan apa yang seharusnya kami berikan kepada Arema dan Aremania, dan rakyat Malang Raya di hari ulang tahun Arema. Seharusnya tiga poin adalah kado, namun kami hanya memberikan satu poin,” tutur Hamzah.
“Saya terus mengingatkan para pemain, jika bermain di Arema tidak hanya modal semangat. Semua pemain harus memiliki mental petarung. Selama ini saya simpan, dan baru saya keluarkan. Arema adalah tim bermental pejuang, tidak ada namanya bermain di Arema untuk saat ini dan seterusnya. Jika tidak ada mental pejuang maka tidak cocok.”
Permintaan maaf juga disampaikan Milan Petrovic. Pelatih Arema ini mengatakan, kegagalan mendulang angka penuh disebabkan kesalahan pemain, dan akan diperbaiki saat libur kompetisi.
“Saya minta maaf tidak bisa memberikan kemenangan kepada suporter. Saya merasa bersalah, karena tidak ada kado untuk mereka. Kehidupan masih berlanjut, dan kami memiliki waktu jeda satu bulan untuk memperbaiki semua kekurangan,” terang Milan.
“Pertandingan berjalan menarik dan keras. Kami mampu menciptakan dua gol, namun kesalahan pemain juga membuat gol lawan tercipta. Tidak ada waktu yang cukup bagi kami untuk kembali unggul.”
“Saya setuju kenapa [Srdan] Ostojic bisa kebobolan hingga tujuh gol pada tiga laga terakhir Arema. Ini akan menjadi analisa bagi kami, kenapa hal itu sampai terjadi, dan semoga semua masalah kami bisa teratasi.”
Milan menolak anggapan penempatan Arthur Cunha sebagai gelandang bertahan memberikan dampak negatif di lini tengah. Dari catatan statistik dan pandangan di lapangan, pergerakan Arthur banyak dilapisi Hendro Siswanto yang bermain spartan.
“Kami tidak sembarangan menciptakan strategi, kami melakukan analisa yang mendalam, tentang kami, lawan, dan lain sebagainya. Pada babak pertama kami mengontrol pertandingan. Di babak kedua kami mendapatkan gol pertama, tapi kemudian konsentrasi hilang. Ada perasaan pemain memberikan kado kemenangan, tapi ternyata harus kebobolan di sisa tujuh menit.” (gk-48)
Goal Indonesia




