Bek internasional Maroko, Achraf Hakimi, yang bermain untuk Paris Saint-Germain, mendapat cemoohan terus-menerus dari suporter Skotlandia selama pertandingan timnas negaranya melawan Skotlandia pada putaran kedua Piala Dunia 2026 di Stadion Foxborough, beberapa jam setelah pengadilan Prancis mengumumkan keputusan untuk mengadilinya atas tuduhan pemerkosaan.
Pengadilan Banding di Versailles, dalam siaran pers yang diterbitkan pada hari Jumat, menyatakan bahwa “penyelidikan yang dilakukan selama sidang pendahuluan yudisial menyimpulkan adanya bukti yang cukup terhadap Tuan Ashraf Hakimi yang membenarkan pengajuan dakwaan terhadapnya di hadapan Pengadilan Pidana di wilayah Hauts-de-Seine,” sementara sang pemain mengajukan banding atas keputusan tersebut dan meminta agar kasus tersebut dibatalkan.
Hakimi tetap turun bermain meskipun menghadapi tekanan hukum dan media. Menurut surat kabar Prancis “L’Équipe”, sorakan cemoohan mulai terdengar segera setelah susunan pemain kedua tim diumumkan, dan terus berlanjut sepanjang pertandingan setiap kali ia menyentuh bola, sebuah pemandangan yang mencerminkan dampak kasus tersebut terhadap suasana di sekitar sang pemain.
Keputusan pelatih tim nasional Maroko untuk menurunkan Hakimi sebagai starter memicu perdebatan luas, di tengah perkembangan hukum terbaru yang diterima sang pemain hanya beberapa jam sebelum pertandingan dimulai, yang membuatnya berada di bawah tekanan psikologis ganda antara kewajiban olahraga dan tantangan hukum.
Kasus ini menjadi tantangan besar bagi pemain berusia 28 tahun tersebut, yang dianggap sebagai salah satu bintang utama timnas Maroko dan pilar utama di lini pertahanan, karena kini ia menghadapi pertarungan hukum yang berpotensi memengaruhi masa depan karier dan pribadinya.
Perlu dicatat bahwa Hakimi membantah tuduhan yang ditujukan kepadanya, dan tim hukumnya telah mengajukan banding resmi terhadap keputusan pengiriman ke persidangan, sambil menunggu keputusan akhir dalam kasus ini dari pengadilan Prancis.




