Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
1df18e0ca8b9549fabbf2ff535fbf683be69a341

GOAL 25 2017: #21 Fadil Sausu


LIPUTAN   ALDIV ALFASERA   DARI  DENPASAR

Kaki itu sudah terbiasa terluka karena batu atau tanah keras saat bermain bola di sebuah lapangan kecil di Desa Sausu, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Sausu, Kabupaten Parimo, Sulawesi Tengah. Bersama teman-teman sebaya, Fadil kecil saban hari bermain bola di sana. Tak pernah sekali pun ia bermimpi bisa memakai sepatu dengan merek terkenal dan bermain di lapangan berumput bertaraf internasional. Anak-anak itu tetap riang dan bersemangat memainkan bola plastik di tanah lapang. Siapa sangka satu dari sekian anak yang bermain bola di tanah lapang desa itu kini telah menjadi pemain bola profesional di Bali United.

Tidak sekadar pemain, Fadil memegang peran penting di klub divisi tertinggi Indonesia yang berjuluk Serdadu Tridatu itu. Ya, bocah tinggi kurus yang dulu bermain di tanah lapang kecil dengan bola plastik di desanya itu kini mentereng dengan nomor punggung 14 dan ban kapten di lengannya. Namun, siapa sangka, nama belakang "Sausu" yang selama ini melekat ternyata bukan nama aslinya. Sausu adalah nama kota kelahirannya. Nama itu sengaja disematkan lantaran namanya terlalu pendek. "Sausu" sekaligus dipilih sebagai pengingat jika asal-usulnya adalah sebuah desa kecil di Provinsi Sulawesi Tengah.

"Ya. Nama asli saya hanya Fadil. Sausu itu nama desa dan kecamatan kelahiran saya," kata Fadil kepada Goal Indonesia sebelum bertolak ke Jakarta menjalani laga final Piala Presiden, pertengahan Februari lalu.

Suami dari Siti Rahmawati itu mengaku tidak menyangka karier sepak bolanya bisa sejauh ini. Ia yang mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah sepak bola (SSB) itu bersyukur dipertemukan dengan sosok pria yang membawanya ke Samarinda, Kalimantan Timur. Ketika itu, usianya masih 18 tahun dan dia diajak bergabung ke tim junior Persisam Samarinda.

"Beliau Pak Cahya, beliau itu manajer Persisam U-23. Dari kampung saya dibawa ke Samarinda untuk ikut Persisam," ujar pemain kelahiran 19 April 1985 ini bercerita.

Pertandingan berikutnya
6761bf8ef8b2a1ee4d797cd18addefefc68849a2

Dari sana kemudian kariernya di sepakbola mulai dirintis. Ketika Persisam dibeli oleh Pieter Tanuri dan homebase dipindah ke Bali, Fadil kembali mengikuti seleksi di tim tersebut yang diarsiteki Indra Sjafri dan kini berganti nama menjadi Bali United.

"Dari Palu saya dibawa oleh Yusuf Mardani. Saat itu ikut seleksi masuk Bali United saat masih coach Indra yang melatih," katanya.

Ia kemudian diterima lolos seleksi. Tiga tahun sudah Fadil memperkuat Serdadu Tridatu. Tempaan tiga pelatih klub kebanggaan publik Bali itu sudah pula dirasakannya. Penampilannya yang konsisten membuatnya dipercaya menjadi kapten tim.

Ayah dari Sheriin Queenaura Alyasin itu menceritakan, karier sepak bola tidak terlepas dari dukungan serta doa dari keluarga. Saat menuntut ilmu di MTSN Palu dan SMAN 1 Palu, Fadil terpaksa berpisah dengan kedua orangtuanya. Dukungan yang tak henti dari orang tua dan keluarga seperti itu lah yang membawanya menuju kesuksesan. Berkat kerja kerasnya, nama Fadil masuk dalam jajaran 25 pemain terbaik Indonesia 2017 versi Goal Indonesia.

"Perjalanan panjang musim lalu sungguh sangat luar biasa. Saya juga banyak belajar dan kerja keras untuk diri saya dan tim agar lebih baik lagi. Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT. Ini semua tak lepas dari doa dan dukungan orang tua, istri, anak dan tentunya para pendukung saya," ucap jebolan Sekolah Dasar Negeri Sausu Piore itu.

Penampilan Fadil makin moncer saat dipanggil Luis Milla ke timnas Indonesia. Selain itu, di level internasional Fadil juga mencicipi kesempatan bersama Bali United mewakili Indonesia di babak play-off Liga Champion Asia. Ia tidak melupakan pengalaman tampil perdana di level sepakbola Asia itu. Fadil mencetak gol indah ke gawang Tampines Rovers untuk membuka kemenangan Bali United 3-1 dan gol itu dinobatkan media asing sebagai salah satu gol terbaik dunia akhir Januari lalu.

"Tahun 2017 adalah tahun kebahagiaan saya. Saya dipanggil bergabung ke Timnas dan bisa membawa Bali United ikut LCA," tutur Fadil.

"Sampai hari saya masih tidak percaya gol saya bisa menjadi gol terbaik dunia. Pujian dari fans, keluarga dan rekan di tim membuat saya makin termotivasi. Pujian yang paling sering saya dengar dari kawan-kawan di mess adalah saya pemain 'yang punya kaki kiri'."

1df18e0ca8b9549fabbf2ff535fbf683be69a341

Terakhir, pria penyuka semua jenis makanan itu berbagi tips kepada generasi muda yang ingin menjadi pemain profesional seperti dirinya.

"Kalau punya fisik bagus pasti mendukung skill dan teknik cerdas dalam bermain. Bagaimana menjaga kondisi fisik? Ya, terus berlatih dan diasah kemampuannya. Dengan belajar itu bisa mengetahui kekurangan dan kelebihan diri," paparnya.

Kiat itulah yang terus dipraktikkannya setiap hari. Fadil mengaku lebih senang menghabiskan waktu libur untuk latihan demi menjaga kondisi fisik agar tetap terjaga. Tidak heran jika fisiknya tetap terjaga meski sudah berusia melewati kepala tiga.

"Kalau lagi libur selain senang kumpul dengan keluarga paling sering joging ringan pagi dan sore di sekitar rumah. Kalau libur latihan paling di mes beristirahat atau mengobrol dengan teman," tutupnya. (gk-67)

Pencapaian dalam hidup dimulai dari satu langkah. Untuk menjadi yang terbaik dibutuhkan kerja keras, ketekunan, dan sikap tanggung jawab yang besar. Tahun 2018 merupakan tahun penting bagi sepakbola Indonesia dengan target tinggi pada berbagai ajang besar. Ini saatnya mewujudkan mimpi besar itu bersama CLEAR. Ayo, Indonesia bisa! #AyoIndonesiaBisa #PakaiKepalaDingin #CLEAR #BebasKetombe

SUKA CERITA INI?

Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

Ikuti GOAL di Google