Gianluigi Buffon Tak Sesali Kecamannya Pada Michael Oliver

Komentar()
Getty Images
Kapten Juventus itu bahkan tak peduli bila reputasinya menjadi rusak, karena mengecam kepemimpinan Michael Oliver.

Dalam wawancara terbarunya, kiper utama sekaligus kapten Juventus, Gianluigi Buffon, menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak menyesal atas kecamannya pada wasit, Michael Oliver.

Seperti diketahui, wasit asal Inggris itu jadi aktor yang hadirkan penalti menit pamungkas penuh perdebatan dalam duel Real Madrid kontra Juve di Santiago Bernabeu tengah pekan lalu. Keputusan yang membuat I Bianconeri hanya menang 3-1 dan akhirnya tak lolos ke semi-final Liga Champions, karena kalah agregat 4-3.

Protes keras lantas dilancarkan Buffon hingga dirinya dihadiahi kartu merah. Selepas laga, figur berusia 40 tahun tersebut menyebut Oliver sebagai sosok yang tak layak pimpin laga besar dan miliki hati layaknya binatang.

Gianluigi Buffon Real Madrid Juventus Turin 11042018

Berselang tiga hari setelah pernyataan tersebut, Buffon mengaku dirinya tak menyesal bahkan akan mengulanginya lagi. Dia mengaskan bahwa sikap itu terpaksa dilakukannya karena dia hanya manusia biasa yang punya sensitivitas dan keinginannya untuk membela rekan setim serta suporter.

“Saya tidak mau berpura-pura karena saya adalah makhluk hidup yang menempatkan hasrat, sentimen, dan kemarahan pada apa yang saya lakukan. Anda selalu mencari cara untuk bicara, benar atau salah dan kadang terlihat berlebihan. Namun, itulah saya," ujarnya pada program televisi Le Iene.

"Saya bahkan akan mengulanginya lagi, mungkin dengan bahasa yang lebih memasyarakat. Saya merasa ditipu, bukan melihat hasilnya, tapi dari suasana malam itu. Malam yang tak pernah bisa diulang.

"Saya membela rekan setim dan penggemar, bahkan dengan cara yang tidak elok, saya merasakan itu. Saya harus membiarkan cara itu terjadi, meski harus merusak reputasi saya," tegasnya.

Michael Oliver Premier League referee 31102016

Meski begitu, Buffon meluruskan bahwa dirinya tidak lantas membenci atau bahkan marah pada Oliver. Dia hanya kecewa dengan situasi yang sudah dibuat sang wasit dalam bentrok tersebut.

"Tidak, saya tidak membenci Oliver. Saya bahkan tidak marah padanya. Saya yakin dia akan memiliki karier yang hebat, tapi dia masih terlalu muda untuk memimpin laga besar seperti itu," lanjutnya.

"Hanya saja bukan saat yang tepat bagi Anda untuk meyakini itu pasti penalti. Saya juga tidak mengatakan itu bukan penalti. Menurut saya itu situasi yang meragukan. Dalam permainan seperti itu, ketika tersisa laga 20 detik, seorang wasit berpengalaman pasti melakukan evaluasi yang berbeda.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

“Seorang wasit yang lebih berpengalaman tak akan meniup peluit dan menjadi tokoh utama pertandingan. Dia bakal berlari, mengabaikan itu, dan membiarkan kedua tim bertarung pada perpanjangan waktu,” tandasnya.

 

 

LIMA ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. Bayern Munich Kontra Real Madrid, Roma Tantang Liverpool Di Semi-Final Liga Champions
2. Final Kepagian Di Babak Empat Besar Liga Europa
3. Permainan Mafia Sepakbola Di Balik Kelolosan Real Madrid?
4. Liga Champions Yang Kejam Pada Gianluigi Buffon
5. 11 Keputusan Kontroversial Wasit Di Liga Champions

Tutup