Polemik Gerard Pique yang mengomentari berlangsungnya referendum Catalunya memunculkan lagi perdebatan tentang bagaimana membaca relasi antara sepakbola dan politik.
Di sebagian kalangan penggemar sepakbola selalu muncul kecurigaan bahwa politik atau penguasa berlomba-lomba menunggangi sepakbola guna meraih tujuan dan kepentingan mereka. Berbagai catatan sejarah menjadi alasan yang kuat. Pemerintahan fasis Benito Mussolini dan junta militer Jorge Rafael Videla menjadikan penyelenggaraan Piala Dunia 1934 dan 1978 sebagai bagian dari propaganda. Keberhasilan Italia dan Argentina menjadi juara dunia dimanfaatkan sebagai model keberhasilan rezim masing-masing.
Sebagian penggemar lain menganggap sepakbola merupakan perjuangan kelas yang tanpa henti. Sejak diciptakan, sepakbola menjadi olahraga populer yang disukai banyak orang. Saking banyaknya penggemar, pernah muncul larangan resmi memainkan sepakbola di tempat umum. Atau, seperti metafora dalam film Escape To Victory, sepakbola menjadi simbol perlawanan kepada penguasa.
Getty ImagesDi era modern, sasaran kebencian beralih kepada elite yang menguasai pengelolaan atau sirkulasi finansial sepakbola. Sebutlah kelompok G-14 yang pernah bertekad membentuk liga breakaway guna meraup profit sebanyak-banyaknya dari duit jualan hak siar. UEFA bertindak cepat dengan menerapkan perubahan peraturan kepesertaan Liga Champions. Resep itu cukup ampuh meredam ambisi para elite. (Tapi, apakah sejauh ini sudah terbukti efektif?)
Bagi kalangan yang lain, sepakbola adalah pertarungan identitas. Simak seluruh riwayat pendirian klub sepakbola yang pernah ada di muka bumi, sejarah mereka menceritakan siapa mereka. Mulai dari tempat asal, logo, latar belakang para pendiri, anggota klub, hingga taktik yang mereka mainkan di lapangan.
Buktinya, PSSI didirikan sebagai alat perjuangan bangsa. Soeratin menjadikan sepakbola sebagai sarana memupuk kecintaan kepada tanah air Indonesia. Maka itu, PSSI marah besar ketika NIVU (asosiasi sepakbola bentukan pemerintah kolonial Hindia Belanda) ingkar janji menggelar pertandingan yang menentukan keberangkatan tim yang akan berpartisipasi di Piala Dunia 1938. Meski anak bangsa yang tampil di Prancis kala itu, mereka tampil dengan seragam dan bendera Hindia Belanda.

Perkembangan sepakbola sebuah negara diyakini sangat erat kaitannya dengan kondisi sosial politik negara tersebut.
Jurnalis Italia era 1960-an, Gianni Brera, pernah melontarkan teori menarik tentang kenapa catenaccio begitu identik dengan negaranya. Catenaccio adalah taktik bertahan yang menjemukan, sambil mengandalkan serangan balik. Menurut Brera, catenaccio merepresentasikan karakter masyarakat emigran Venesia (tempat lahirnya taktik itu) yang harus bertahan dalam situasi sulit supaya tetap bisa makan.
Di Belanda, total football lahir seiring derasnya kebebasan arus pemikiran serta maraknya arsitektur pemanfaatan tata ruang. Di Brasil, jogo bonito adalah representasi gaya hidup masyarakat yang artistik.
Di Argentina, fans terbelah dalam paradoks abadi. Romantisme sepakbola indah Cesar Luis Menotti membuahkan gelar juara dunia di era pemerintahan junta militer Videla. Sukses itu diteruskan Carlos Bilardo, yang pragmatis, tetapi timnas Argentina melalui dasawarsa penuh kerja keras dengan rasio kemenangan terendah dalam sejarah meski mampu dua kali menembus final Piala Dunia.
SIMAK JUGA: Dukung Referendum, Pique Dicemooh Fans Spanyol

Akhir pekan lalu, Pique terang-terangan melawan kutipan terkenal Ruud Gullit: "Jangan pernah membaurkan sepakbola dengan politik".
Pemerintahan otonom Catalunya menggelar referendum kemerdekaan pada 1 Oktober, yang dinyatakan inkonstitusional oleh pemerintah Spanyol. Oleh karenanya, referendum merupakan kegiatan ilegal dan aparat keamanan dikirim guna mencegahnya. Bentrokan pun terjadi.
Pertandingan lanjutan Primera Liga Barcelona versus Las Palmas yang tepat digelar pada hari referendum sontak terombang-ambing dalam ketidakpastian. Jika menolak bertanding, Barcelona terancam sanksi pengurangan enam poin. Jalan tengah diambil. Pertandingan tetap berlangsung, tetapi tanpa dihadiri penonton. Dikepung keheningan Stadion Nou Camp yang berkapasitas hampir 100 ribu orang, Barcelona menang telak 3-0.
SIMAK JUGA: "Main Tanpa Penonton Pengalaman Terburuk"

Bukan kemenangan telak Barcelona atau atmosfer hampa yang menjadi pemberitaan utama, melainkan komentar Pique. Diawali dengan mengkritik Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy. "Dia pemegang kendali pemerintahan, pergi berkeliling dunia, dan tidak pandai berbahasa Inggris. Itulah tingkatannya," ucapan pemain 30 tahun ini pun menjadi bahan pemberitaan.
Kecaman menghampiri Pique pada sesi latihan terbuka timnas Spanyol, yang akan melalui dua laga pamungkas kualifikasi Piala Dunia 2018 pekan ini, di Las Rozas. Ribuan fans datang dan bernyanyi cacian untuk sang pemain, "Pique, bajingan, enyah dari timnas." Sebuah poster Pique pun tidak selamat dari sasaran vandalisme.
Pique menawarkan kesediaan untuk mundur dari La Roja seandainya kehadirannya dianggap mengganggu tim dan asosiasi. Pelatih Julen Lopetegui dan sejumlah rekan setimnya memberikan pembelaan. Skuat Spanyol setuju, Pique masih memegang peran penting bagi La Roja.
SIMAK JUGA: Pique Tegaskan Komitmen

Bak politikus ulung yang berupaya menengahi perbedaan pendapat, Pique kemudian menggelar sesi konferensi pers, Rabu (4/10). Tujuannya, selain menghentikan polemik dan fokus pada pertandingan, adalah untuk berdialog.
"Saya tak menyesali apa pun yang telah saya katakan. Kita semua manusia yang dipengaruhi lingkungan masing-masing dan kita bisa menyatakan pendapat," kata Pique.
"Saya yakin masyarakat Catalunya berhak memilih masa depan dan menghargai perbedaan pendapat. Jadi, mari berdialog."
"Semua orang boleh mengekspresikan pendapat tentang subyek tertentu, kenapa pesepakbola tidak diperbolehkan melakukan hal yang sama?"
"Apakah seharusnya Catalunya merdeka? Itu pertanyaan yang sulit dijawab. Apapun yang saya jawab, tidak ada yang benar. Anak-anak saya orang Catalan, Spanyol, Kolombia, dan Lebanon sekaligus. Asal negara sudah tidak lagi relevan."
"Sedang terjadi masalah politik dan kita harus menemukan solusi melalui dialog atau keadaan memburuk. Dialog menyelesaikan masalah. Sekarang segala sesuatunya menjadi radikal. Spanyol dan Catalunya seperti seorang ayah dengan anak yang ingin meninggalkan rumah. Kalau dibujuk, mungkin dia tidak jadi pergi."
SIMAK JUGA: "Sulit Atasi Situasi Pique"

"Hal terpenting saat ini adalah respek dan dialog. Kita harus mencoba dan memahami satu sama lain. Pendapat saya tidak relevan. Terpenting adalah para politisi melakukan tugas mereka dan menyelesaikan masalah dengan berdialog."
"Saya yakin Spanyol dan Catalunya akan menjadi lemah tanpa didampingi satu sama lain."
Impresif. Sikap Pique tersebut adalah sikap yang elegan. Sikap elegan yang sudah dikenal oleh manajemen Barcelona. Adalah Pique dan sang istri, Shakira, yang menjadi ujung tombak dalam menggaet Rakuten sebagai sponsor baru klub. Pique juga tercatat sebagai peserta kursus bisnis hiburan, media, dan olahraga yang diselenggarakan Universitas Harvard. Bulan lalu, dia memberikan presentasi kepada ratusan mahasiswa Harvard tentang pentingnya "sikap inklusif, bukan eksklusif".
Barcelona, papar Pique, bertekad membuka diri kepada dunia. Klub Catalunya itu menyadari kebutuhan global, yang pada saat bersamaan mempertahankan ikatan yang kuat dengan suporter lokal mereka. "Klub yang selalu ada untuk suporter meski dalam situasi sulit," tegasnya.
SIMAK JUGA: Jadwal Kualifikasi Pial Dunia 2018 Zona Eropa

Secara alamiah, Pique mengampanyekan moto terkenal Barcelona, "mes que en club" -- lebih dari sekadar klub. Klub yang dibentuk di awal abad ke-20 itu menjadi simbol utama kebanggaan masyarakat Catalan selama era penindasan diktator Jenderal Francisco Franco antara 1936 dan 1975. Penegasan identitas Catalunya menjadi sangat penting jika mengingat sejarah aneksasi wilayah mereka oleh Raja Spanyol, Philip V, pada 1714.
Pendiri klub asal Swiss, Hans Max Gamper-Haessig, dengan bangga menyandang nama adopsi Catalan: Joan Gamper. Begitu juga dengan Johan Cruyff. Selain menjadikan sejarah identitas klub sebagai alasannya bergabung, Cruyff memberikan nama khas Catalan kepada putranya: Jordi. Selain itu, Catalunya tercatat pernah membentuk timnas sendiri dan beruji coba melawan negara berdaulat antara lain seperti Nigeria, Brasil, dan Argentina. Bahkan pernah pula menghadapi Negara Basque.
Relasi sepakbola dan politik yang erat ini menyulitkan upaya otoritas yang hendak membatasi aspirasi di lapangan hijau. FIFA selaku induk sepakbola dunia dengan tegas melarang pernyataan politik apapun dalam pertandingan. Pelarangan ini terkadang rasanya tidak adil karena mengekang rasa empati seperti kasus spanduk fans Persib Bandung beberapa waktu lalu atau kasus lambang bunga poppy.
Namun, sampai kapan pun, sepakbola dan politik senantiasa saling mengisi dan mempengaruhi. Takkan pernah terpisahkan.


