Marcus Rashford Manchester United 2019-20Getty Images

Gemilang Di Lapangan & Berjiwa Sosial, Mengapa Marcus Rashford Sangat Layak Jadi Panutan

Kata ‘pesepakbola’ dan 'panutan' sering disematkan dalam kalimat yang sama tetapi itu jarang terjadi lewat lantunan pujian. Namun dalam beberapa minggu terakhir, pemain depan Manchester United Marcus Rashford telah menulis ulang definisi tentang apa artinya menjadi panutan di sepakbola.

Jeda istirahat selama tiga bulan memungkinkan banyak pemain untuk mengatur ulang kebugaran dan fokusnya. Lebih penting lagi, itu memberi Rashford kesempatan untuk pulih dari cedera punggung yang tampaknya telah mengakhiri musimnya.

Alih-alih hanya berfokus pada dirinya dan pemulihannya, bakat 22 tahun itu justru tanpa pamrih menghabiskan berminggu-minggu untuk mengumpulkan jutaan poundsterling guna kepentingan amal. Dia sekarang berusaha meminta pertanggungjawaban politisi karena memotong dukungan vital bagi mereka yang paling membutuhkan di tengah pandemi.

Rashford tidak membutuhkan Sekretaris Negara di bidang Kesehatan Matt Hancock, dengan ia memanggil para pesepakbola lain untuk ‘ikut berperan’. Memberi kembali dari apa yang ia dapat guna diteruskan ke masyarakat adalah sifatnya.

Pada Oktober tahun lalu, pemain internasional Inggris ini meluncurkan program bantuan sepatu untuk membantu para tunawisma selama Natal. Dia secara pribadi juga menyumbang setahun sebelumnya, dengan membuat kotak-kotak untuk dibagikan di sekitar pusat kota Manchester dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Covid-19 kemudian membawa tragedi, kesulitan hingga perjuangan bagi banyak orang dan, Rashford ingin membantu sebaik mungkin. Dia meluncurkan kampanye penggalangan dana untuk FareShare, sebuah organisasi yang menyediakan makanan sekolah gratis untuk anak-anak yang membutuhkan.

Hingga saat ini, ia telah membantu mengumpulkan lebih dari £20 juta ($25 juta), dan dana sebesar itu dipakai untuk menyediakan lebih dari tiga juta makanan setiap minggu kepada anak-anak di Inggris.

Marcus Rashford Man Utd 2019Getty Images

Dia tidak berhenti di situ. Sebuah survei oleh Food Foundation pada Mei mengungkapkan lebih dari 200.000 anak terpaksa melewatkan makan karena virus korona. Dan dengan sekolah yang diperkirakan belum akan sepenuhnya dibuka sampai setelah liburan musim panas, jumlah itu bisa meningkat secara drastis.

Di minggu ketika Liga Primer akan dimulai kembali - dan ketika Rashford berharap untuk kembali dari cedera di pertandingan melawan Tottenham Hotspur pada Jumat - sang striker mengirim surat kepada Anggota Parlemen dengan mendesak mereka untuk melakukan putar balik terkait keputusan tidak memperpanjang skema kupon makan saat ini.

Skema itu dibentuk guna menjamin makanan bagi anak-anak yang biasanya bergantung pada makanan sekolah gratis selama pandemi virus corona.

Rashford tahu betul betapa pentingnya makanan itu, setelah bergantung pada program itu saat masih kecil. Tumbuh di Wythenshawe, Manchester, ia adalah satu dari lima anak yang dibesarkan oleh ibunya Melanie, yang merupakan orang tua tunggal.

"Ibuku bekerja penuh waktu, mendapatkan upah minimum, dia melakukannya untuk memastikan kami selalu makan malam dengan enak di atas meja, tapi itu tidak cukup," kata Rashford dalam surat terbuka.

"Sistem itu tidak dibangun untuk keluarga seperti saya, terlepas dari seberapa keras ibu saya bekerja."

Rashford tahu betapa pentingnya program itu, yang memungkinkannya sampai ke posisi sekarang, dan dia menggunakan posisinya untuk mencoba membuat perbedaan.

"Pemerintah telah mengambil pendekatan 'apa pun yang diperlukan' terhadap perekonomian - saya meminta Anda hari ini untuk memperluas pemikiran yang sama guna melindungi semua anak yang rentan di seluruh Inggris," lanjut Rashford.

"Sebagai orang kulit hitam dari keluarga berpenghasilan rendah di Wythenshawe, Manchester, saya bisa menjadi statistik lain. Namun, karena tindakan tanpa pamrih dari ibu saya, keluarga saya, tetangga saya, dan pelatih saya, satu-satunya statistik yang saya miliki sekarang adalah gol, jumlah penampilan, dan caps [untuk tim nasional].

“Saya akan bersikap tidak adil untuk diriku sendiri, keluargaku dan komunitasku jika saya tidak berdiri di sini hari ini dengan suaraku dalam meminta bantuanmu."

Di lapangan, Rashford menikmati musim terbaiknya dan sekarang ia malah melakukan pekerjaan yang lebih baik daripada kebanyakan politisi. Tindakan Rashford sudah selayaknya dapat tepuk tangan.

Sayangnya, sebuah pernyataan dari Departemen Pendidikan mengatakan bahwa pihaknya tidak akan mengubah keputusan tentang program bantuan makanan.

"Ketika sekolah dibuka lebih luas, dan dapur mereka dibuka kembali, kami berharap sekolah menyediakan paket makanan untuk dikumpulkan atau dikirim untuk anak-anak yang memenuhi syarat untuk mendapat makanan sekolah gratis," bunyinya.

"Jika ini tidak memungkinkan, sekolah dapat terus menawarkan voucher kepada siswa yang memenuhi syarat.

"Makanan sekolah gratis biasanya hanya istilah waktu, dan skema kupon nasional tidak akan berjalan selama liburan musim panas."

Rashford bukan satu-satunya pemain yang melakukan kegiatan amal selama krisis. Banyak juga yang telah memberikan uangnya dan meningkatkan kesadaran untuk membantu mereka yang membutuhkan, tetapi Rashford memimpin di depan.

Rashford telah menunjukkan kedewasaan melebihi usianya. Welas asih, kemurahan hati, dan dorongannya harus menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan.

Iklan
0