Di saat suporter Arsenal tak sabar menunggu konfirmasi peresmian transfer Gabriel Magalhaes ke London utara, akan ada beberapa koneksi yang dekat dengan Emirates Stadium yang memiliki perasaan campur aduk tentang kesepakatan tersebut.
Kepindahan ini, yang akan membuat The Gunners mengeluarkan uang sebesar £25 juta, sejatinya telah lama diupayakan.
Kedatangan bek sentral baru dan muda sudah menjadi prioritas utama untuk Arsenal pada musim panas ini, dan banyak pekerjaan telah dilakukan untuk mengamankan transfer si pemain, yang diyakini pihak klub sebagai salah satu yang terbaik di luar sana.
Pekerjaan itu telah dilakukan oleh sejumlah pencari bakat yang, dua pekan lalu, diberi tahu bahwa mereka tidak lagi dibutuhkan oleh direktur teknis Arsenal Edu, setelah ia mendapatkan laporan dari jaringan perekrutan klub asal Brasil.
Mantan kepala perekrutan Francis Cagigao, pencari bakat senior Brian McDermott dan Ty Gooden, yang memimpin operasi pemantauan di Prancis, semuanya adalah kunci untuk memastikan bahwa Gabriel merupakan bek sentral yang akan fokus dipantau oleh Raul Sanllehi, yang kini sudah meninggalkan klub, serta Edu.
Ada pemain lain yang dipantau Arsenal, termasuk Axel Disasi, yang pada akhirnya bergabung dengan AS Monaco dari Reims, dan pemain bebas agen Malang Sarr, namun Gabriel adalah nama teratas yang masuk daftar pemandu bakat yang kemudian dikirimkan kepada petinggi klub ketika mereka bersama-sama menyusun target musim panas, seperti yang terjadi pada William Saliba di tahun sebelumnya.
Kedua bek tengah itu sekarang tampaknya akan membentuk kemitraan yang bisa menjadi fondasi pertahanan Arsenal dalam beberapa tahun ke depan, namun mereka yang bekerja tak kenal lelah untuk mengidentifikasi kedua pemain itu takkan lagi bertahan di klub setelah kontraknya tidak diperpanjang.
Adapun kedatangan Gabriel setidaknya akan menjadi pelipur lara bagi para pencari bakat bahwa pekerjaan yang mereka lakukan sepadan, selagi pemain berusia 22 tahun itu sekarang tinggal selangkah lagi untuk mengamankan transfer ke Emirates.
Pemain internasional Brasil U-20 itu diidentifikasi lebih dini sebagai transfer potensial, dengan tim perekrutan bertekad mencari bek sentral muda yang bisa masuk dan bermain bersama Saliba.
Dengan kaki kiri yang alami, Gabriel telah dipandang sebagai bek dengan potensi besar dan memiliki atribut yang dapat membuatnya sukses di Liga Primer.
Dia ditonton secara ekstensif saat bermain untuk Lille musim lalu ketika - setelah akhir yang menjanjikan di musim 2018-19 - dia meningkatkan permainannya, mencatatkan 24 penampilan untuk membantu mereka finis di urutan keempat di Ligue 1.
"Saya merasa dia termasuk di antara lima bek sentral dominan teratas di Eropa saat ini," kata presiden Lille Gerard Lopez kepada Sky Sports pada April ketika membahas masa depan Gabriel. "Statistiknya, yang tidak dilihat dengan baik di luar Prancis, menunjukkan bahwa persentasenya untuk memenangkan duel tidak pernah terdengar di liga yang sangat mengandalkan fisik.
"Dia benar-benar bagai mesin, jadi buat saya, dia sedang dalam perjalanan - jika tidak tahun ini - untuk berpotensi menuju ke klub yang sangat besar. Saya yakin dia dalam perjalanan ke tim nasional Brasil di satu titik."
Gabriel memulai kariernya di tim lapis kedua Brasil Avai sebelum pindah ke Lille pada 2017 dengan harga hanya £1,5 juta ($2 juta). Dia dipinjamkan dua kali, ke Troyes dan Dinamo Zagreb, sebelum dia diberi kesempatan di tim utama oleh pelatih Christophe Galtier, yang menggantikan Marcelo Bielsa sebagai bos Lille pada Desember 2017.
GettyDi musim 2018/19, di mana Nicolas Pepe menginspirasi Lille untuk finis di posisi kedua di Ligue 1, merupakan musim yang menggembirakan bagi Gabriel, yang mencetak gol pertamanya dalam kemenangan 5-1 atas juara Paris Saint-Germain.
Tetapi baru pada musim 2019/20 dia benar-benar mulai menunjukkan kemampuannya.
Dia tampil di 24 dari 28 pertandingan Lille sebelum musim kemarin dihentikan lebih awal karena virus corona, menjadi starter di 23 pertandingan. Dalam pertandingan-pertandingan tersebut mereka hanya kebobolan 21 gol dan mengemas 11 clean sheets.
Jika dibandingkan dengan bek sentral Arsenal saat ini, statistik Gabriel menunjukkan mengapa dia menarik perhatian para pencari bakat klub. Dia memenangkan 29 tekel dengan rata-rata 1,3 per laga, lebih banyak dari David Luiz (16), Sokratis (16) dan Shkodran Mustafi (10).
Dia membuat rata-rata 5,9 ‘recoveries’ per pertandingan, jauh lebih banyak dari Luiz, yang memimpin Arsenal dengan 4,1, dan memenangkan 6,5 duel per 90 menit. Hanya Mustafi (6,6) yang memiliki catatan lebih tinggi untuk The Gunners.
Gabriel adalah pemain yang diyakini Arsenal memiliki potensi besar, seperti yang mereka yakini pada Saliba. Mereka selalu yakin akan mendaratkannya pada musim panas ini, sekali pun di luar sana ada minat kuat dari Napoli, Everton serta Manchester United. Mereka yang dekat dengan si pemain memuji Edu atas pekerjaan yang dia lakukan untuk mewujudkan transfer ini.
Mikel Arteta sekarang memiliki dua bek tengah paling menjanjikan di Eropa dan berharap keduanya dapat memperbaiki area yang sudah menjadi masalah untuk Arsenal.
Sejak Januari 2015, klub London utara itu telah menghabiskan lebih dari £130 juta untuk bek tengah, yang kebanyakan dari mereka gagal menunjukkan kemampuannya.
Dalam diri Gabriel dan Saliba, ada harapan bahwa Arsenal akhirnya menemukan solusi jangka panjang untuk sesuatu yang telah lama dipandang sebagai titik lemah.




