Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Bolivia v Suriname - FIFA World Cup 2026 Play-Off TournamentGetty Images Sport
Diterjemahkan oleh

Etienne Vaessen mengungkap apa yang benar-benar terjadi saat Guatemala - Suriname

Etienne Vaessen membagikan pernyataan panjang di situs FC Groningen mengenai peristiwa yang terjadi selama dan setelah duel Nations League antara Guatemala dan Suriname (1-0).

Pada Senin malam hingga Selasa dini hari, situasi memanas dalam pertandingan Guatemala kontra Suriname. Tim tuan rumah menang 1-0 pada fase akhir laga, setelah Richonell Margaret diusir wasit dari lapangan.

Setelah peluit akhir berbunyi, rekaman Vaessen yang terlibat baku pukul dengan sejumlah pemain dan ofisial Guatemala dengan cepat beredar di media sosial. Ia juga membuat gestur tidak senonoh kepada penonton saat meninggalkan lapangan.

Melalui situs klubnya, FC Groningen, ia memberikan penjelasan atas perilakunya. “Saya seharusnya bersikap bijak dan pergi menjauh. Tetapi saya membela rekan-rekan setim saya dan menurut saya itu sangat manusiawi. Sebagai manusia, Anda rentan ketika ketidakadilan terjadi dan ketika hal itu tidak ditindaklanjuti.”

Menurut Vaessen, para pemain dan staf dari kedua negara telah sepakat untuk langsung meninggalkan lapangan setelah pertandingan karena adanya aksi rasisme. Bahkan sempat ada pembicaraan untuk menghentikan duel tersebut. Para pemain Guatemala juga sudah meminta maaf selama pertandingan atas perilaku fans mereka.

Namun, ketika negara itu berhasil memenangi pertandingan pada masa injury time, suasana berubah. “Mereka mencetak gol kemenangan sesaat sebelum waktu habis dan setelah peluit akhir mereka justru lama berterima kasih kepada penonton, dan ketika kami meminta penjelasan, mereka menyebut kami sebagai ‘negara sialan’ lalu terjadilah saling dorong dan tarik-menarik. Kami seharusnya bisa menahan diri dan menjauh dari situasi ini, tetapi sayangnya kami gagal melakukannya.”

“Sejak menit pertama kami diprovokasi dan hal-hal rasistis yang paling mengerikan diteriakkan kepada kami. Rasanya seperti kami bermain sepak bola di dalam kandang, tempat kami tidak bisa melarikan diri,” kata Vaessen.

Sang kiper menutup pernyataannya dengan menyebut dirinya senang bisa kembali di Groningen. Minggu mendatang, laga tandang melawan Excelsior di Rotterdam sudah menanti.

SUKA CERITA INI?

Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

Ikuti GOAL di Google