Arsenal memiliki sejarah gemilang di kasta teratas sepakbola Inggris. Sejak era Liga Primer, mereka tak pernah terjerumus di kubangan degradasi.
Pun seandainya mau menyinggung rekam kelam mereka yang terdemosi ke kasta kedua. Itu terhitung sudah teramat lama, yakni pada musim 1919/20 - tentunya jauh sebelum zaman EPL lahir.
Pasca-degradasi di musim itu, Arsenal sama sekali tak pernah lagi merasakan keterpurukan sedemikian rupa, sebab faktanya mereka adalah satu-satunya tim yang paling lama bertahan di level tertinggi kompetisi sepakbola Negeri Ratu Elisabeth.
Namun kondisi Arsenal di masa sekarang seakan menggambarkan episode horor di atas tampak akan terulang, dan ancaman itu kini benar-benar berada di depan mata.
Tersungkur 2-1 dari Everton - yang merupakan kekalahan kedelapan Arsenal di musim ini - selain membuat mereka panen ejekan, juga menciptakan sederet rekor menyakitkan bagi klub London Utara.
Selepas laga di Goodison Park, Arsenal mencatatkan start terburuk dalam 46 tahun. Dari 14 pertandingan sejauh ini, hanya 14 poin yang berhasil dikumpulkan mereka, memperlihatkan betapa nelangsanya kubu Emirates Stadium hari ini.
Di samping itu, manajer Mikel Arteta juga tak kalah nestapanya lantaran dari 33 pertandingan yang telah dijalaninya bersama Arsenal, nyatanya rekor dia tak lebih baik dari pelatih sebelumnya, Unai Emery, alih-alih mantan asisten Pep Guardiola itu sempat dielu-elukan sebagai sosok revolusioner di tubuh tim.
Rob Holding membuat gol bunuh diri untuk memberi The Toffees keunggulan di menit ke-22 sebelum Nicolas Pepe memberikan responsnya 13 menit berselang dari tendangan penalti. Namun, tandukan Yerry Mina menjadi pemasti kemenangan 2-1 bagi skuad Carlo Ancelotti.
Premier LeagueAbsurd melihat Arsenal mendekam di peringkat ke-15 klasemen sementara, akan tetapi lebih aneh lagi mendapati mereka dengan zona degradasi hanya terpisah jarak empat poin.
"Saya tidak yakin. Tak yakin dengan starting team ini dan sikap yang ditunjukkan para pemain," kata legenda timnas Inggris Alan Shearer di Match of the Day, saat dimintai pendapatnya apakah Arsenal bisa bertahan di Liga Primer musim ini.
Minim kreativitas, kurangnya daya juang, kehilangan kepercayaan diri dan mulai dihantui permasalahan kedisiplinan, seakan menyatu padu dalam sengkarut Arsenal di musim ini.
Statistik Liga Primer mencatat, sejak jeda internasional Oktober silam, Arsenal hanya bisa mencetak tiga gol dan membuat shot on target 27 kali. Bila diperingkatkan, The Gunners menempati tempat terbawah alias posisi ke-20 dari 20 kontestan EPL sebagai tim dengan penyerangan terburuk di kampanye 2020/21. Untuk tim sekelas Arsenal, catatan ini sangat mencengangkan.
"Mengerikan. Tak ada kreativitas, para pemain hanya mengikuti gerakan, tidak cukup bekerja keras, dan tidak menutup rapat celah," sambung Shearer.
"Mikel Arteta seharusnya menjadi orang yang khawatir mendapati para pemain berusaha menyelamatkan pekerjaannya. Mereka tidak punya opsi. Melawan Everton, Pepe tidak siap untuk masuk ke kotak penalti, dia sama seperti jogging, terkadang berjalan. Dia harusnya bisa tampil lebih baik lagi," ulasnya.
"Ada beberapa pemain di tim ini yang tidak memberikan segalanya untuk sang manajer. Arsenal tidak akan pernah mencetak gol jika bermain seperti itu," analisa Shearer.
Getty ImagesPara petinggi Arsenal beberapa waktu lalu sudah bersuara bahwa Arteta tetap mendapatkan dukungan dari mereka untuk terus membangun tim ini. Namun yang jadi pertanyaan, apakah Arsenal harus membangun tim dari Championship? Akal sehat fans Arsenal di manapun tentu tak bakal bisa menerima kenyataan bermain di kasta kedua musim depan!
Arsenal harus segera memutar balikkan situasi. Klub dan tim harus bersinergi untuk melakukan perubahan radikal. Seperti yang dikatakan Arteta bahwa tim ini segera 'memerlukan lebih banyak kemenangan'. Jika tidak, status mereka bisa berubah dari pesaing papan atas menjadi pejuang degradasi.
Celakanya, Arsenal harus menghadapi lawan tangguh, Manchester City, di partai berikutnya dalam ajang Piala Liga sebelum menghadapi rival sengit, Chelsea, di lanjutan Liga Primer. Kemenangan di laga sarat gengsi bisa menjadi obat manjur untuk memulihkan luka mental sekaligus konfidensi tim, namun jika sebaliknya yang didapat, segalanya akan menjadi semakin gelap bagi Arsenal untuk menjalani paruh kedua musim nanti.
"Anda akan membangun tim dari Championship jika mereka tidak segera melakukan sesuatu, sebab laga berikutnya adalah Chelsea dan saya membayangkan mereka memberi Asrenal kekalahan di Emirates pada Boxing Day," tutur eks penyerang Aston Villa Gabriel Agbonlahor.
"Harus ada perubahan, sebab ketika Anda melihat klasemen, saya menilai jika Burnley memenangkan dua laga yang belum dimainkan, mereka akan berada di atas Arsenal dan jika Brighton menang dan Burnley berhasil, Arsenal bisa berada di posisi ke-17, satu tangga di atas zona degradasi," tandasnya.
Tugas mahaberat menanti Arteta sebelum pergantian tahun, dan Boxing Day adalah momentum. Bukan lagi soal pertaruhan jabatan sang manajer, tetapi kini mengerucut tentang harkat dan martabat Arsenal sebagai tim top.



