Debat VAR: Antara Benci Dan Sayang

Komentar()
Clive Rose
VAR kembali memancing perdebatan menyusul insiden dalam partai Chelsea kontra Norwich di Piala FA.

Tidak bisa ditampik, salah satu bahasan utama di dunia sepakbola musim ini adalah penggunaan video assistant referee atau yang populer disingkat VAR.

Sejak mulai dipopulerkan FIFA di Piala Konfederasi 2017, VAR terus merambah ke kompetisi utama di Eropa seperti Serie A Italia, Bundesliga Jerman, dan Piala FA. Pada 22 Januari besok, FIFA akan mengadakan rapat untuk memutuskan apakah VAR akan dipakai di turnamen sepakbola terakbar, Piala Dunia, pada musim panas nanti. Namun, teknologi baru itu masih dianggap belum sempurna seiring munculnya beragam kontroversi dalam penggunaannya.

Terbaru, manajer Chelsea Antonio Conte merasa dirugikan oleh VAR saat timnya susah payah memukul Norwich City di Piala FA, Rabu (17/1). Conte protes karena VAR tak digunakan saat Willian tampak ditekel di kotak terlarang di masa extra time dan malah dikartu kuning akibat dianggap diving. VAR ibarat dalam posisi dibenci tapi sekaligus disayang. Apakah VAR baik atau buruk untuk sepakbola? Goal menuangkan opini dari kedua belah sisi di bawah ini.


VAR Mengakhiri Ketidakadilan


Thierry Henry handball France v Ireland 2009

Sekilas pandang di Twitter, ada banyak fans yang lebih menuntut peningkatan mutu wasit ketimbang penggunaan VAR. Pandangan ini terasa kurang relevan. Wasit-wasit top seperti Mark Clattenburg dan Felix Brych sebetulnya sudah bekerja di level tertinggi, namun mustahil untuk menghapus sepenuhnya kesalahan manusia dalam sebuah pertandingan.

Dalam situasi seperti ini, sembari terus mengharapkan peningkatan mutu wasit, kita tidak boleh anti terhadap kemungkinan baru, inovasi baru. Inovasi yang sejati membutuhkan sebuah lompatan keyakinan yang mungkin terasa radikal dari status quo. "Jika saya bertanya kepada pelanggan saya apa yang mereka inginkan, mereka akan menjawab kuda yang lebih cepat,” demikian kutipan terkenal dari Henry Ford.

VAR punya kemampuan untuk meningkatkan kualitas pertandingan. Namun harus diingat bahwa VAR tidak dipakai untuk membetulkan segalanya. VAR hanya akan mengintervensi kartu merah, penalti, gol, dan kesalahan identifikasi. Selain keempat hal itu, ada berjuta-juta situasi yang bisa menimbulkan interpretasi. Jika FIFA mampu memberikan garis tegas soal hal ini, tidak ada alasan untuk tidak menerapkan VAR.

“Namun VAR akan mengganggu jalannya pertandingan,” rengek para pengkritik VAR. Silakan sampaikan hal itu pada Brasil, yang tersingkir dari Copa America 2016 karena insiden handball. Empat orang ofisial berkumpul untuk berdiskusi, menghentikan laga selama dua menit, dan masih membuat keputusan salah. Fans Republik Irlandia tentu akan dengan senang hati menunggu beberapa menit dalam partai play-off Piala Dunia melawan Prancis untuk menanti handball Thirry Henry terverifikasi VAR.

Kendati implementasinya masih belum berjalan sempurna, bukan berarti VAR harus dihentikan dan masuk museum seperti sistem golden goal yang gagal itu. Jika inovasi terus dikekang, mungkin sampai sekarang sebuah kemenangan masih dihargai dua poin dan back-pass tetap diperbolehkan.

Bundesliga dan Serie A sudah menunjukkan tanda-tanda serius untuk mempercepat proses pengambilan keputusan dari penggunaan VAR. Ketimbang menahan VAR, FIFA harus memberikan transparansi kepada fans bahwa teknologi ini terus mengalami perbaikan dan peningkatan.

Penggunaan VAR di Piala Dunia 2018 mungkin akan terasa terlalu dini. Akan tetapi, jika insiden Henry kembali terjadi di menit terakhir dalam partai final di Moskwa dan itu merugikan tim kesayangan Anda, saya jamin Anda akan marah dan merengek agar VAR seharusnya ada di sana. Sebab VAR adalah keadilan untuk semua.

- Sam Brown, Head of English Language Goal


VAR Membunuh Emosi Sepakbola


Lionel Messi celebrates, Barcelona

Ada sebuah alasan mengapa sepakbola menjadi olahraga paling populer dan paling menarik di dunia: karena kesederhanannya. Jadi mengapa kita seperti terobsesi mencari cara baru yang berpotensi merusak the beautiful game yang kita cintai ini?

Bagi penggemar sepakbola sejati, pengguanaan VAR yang mulai meluas di Eropa musim ini adalah sebuah bencana fatal, terutama dari sudut pandang estetika. Alur alamiah dan emosi pertandingan akan lenyap seketika karena laga yang tertunda sembari menunggu sebuah insiden ditinjau ulang.

Ada yang mencapai lima menit, sementara para pemain dan fans gigit jari menanti keputusan. Bahkan di Serie A ada beberapa partai yang memiliki injury time sepuluh menit gara-gara VAR. Ini bukan sepakbola.

“VAR merenggut antusiasme sepakbola. Para pemain tidak lagi saling berpelukan setelah gol terjadi, tetapi mereka justru melihat ke wasit. VAR akan menghapus adrenalin dan mengurangi kenikmatan dalam bermain sepakbola,” komplain pelatih Lazio Simone Inzaghi. Gelandang Juventus Sami Khedira menambahkan, “Sepakbola adalah tentang emosi. Kini, para pemain tidak tahu apakah mereka akan merayakan sebuah gol atau tidak. Ini adalah kematian sepakbola.”

Bayangkan situasi ini: final Piala Dunia, Lionel Messi melakukan solo run dramatis dari tengah lapangan, melewati enam pemain lalu mencetak gol. Gol tersebut lantas ditinjau VAR karena adanya potensi pelanggaran. Messi, rekan setimnya, dan jutaan fans terpaksa menunggu lima menit sebelum akhirnya gol itu disahkan. Emosi dan antusiasme dari calon gol terbaik terbaik sepanjang masa pun sirna.

Bukan cuma membunuh emosi, VAR juga terbukti belum tentu membuat keputusan secara tepat. Dalam sepakbola, hanya ada sedikit keputusan yang segamblang hitam dan putih, salah satunya adalah bola yang melewati garis gawang. Dalam hal ini, Goal Line Technology (GLT) melakukan perannya dengan sangat baik: selalu tepat dan instan seketika.

Di musim ini, terjadi sejumlah keputusan keliru di laga besar. Termasuk ketika penyerang Borussia Dortmund Pierre-Emerick Aubameyang yang jelas-jelas mencetak gol memakai tangannya kontra Schalke, namun tidak ada intervensi dari VAR. Ini memunculkan masalah besar selanjutnya, yakni wasit harus berlaku adil terhadap kedua tim seputar insiden abu-abu atau kejadian seperti Aubameyang dan Willian terus terulang. Namun untuk meninjau insiden satu per satu jelas akan semakin mengulur-ulur waktu.

Gagasan bahwa VAR telah berjalan sukses hanyalah sebuah mitos. Sebuah jajak pendapat baru-baru ini yang dilakukan Kicker terhadap 219 pemain Bundesliga menunjukkan, mayoritas pemain menilai VAR telah merusak sepakbola. Dan memang merusak.

- Carlo Garganese, Head of Global Features Goal

Tutup