Berita Live Scores
Ligue 1

Dari Ligue 1 Ke Puncak Dunia: David Trezeguet

11.27 WIB 16/04/17
David Trezeguet, AS Monaco
Pemain keturunan Prancis-Argentina ini tumbuh di Amerika Selatan tapi melesat di Ligue 1 sebelum akhirnya menaklukkan dunia bersama Les Bleus.

OLEH   DEDE SUGITA     Ikuti di twitter

Kedua gol merupakan tendangan voli, dieksekusi menggunakan kaki kiri yang dianggap sebagai kaki terlemahnya.

David Trezeguet dua kali menuliskan namanya dalam sejarah. Ada dua momen menonjol dari perjalanan kariernya yang luar biasa, dan dua momen tersebut terpisah jarak 11 tahun, selamanya dikenang di belahan dunia yang berbeda.

Lahir di Prancis dari orang tua Argentina, Trezeguet kelak akan menjadi penjelmaan terbaik dari kombinasi dua negara. Sebuah karier gemilang diapit oleh dua petualangan di kampung halamannya. Salah satu striker terhebat di sepakbola ini dibina di Amerika Selatan sebelum mengorbit di Prancis.

Ayah David, Jorge, adalah seorang pesepakbola profesional yang meninggalkan Buenos Aires untuk hijrah ke kawasan utara Prancis pada akhir 1970-an untuk memperkuat FC Rouen. Dua tahun periodenya di klub dihiasi dengan kelahiran David kecil, anak yang kemudian berkembang untuk mencapai mimpi-mimpi besar.

Jorge pulang kampung untuk merumput dengan Chacarita Juniors di utara Buenos Aires, menyediakan kesempatan bagi sang putra untuk merintis kisah sepakbolanya sendiri dengan bergabung ke Platense di usia delapan tahun.

"Di umur 15 tingginya sudah mencapai 180 cm. Dia kurus, tapi kuat," ujar Marcelo ‘Cacho’ Espina, mantan rekan Trezeguet di Platense, yang secara tidak langsung memberikan debut untuk sang penyerang sebagai youngster 17 tahun pada Juni 1994 setelah dirinya terjerat suspensi.

"Dia sangat terampil dan memiliki satu atribut khusus yang hanya dipunyai segelintir pemain: ia mampu menembak bola sangat baik dengan kedua kakinya."

Sang remaja langsung mengundang ketertarikan dari luar negeri. Paspor Prancis yang digenggamnya menarik minat dari Paris Saint-Germain sebelum AS Monaco akhirnya keluar sebagai pemenang dalam perburuan tanda tangannya. Ia meninggalkan Negeri Tango sebagai pemain yang masih belum tenar. Kejayaan dengan salah satu klub terbesar Argentina harus menunggu.

"Target saya adalah pergi ke Prancis, dan saya tidak memikirkan tentang apa yang saya miliki di Argentina," kata Trezeguet kepada FIFA.com. "Saat Anda memiliki cukup antusiasme, dan tidak terlalu berpikir berlebihan, segala sesuatunya sering kali berjalan baik. Itu menjadi pengalaman unik bagi saya di sana [Prancis]."

Awalnya pindah ke Monaco melalui trial, Trezeguet menghabiskan beberapa tahun di dalam skuat reserve sebelum memperoleh kesempatan di panggung utama. Dua musim pertamanya dengan klub hanya membuahkan sembilan penampilan first-team.

Namun, pada 1997 ia siap melesat. Keyakinan pelatih Jean Tigana pada sang youngster langsung terbayar dengan Trezeguet menjelma menjadi Trezegol, mencetak 18 gol dalam kampanye debutnya di Ligue 1, hanya terpaut tiga gol dari topskor liga, Stephane Guivarc'h, sementara Monaco meraih peringkat ketiga dan mengamankan kelolosan ke Liga Champions.

"Saat Tigana memboyong saya ke Monaco, ia tidak tahu banyak tentang saya tapi ia memberikan sebuah kesempatan, dan saat itu ia sangat sabar dan membiarkan saya berkembang," ucap Trezeguet kepada World Soccer. "Di bawah arahannya, saya menjadi lebih berani."

Trezeguet dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik Prancis 1997/98 dan sesudahnya menjadi jawara dunia bersama timnas Prancis pada musim panas. Ini menjadi awal kehidupan di Eropa yang jauh melampaui ekspektasinya. Torehan 38 gol menyusul dalam dua musim berikut seturut perannya menginspirasi langkah Monaco menyambar titel Ligue 1 1999/2000.

Dan kemudian hadirlah aksi pertama dari dua voli legendarisnya, yang menjadi gol emas penentu kemenangan Prancis di final Euro 2000. Monaco tak sanggup mempertahankannya lebih lama, dan tak lama berselang ia hengkang menuju Italia untuk bergabung ke Juventus.

Kariernya yang produktif di Turin diwarnai dengan dua titel Serie A dan ia mengoleksi total 71 cap timnas Prancis sebelum pensiun dari sepakbola internasional pada 2008. 

"Prancis memberikan banyak sekali hal kepada saya," ujarnya. "Tetapi di dalam hati saya selalu menjadi orang Argentina." Lebih spesifik lagi, hatinya selalu bersama River Plate.

"Saat kesempatan untuk datang ke sini muncul, saya tidak berpikir dua kali," tutur Trezeguet setelah merelakan tawaran menggiurkan lebih dari €1 juta dari klub Arab demi memimpin River bangkit dari degradasi pertama sepanjang sejarah klub pada 2012.

"Saya ingin membentuk bagian sejarah klub ini," katanya. Dan ia melakukannya, dengan satu lagi ayunan kaki kirinya, mengemas dua gol yang menyegel tiket promosi pada akhir musim pertamanya.

"Itu spesial," ujar Trezegol. "Itu bahkan lebih besar dari gol di Euro 2000."