Karier pesepakbola jarang ada yang lebih gila dari Kevin-Prince Boateng.
18 bulan terakhir ini menyimpulkan perjalanan sang pemain yang naik-turun, sebagaimana ia berubah dari transfer kejutan Barcelona pada Januari 2019 untuk kemudian mengamankan kepindahan ke tim Serie B Monza, bulan lalu.
Seluruh karier Boateng sama bergejolaknya, dengan mantan pemain junior Jerman itu tidak dapat memanfaatkan potensi penuhnya, yang lantas mengakibatkan dia pindah teratur dari satu klub ke klub berikutnya.
Memulai kariernya di Bundesliga bersama Hertha Berlin, Boateng terpilih sebagai Pemain Muda Terbaik Jerman pada 2006 sebelum memastikan transfer ke Tottenham Hotspur pada 2007.
Kepindahan ke White Hart Lane bisa dibilang terlalu cepat bagi pemain berusia 20 tahun itu, yang fokusnya sedikit pudar karena paket gaji yang cukup besar.
“Saya akan kembali dan berkata: ‘Saya tidak memperlakukan sepakbola sebagai pekerjaan. Saya adalah seorang idiot. Saya punya bakat, tapi saya berlatih minimal, satu jam di lapangan. Saya menjadi yang terakhir tiba dan yang pertama pergi. Saya akan keluar [jalan-jalan] bersama teman-teman’," kata Boateng kepada La Repubblica pada 2019.
"Saya punya uang, saya hidup seperti raja. Saya tidak pernah pergi ke gym. Itu mengubah karier Anda di kemudian hari. Saya membeli tiga mobil dalam satu hari ketika saya di Tottenham: sebuah Lamborghini, Hummer, dan Cadillac.
"Kepada para pemain muda, saya ingin memberi tahu mereka: 'Anda tidak bisa membeli kebahagiaan.' Saya tidak bermain, saya punya masalah keluarga, saya keluar dari skuad. Saya mencari kebahagiaan dalam hal materi: mobil membuat Anda bahagia untuk seminggu. Saya membeli tiga untuk bahagia selama tiga minggu."

Terlepas dari masalah di luar lapangan, Boateng masih bisa mencuri perhatian di tempat latihan Tottenham, dengan Darren Bent dibuat terpukau oleh seberapa besar kepercayaan yang dimiliki penyerang muda itu di usia yang belia.
“Saya ingat dia mencetak gol ‘kelas dunia' yang mutlak ini dari jarak sekitar 35 yard, sebuah tendangan voli, dan dia berteriak sekuat tenaga, 'Bagaimana pemain ini tidak bermain?' Dia berbicara tentang dirinya sendiri!" kata Bent kepada talkSPORT.
Untuk mencari lebih banyak waktu bermain, Boateng meninggalkan Tottenham pada musim dingin 2009 ke Borussia Dortmund, di mana, selama enam bulan peminjaman, ia menunjukkan lebih banyak gambaran tentang potensinya di bawah bimbingan Jurgen Klopp.
Sayangnya, klub Jerman itu tidak memiliki dana yang cukup untuk menandatangkan Boateng dengan status transfer permanen, membuat dia dan pelatihnya kecewa.
"Seandainya Dortmund lolos ke Eropa pada saat itu, mereka akan membeli saya," kata Boateng kepada Goal dan DAZN tahun lalu.
“Klopp menelepon saya secara pribadi dan mengatakan kepada saya bahwa mereka tidak dapat menyelesaikan situasi. Saya sangat sedih tentang itu dan Prince yang biasanya tangguh menangis.
“Saat itu, saya bisa merasakan bahwa sesuatu yang besar bisa terjadi di Dortmund, jadi saya ingin bertahan. Tapi itu tidak terjadi. Demi Klopp, saya bahkan akan pergi ke Tiongkok! ”
GettyBoateng akhirnya kembali ke Liga Primer bersama Portsmouth, yang terdegradasi pada akhir musim 2009/10 yang luar biasa di mana mereka juga kalah dramatis di final Piala FA melawan Chelsea.
Namun, dia telah berbuat cukup banyak di Fratton Park untuk mengamankan dirinya pindah ke Serie A. Boateng, seolah-olah, didatangkan oleh Genoa, tetapi dia tidak pernah bermain untuk Ligurians, yang segera menyerahkannya ke AC Milan.
Di San Siro-lah Boateng bersinar paling terang.
Ada hat-trick selama 14 menit melawan Lecce, gol Liga Champions melawan Barcelona dan bahkan tribut untuk Michael Jackson - lengkap dengan satu sarung tangan putih, topi hitam dan jaket gemerlap - selama perayaan Scudetto Milan di akhir musim 2010/11.
Pada 2013, Schalke datang menelepon dan meski pada awalnya tampil kuat, waktu penyerang itu di Bundesliga akan berakhir dengan cara yang mengecewakan dua tahun kemudian mengingat kontraknya diputus menyusul penangguhan karena perilaku buruk.
Milan lantas memberinya tali penyelamat, menyambutnya kembali ke Italia, tetapi periode keduanya tidak berjalan sebaik yang pertama, dan dia dibebaskan setelah enam bulan.
Boateng mengingatkan semua orang tentang bakatnya yang abadi dengan sepuluh gol untuk Las Palmas selama musim 2016/17 dan, setelah menghabiskan tahun berikutnya di Eintracht Frankfurt, ia terlahir kembali sebagai 'false nine' di Sassuolo.
Performa bagusnya di posisi baru ini akhirnya membuatnya pindah ke Barcelona, yang waktu itu mencari penyerang cadangan selama jendela transfer Januari 2019.
Mengingat riwayat perilaku Boateng yang diduga 'buruk', langkah itu mengejutkan pendukung Blaugrana, tetapi pelatih saat itu Ernesto Valverde memiliki pemikiran terbuka untuk meminjamnya.
"Kami percaya pada praduga tidak bersalah," kata pelatih Barca itu kepada wartawan. "Kami tidak ingin bertarung dengannya, tapi ingin dia membantu kami dan mencetak gol."
Namun, Boateng justru menghabiskan sebagian besar waktunya di bangku cadangan Camp Nou, sebagaimana dia hanya membuat lima penampilan di semua kompetisi, meskipun setidaknya pergi dengan gelar LaLiga atas namanya.
“Itu adalah pengalaman yang indah di Barcelona, bekerja dengan yang terbaik di dunia, tapi itu tidak terlalu memuaskan,” Boateng kemudian mengakui. “Pada usia saya, itu sepadan, setidaknya saya dapat mengatakan bahwa saya pernah bermain di Camp Nou bersama Lionel Messi."
Musim 2019/20, dia kemudian memulai karier dengan Fiorentina, sebelum pindah lagi di musim dingin, kali ini bergabung dengan raksasa Turki Besiktas.
Setelah bermain untuk tujuh klub hanya dalam waktu enam tahun, nilai Boateng jelas turun dan pada September tahun ini ia menyetujui kontrak satu tahun dengan tim Serie B Monza.
Meski baru berusia 33 tahun, kepindahan itu tidak terlalu mengejutkan mengingat jalur karier aneh yang ditempuh Boateng.
Dia bergabung dengan mantan penguasa Milan dan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi, yang sekarang memiliki Monza, dan mantan direktur olahraga Adriano Galliani, sementara tim tersebut dilatih oleh Cristian Brocchi, juara Liga Champions dua kali bersama Rossoneri.
Tetapi untuk pemain dengan begitu banyak potensi, jelas dia bisa mencapai lebih banyak jika dia tetap fokus.
"Mentalitas sangat penting dalam sepakbola. Saya terlambat untuk benar-benar memikirkan [karier saya]. Tentu saja, saya menyesali itu," kata Boateng kepada Goal dan DAZN pada 2019.
"Sebagai anak berusia 18 tahun, saya akan membutuhkan agen atau keluarga untuk mendorong saya ke arah yang benar. Saya akan menyukainya. Tapi saya justru harus memperbaiki semuanya sendiri.
"Saya tahu betul bahwa saya juga gagal dengan motivasi saya, yang tidak selalu 100 persen di sana.
"Jika saya memiliki kemauan mutlak, saya bisa menjadi starting XI di Barcelona atau akan bermain selama sepuluh tahun untuk Real Madrid atau Manchester United."




