Mantan bek kanan Paris Saint-Germain Dani Alves menyebut kota Paris rasis setelah angkat kaki dari ibu kota Prancis untuk gabung Sao Paulo musim panas ini.
Alves, 36 tahun, kembali ke Brasil setelah hampir 20 tahun merantau di Eropa ketika ia menuntaskan bebas transfer pada Agustus, ketika kontrak berdurasi dua tahun di Parc des Princes habis.
Meski Alves bersiap memperpanjang masa tinggal dengan PSG, mantan pemain Barcelona, Juventus dan Sevilla ini menceritakan pengalaman kurang menyenangkan dengan kehidupan Paris.
“Paris kota yang penuh tekanan — saya sangat tidak menyukainya,” ucap Alves kepada GQ di Brasil.
“Jika Anda pergi ke sana selama sepekan, ini akan menjadi perjalanan menyenangkan seumur hidup. Tapi lebih dari itu akan membuat Anda gelisah.
“Ini sedikit mengingatkan saya tentang Sao Paulo. Namun di Paris, mereka rasis! Sangat banyak. Mereka tidak melakukan apa pun kepada saya, karena saya akan mengatakan kepada mereka ke mana harus pergi, tapi saya melihatnya dengan teman-teman saya.”
Alves menambah dua gelar Ligue 1, satu Coupe de France, satu Coupe de la Ligue dan dua Truphee des Champions selama membela PSG.
Rasisme tengah menjadi perbincangan hangat dalam sepakbola belakangan ini. Beberapa pemain berkulit gelap di Italia, termasuk Romelu Lukaku, mengalami sendiri pelecehan rasial di klub barunya, Inter Milan.
Sementara yang baru saja terjadi, pertandingan kualifikasi Euro 2020 antara Inggris dan Bulgaria sempat dihentikan dua kali lantaran suporter tuan rumah mengeluarkan ejekan bernada rasis kepada beberapa penggawa Tiga Singa.
Sementara itu kantor pariwisata Paris tidak bisa dihubungi untuk memberikan komentar sebagai tanggapan atas komentar Alves.




