Ketika Ben White berjalan melewati pintu-pintu di London Colney setelah transfernya ke Arsenal senilai £50 juta atau hampir mencapai Rp 1 triliun tuntas, kedatangan bekas bek berbakat Brighton and Hove Albion itu seketika langsung menciptakan ilusi bahwa dia lah jawaban yang selama ini klub London Utara cari atas prahara lini defensif mereka.
Nahas, pemain belakang berumur 23 tahun itu tampak kewalahan mengawal pertahanan Arsenal selama menjalani pramusim -- tim kalah dari Chelsea dan Tottenham -- termasuk kekalahan mencengangkan dan paling memalukan dari tim promosi Brentford di laga pembuka Liga Primer Inggris 2021/22.
Suara-suara sumbang menghampiri Arsenal selepas matchday 1, melabeli mereka yang tak mampu mengatasi tim sekelas Brentford dengan hinaan 'men against boys' dan 'same old Arsenal'.
White memang tak bisa sepenuhnya disalahkan atas bobroknya lini belakang Arsenal di hari pembuka Liga Primer. Namun, statusnya sebagai pemain termahal ketiga dalam sejarah klub menuntut dia untuk memberikan efek instan di dalam skuad.
Sayangnya, White gagal menunjukkan itu. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Tak hiperbolis mengatakan lini belakang Arsenal memang dalam masalah, tapi White tetap akan dikambinghitamkan karena nilai transfer bombastis dia.
Seusai matchday 1, pandit Gary Neville kepada Sky Sport memberikan penilaian bahwa White bukanlah perekrutan yang benar-benar akan memancarkan soliditas di sektor pertahanan tim.
Selama bertahun-tahun, fans Arsenal terbiasa melihat lini belakang mereka dikawal pemain dengan jiwa kepemimpinan macam Tony Adams. Sosok terakhir yang nyaris menyerupai legenda Inggris itu, meski tidak akan pernah selevel, yakni Laurent Koscielny.
GettyNeville tak menampik kemampuan White dalam melakukan build-up dari dalam. Namun, sang bek pun dinilai harus tangguh dalam bertahan dan mengontrol penguasaan bola secara nyaman.
"Tak seorang pun di akhir musim akan mengingat betapa banyak operan bola bagus yang telah dilakukan Ben White. Ketika kami mengatakan, dia bagus dalam menguasai bola, itu adalah sesuatu yang biasa kita katakan 15 tahun lalu," ujar Neville kepada Sky Sport.
"Saya sebetulnya berpikir, sebagian besar bek tengah sekarang, terutama di klub enam besar, adalah bek yang kompeten dalam menguasai bola," nilainya.
"Mereka melakukannya dengan baik. Mereka melakukan passing-passing yang bagus. Mereka bisa memainkan sakelar diagonal yang baik. Mereka semua sekarang sangat baik dalam menguasai bola," urai Neville.
Setelah rangkaian penampilan White di pramusim, termasuk di laga pembuka EPL, pertanyaan terbesar di diri bek seharga nyaris Rp triliun itu adalah apakah dia bisa berkembang di bawah komando manajer Mikel Arteta?
"Perbedaannya sekarang adalah dapatkah dia mempertahankan diri dari kebobolan, bisakah dia membuat perbedaan untuk tim Arsenal ini," tanya Neville.
White memang bukan akar dari masalah Arsenal, namun sistem permainan yang dibawa Arteta mengancam bek 23 tahun itu untuk terus menampakkan kelemahannya di lapangan.
Semakin dia berusaha menutupi kekurangan lini belakang Arsenal, semakin terlihat pula sisi negatif dirinya, dan White perlu segera merasakan sistem baru semisal beralih ke pola tiga bek.
Pewaris nomor 4 di Arsenal ini punya rangkaian pengalaman bermain dalam sistem tiga bek di Leeds United dan Brighton. Arteta sebetulnya tidak asing dengan taktik demikian, karena dia pun beberapa kali merombak sistem empat bek ke tiga bek di beberapa kesempatan musim lalu.
Bentuk ini akan menawarkan proteksi defensif yang jauh lebih kuat. Tidak hanya akan memaksimalkan kualitas White, tapi pemain seperti Kieran Tierney bisa bermain lebih fokus sebagai bek sentral di sisi kiri.

Formasi demikian bakal mengoptimalkan Bukayo Saka untuk bermain sebagai wing-back kiri -- posisi alami bintang muda Inggris itu -- dan membuka pintu bagi banyak talenta menyerang di skuad Arteta.
Namun, lantaran Arteta kini tengah berada dalam tekanan hebat dan posisinya jauh dari kata aman sebagaimana diklaim Tuttosport, Edu selaku direktur klub juga dituntut untuk segera merealisasikan transfer Lautaro Martinez dari Inter Milan, nama Antonio Conte mendadak digadang-gadang bakal calon suksesor potensial mantan asisten pelatih Pep Guardiola tersebut.
Conte, mantan bos Chelsea, yang begitu identik dengan permainan tiga bek dan melahirkan kembali skema ini ke dalam sepakbola modern Inggris, berperan penting dalam kebangkitan David Luiz.
Mantan bek berpengalaman Chelsea dan Arsenal itu unggul dengan perannya sebagai ball-playing defender, menjadi titik sentral dari pola tiga bek dalam gaya khas Conte. Peran ini bisa diemban White dengan baik dalam sistem Conte apabila pria Italia ini benar-benar melengserkan Arteta.
Beberapa hari lagi, Arsenal akan meladeni Chelsea-nya Thomas Tuchel yang juga menganut tiga palang pintu. Arteta bisa menghidupkan kembali skema ini dengan meletakkan gagasan lama demi era baru pertahanan tim, dengan White berdiri sebagai jantung aksi.
Jika pada akhirnya Arteta tak jua mampu mengeluarkan potensi terbaik White, memang benar saatnya Arsenal bergerak konkret untuk Conte.




