Sensasi Kai Havertz terus menyita perhatian publik sepakbola. Dalam hampir dua tahun terakhir, bintang muda Bayer Leverkusen ini tampil melejit di Bundesliga Jerman.
Mulai dari Barcelona, Real Madrid, hingga Chelsea, tersita perhatian mereka gara-gara potensi besar yang dipertontonkan pemuda 21 tahun itu ketika beraksi di lapangan.
The Blues diyakini berada di atas angin untuk mengamankan tanda tangan Havertz, seiring pihak klub London dan Leverkusen telah menggelar serangkaian pembicaraan untuk membuat kesepakatan transfer ini.
Malah, Chelsea disebut-sebut tak sungkan melemparkan penawaran fantastis mencapai €80 juta demi bisa mengamankan jasa Havertz di bursa transfer berikutnya setelah mereka berhasil mendapatkan kompatriotnya, Timo Werner, dan Hakim Ziyech dari Ajax.
Terlepas jadi atau tidaknya sang pemain merapat ke Stamford Bridge, Havertz telah berada di antara deretan "properti panas" yang siap mengguncang kampanye musim 2020/21 mendatang.
Muncul pertanyaan, bagaimana sebetulnya gaya bermain Havertz secara spesifik? Pemilik No.29 itu menjelaskannya dalam sebuah kesempatan wawancara dengan Marca.
"Saya bisa katakan, bermain di posisi No.8, di sisi kanan lebih ke depan. Saya bukan pemain No.10 klasik, tapi saya senang menguasai bola di kaki saya, menikmati diri saya di lapangan," tutur Havertz.
"Saya telah bermain di banyak posisi, tapi saya lebih senang bermain di tengah, di mana saya bisa lebih sering memiliki bola. Saya selalu bermimpi untuk mengenakan No.10 di klub saya suatu saat nanti," katanya lagi.
Imago ImagesBerbagai kalangan melabelinya sebagai playmaker modern, tetapi Havertz menambahkan: "Saya berada di titik di mana saya tak peduli apakah saya memberi assist, mencetak gol atau membuat umpan kunci."
"Mulai sekarang, saya punya peran di Bayer untuk berusaha membuat umpan pamungkas dan bukan hanya menjadi pencetak gol. Tapi saya ingin bilang bahwa saya adalah pemain yang berbahaya dan saya senang mencetak gol," tegasnya.
Di Leverkusen sendiri, Havertz lebih sering dimainkan sebagai gelandang serang tengah [AMC] atau kanan [AMR], terkadang juga bermain sebagai sayap kanan [MR]. Akan tetapi, pelatih Peter Bosz pun tak segan untuk sesekali memplotnya sebagai penyerang tengah [FW] atau bahkan penyerang melebar [FWR].
Maka tak heran bila melihat produktivitas gol Havertz terbilang cukup tinggi. Musim lalu, dia sukses membukukan 17 gol di ajang Bundesliga. Di edisi 2019/20, Havertz mengemas total 18 gol bagi Leverkusen di seluruh kompetisi resmi.
Wajar pula bila dia mengidolakan sosok pemain menyerang seperti Kaka, Zinedine Zidane, Ronaldinho hingga Andres Iniesta.
Getty"Ada banyak pemain yang menginspirasi saya seperti Kaka, Zidane, Ronaldinho. Mereka selalu menjadi idola saya. Di antara para pemain Spanyol, favorit saya adalah Andres Iniesta. Dia sungguh luar biasa saat mengendalikan bola. Unik. Saya sangat suka dia," beber Havertz.
"Toni Kroos adalah pemain hebat, saya banyak mengambil contoh darinya. Perjalanan kariernya luar biasa. Saya punya respek yang besar padanya. Kemampuan passing dia dan kombinasi permainannya berada di level yang berbeda," lanjutnya.
"Dalam pelatihan [di Jerman], setiap passing dari dia sungguh sempurna. Tak peduli bagaimana para pemain memberikan bola padanya," ulasnya.
Liga Primer Inggris jadi kesempatan yang paling ideal bagi Havertz untuk membuktikan kualitas dia lebih lanjut. Saat ini, tak ada yang meragukan bakat besar dia sebagai salah satu talenta terbaik Eropa.
Boleh jadi, Chelsea kini bisa menemukan sosok suksesor jangka panjang Eden Hazard pada diri Havertz.
