Christian Pulisic mengaku sangat bangga bisa menjadi pemain Amerika Serikat pertama yang bermain di final Liga Champions setelah membantu Chelsea menaklukkan Manchester City 1-0.
Pulisic, yang menjadi pemain pertama Amerika Serikat yang mencetak gol di semi-final kompetisi ini ketika dia membobol gawang Real Madrid bulan lalu, jadi pemain pengganti untuk menggeser Timo Werner di menit ke-66 dalam laga yang dihelat di Porto.
Pemain berusia 22 tahun itu punya kans emas untuk menggandakan kedudukan bagi Chelsea beberapa saat setelah masuk dari bench. Meski begitu, momen itu tidak menghalangi raihan juara skuad Thomas Tuchel, yang sekali lagi menyungkurkan jawara Liga Primer Inggris itu untuk menyegel titel Liga Champions kedua klub.
Saat ditanya mengenai pencapaian historis dalam kariernya ini, kepada CBS, Pulisic berujar: "Saya sangat bangga. Saya benar-benar bangga bisa berada di sini."
"Ini sungguh jadi perjalanan yang sulit bagi saya, dan saya tak bisa membayangkan juara Liga Champions pertama dalam hidup saya, dan sekarang saya berada di situ," jelasnya.
"Ini benar-benar gila. Saya tidak bisa berkata-kata lagi, ini luar biasa. Tak ada ucapan yang bisa saya ungkapkan. Saya hanya bangga. Saya memeluk keluarga saya, sahabat-sahabat saya. Saya hanya bangga," imbuhnya.
Chelsea sendiri menuntaskan musim ini di posisi keempat klasemen akhir -- 19 poin di belakang Man City -- akan tetapi mengalahkan laskar Pep Guardiola untuk ketiga kalinya sejak Tuchel menggantikan Frank Lampard sebagai manajer Januari lalu.
Tuchel mengatakan: "Membagi ini [juara Liga Champions] kepada semua orang sungguh luar biasa. Kami berhasil. Wow, saya tidak tahu bagaimana rasanya ini."
"Saya benar-benar bersyukur bisa hadir di sini [final UCL] untuk yang kedua kalinya. Saya merasa berbeda," tambahnya.
"[Para pemain] sangat berhasrat untuk menjuarainya. Kami ingin menjadi batu di sepatu mereka. Kami mendorong semua pemain untuk maju dan melangkah keluar, untuk menjadi lebih berani dan menciptakan ancaman saat serangan balik. Itu adalah laga fisik yang berat. Kami harus membantu satu sama lain," pungkas Tuchel.




