Bintang Real Madrid, Antonio Cassano, melancarkan serangan terhadap Jose Mourinho, pelatih kepala Los Blancos, dengan mengkritik metode kepelatihan serta caranya mengelola pertandingan. Ia juga melontarkan kejutan terkait perbandingan antara dua pemain Brasil, Vinicius Junior dan Rodrygo.
Dalam wawancara panjang dengan surat kabar Spanyol "AS", Cassano berbicara dengan keterusterangan khasnya mengenai pengalamannya bersama Real Madrid, mengenang momen bermain bersama sejumlah bintang terbaik sepak bola. Ia juga melontarkan kritik keras kepada Mourinho, menilai filosofinya telah ketinggalan zaman, sebelum menegaskan bahwa Los Blancos punya peluang besar untuk mengalahkan Roma pada Rabu malam ini di Liga Champions.
Cassano menyerang Mourinho: Dia tidak mencintai sepak bola
Cassano tidak ragu mengkritik Mourinho. Ia menilai Real Madrid, meski memiliki status historis dan kekuatan besar, seharusnya tidak merekrut pelatih asal Portugal tersebut. Ia mengaku tidak memahami keputusan presiden Florentino Perez yang memilihnya untuk memimpin tim.
Mantan bintang Italia itu mengatakan bahwa Mourinho tidak mencintai permainan sepak bola sebesar perhatiannya terhadap berbicara. Ia menambahkan bahwa pelatih Portugal itu sudah tidak sebaik dulu, dan filosofi sepak bolanya sudah ketinggalan zaman sejak sekitar sepuluh tahun lalu.
Cassano menambahkan bahwa yang penting bagi dirinya bukan jumlah gelar yang diraih seorang pelatih, melainkan penampilan yang ditunjukkan timnya di atas lapangan. Ia menilai perjalanan karier Mourinho tidak meninggalkan warisan sepak bola yang besar, melainkan lebih banyak dikaitkan dengan kontroversi dan perseteruan dengan orang lain.
Cassano juga membandingkan Mourinho dengan Gian Piero Gasperini, pelatih Roma, dengan menegaskan bahwa yang terakhir menyajikan sepak bola yang lebih baik menurut pandangannya. Ia bahkan sampai mengatakan bahwa Real Madrid bisa saja meraih kemenangan besar 10-0 jika Gasperini yang menanganinya, bukan Mourinho.
Barcelona-nya Flick jadi contoh untuk mengalahkan Real Madrid
Meski meyakini Real Madrid memiliki keunggulan dari segi kekuatan tim, Cassano memperkirakan laga yang sulit menghadapi Roma, dengan menyebut Los Blancos memiliki peluang 80% untuk menang.
Namun, ia mengkritik ketergantungan Real Madrid pada kemampuan para bintangnya untuk menentukan hasil pertandingan. Ia menjelaskan bahwa Los Blancos semestinya tidak menarik diri ke belakang dan menunggu Kylian Mbappe, Jude Bellingham, atau Vinicius mencetak gol untuk menyelamatkan mereka.
Sebaliknya, Cassano memuji Barcelona di bawah kepemimpinan Hansi Flick. Ia menilai pelatih Jerman itu berhasil membangun tim dengan karakter yang jelas, mengandalkan serangan dan keterlibatan semua pemain dalam menciptakan perbedaan. Gaya inilah yang menurutnya perlu dipelajari Real Madrid.
Cassano meremehkan Vinicius dan memilih Rodrygo
Dalam penilaiannya terhadap para bintang Real Madrid, Cassano melontarkan kritik jelas kepada Vinicius Junior. Ia menegaskan tidak melihatnya sebagai bintang dengan level seperti yang digambarkan sebagian orang, meski ia mampu mencetak gol dan menciptakan perbedaan di beberapa pertandingan.
Mantan bintang Italia itu mengatakan bahwa ia tidak memahami alasan Vinicius mendapat perhatian lebih besar dibanding rekannya, Rodrygo. Ia menegaskan lebih menyukai yang terakhir, dan menilai Rodrygo memiliki potensi lebih besar ketika berada dalam kondisi fisik terbaiknya.
Cassano menambahkan bahwa Rodrygo layak tampil sebagai starter ketimbang Vinicius jika secara fisik siap. Ia menegaskan sangat mengagumi pemain tersebut dan menantikan kembalinya, dalam pernyataan yang menempatkannya berhadapan langsung dengan salah satu bintang utama Los Blancos.
Messi terbaik dalam sejarah, Ronaldo Il Fenomeno lebih unggul dari Cristiano
Pernyataan-pernyataan mengejutkan Cassano tidak terbatas pada Real Madrid saja. Ia juga berbicara tentang pemain terbaik yang pernah disaksikannya sepanjang kariernya, dengan menegaskan bahwa pemain Argentina Lionel Messi melampaui semuanya, dan ia tidak melihat pemain lain yang mampu mencapai levelnya.
Cassano memuji Messi dan menilainya sebagai fenomena luar biasa dalam sejarah sepak bola. Ia juga memberikan pujian kepada Lamine Yamal, Raphinha, dan Rodrygo, namun menegaskan bahwa bintang Argentina itu tetap berada di posisi yang tak tertandingi, dan ia tidak memperkirakan munculnya pemain serupa di masa depan.
Ia juga mengenang kembali memorinya bersama pemain Brasil Ronaldo Nazario, yang dikenal dengan julukan "Il Fenomeno", dengan menyebutnya sebagai salah satu striker terhebat yang pernah ia saksikan. Ia menyebut cedera telah menghalangi Ronaldo mencapai level yang lebih tinggi sepanjang kariernya.
Cassano bahkan melangkah lebih jauh ketika menegaskan bahwa Ronaldo Il Fenomeno lebih unggul dari pemain Portugal Cristiano Ronaldo. Ia menilai yang terakhir tidak mencapai setengah dari level yang ditampilkan striker Brasil itu pada periode terbaiknya.
"Saya seharusnya masuk penjara": Cassano mengakui menyia-nyiakan bakatnya
Dalam salah satu momen paling terbuka dalam wawancara itu, Cassano mengakui bahwa ia menyia-nyiakan peluang emas selama pengalamannya bersama Real Madrid, akibat perilakunya yang tidak disiplin serta kurangnya perhatian terhadap latihan dan menjaga kebugaran fisiknya.
Mantan pemain itu mengatakan sambil tertawa bahwa ia seharusnya masuk penjara karena tingkah lakunya di Madrid. Ia menjelaskan lebih memilih makan dan keluar bersenang-senang ketimbang disiplin menjalani latihan, serta mengalami kenaikan berat badan hingga sekitar 10 kilogram.
Cassano menambahkan bahwa ia memiliki bakat besar, tetapi tidak memiliki kemauan yang diperlukan untuk mengembangkannya. Ia mengakui tidak siap berkorban atau mengeluarkan upaya yang dibutuhkan untuk mencapai level terbaiknya.
Bintang Italia itu mengenang kembali memorinya bersama sejumlah bintang terbaik Real Madrid, terutama Zinedine Zidane, Ronaldo Il Fenomeno, dan Guti. Ia menegaskan dirinya beruntung bisa bermain di samping mereka, namun ia belum cukup dewasa untuk memanfaatkan kesempatan itu secara optimal.
Cassano meminta maaf kepada Capello dan mengungkap klub favoritnya
Cassano juga berbicara tentang hubungannya dengan mantan pelatihnya, Fabio Capello, yang pernah menanganinya di Roma dan Real Madrid. Ia mengakui tidak memperlakukan Capello dengan layak pada periode tersebut, meski kini sangat menghargainya.
Ia menjelaskan bahwa Capello lebih menyukai pemain yang disiplin dalam latihan dan menjaga kesehatan mereka, sementara dirinya berjalan ke arah yang berlawanan. Ia menyebut pelatih Italia itu tetap menjadi yang terpenting dalam perjalanan kariernya, dan hubungan keduanya kini telah membaik.
Mengenai klub yang paling dekat dengan hatinya, Cassano memilih Sampdoria. Ia menjelaskan bahwa pengalamannya bersama klub tersebut membantunya menghidupkan kembali kariernya, dan di sanalah ia mengenal istrinya yang memberinya dua anak, sebelum akhirnya menetap di Genoa.
Meski mengakui bahwa ia mampu meraih lebih banyak, Cassano menegaskan dirinya tidak hidup dalam penyesalan. Ia menyebut dirinya pernah bermain untuk Roma, timnas Italia, dan Real Madrid, yang ia gambarkan sebagai klub terhebat dalam sejarah sepak bola. Ia menilai apa yang telah ia raih tetap cukup bagi dirinya, meski banyak peluang yang ia sia-siakan karena perilakunya.



