Berita Live Scores
Transfer

"Bukan Rekrutan Sukses"? Gareth Bale Adalah Pembelian Hebat Real Madrid!

19.56 WIB 22/09/20
Gareth Bale Real Madrid Champions League final 2017-18
Bale mungkin tidak akan dikenang oleh Madridismo, tetapi ia telah memainkan peran penting dalam sejarah luar biasa klub.

Keputusan Gareth Bale untuk meninggalkan Real Madrid adalah langkah yang tepat bagi semua pihak.

Setahun terakhir dia hanya membuang-buang waktu dan membuang-buang uang Madrid. Dia mungkin jarang tampil di lapangan tetapi kehadirannya di tribun menjadi ‘gangguan’ yang tidak diinginkan.

"Tidak dapat disangkal fakta bahwa situasinya tidak memuaskan bagi semua orang," kata gelandang Toni Kroos kepada podcast Lauschangriff pada Juli kemarin.

Bale, seperti yang dikatakan oleh mantan penyerang Madrid Predrag Mijatovic, menjadi masalah, yang sekarang telah diselesaikan, seiring pemain Wales itu yang pulang ke Tottenham Hotspur.

Ini mungkin hanya kesepakatan pinjaman tetapi tidak akan ada jalan untuk kembali. Waktunya di Santiago Bernabeu telah berakhir, yang merupakan hal baik bagi si pemain dan klub itu sendiri; itu sudah jelas.

Namun, yang belum pasti adalah bagaimana dia akan dikenang di Madrid.

Mantan rekan setimnya di Tottenham Andros Townsend baru-baru ini mengklaim bahwa Bale pantas dibuatkan patung di Santiago Bernabeu - tetapi itu pasti tidak akan terjadi.

Bahkan tidak akan ada konferensi pers perpisahan, di mana ikon yang keluar biasanya membuat pidato yang penuh air mata kepada klub.

Bale tentu tidak menyesal pergi; dan pers Madrid juga senang melihatnya pergi. Halaman depan surat kabar AS hari Kamis lalu menuliskan "Bye Bale", yang dimaksudkan untuk mengucilkannya.

Pers Spanyol sudah lama menentang Bale. Dia berulang kali dikritik karena dianggap kurang komitmen, diduga enggan berbaur, enggan mempelajari budaya dan - yang paling mengerikan yang dituduhkan media - enggan belajar bahasa.

Keengganan Bale untuk berbicara dengan bahasa Spanyol menjadi bahan bagi orang-orang untuk mengalahkannya, terutama pada saat dia tidak menampilkan performa baugs - atau lebih seringnya - bermasalah dengan kebugaran.

Sosok asal Wales itu bahkan tidak berupaya untuk memperbaiki situasi, dengan ia pernah memajang bendera yang dihiasi kata-kata: 'Wales. Golf. Madrid. Dalam urutan itu.'

Itu mungkin menyenangkan bagi rekan senegaranya dan rekan-rekannya, tetapi tidak ada orang di Bernabeu yang melihat itu lucu. Demikian pula, kejenakaannya di bangku cadangan Madrid pada akhir musim lalu - berpura-pura tertidur dan teleskop improvisasi miliknya - memperburuk tudingan.

Ada tuduhan ia bersikap tidak hormat dan kurang profesional dan itu dapat dimengerti dan dapat dibenarkan. Namun, tujuh tahun masa tugas Bale di Madrid harus dilihat secara keseluruhan dan tanpa prasangka.

Apakah kejenakaannya yang kekanak-kanakan menodai warisan yang ia tinggalkan di Madrid? Niscaya. Tapi haruskah mereka memandang remeh prestasi luar biasa yang ia ukir di lapangan? Harusnya tidak.

Waktu Bale di lapangan dibatasi oleh masalah kebugaran yang terus-menerus menghantuinya dan kurang harmonisnya hubungan dia dengan Zinedine Zidane.

Meski begitu, sang pelatih pun tetap mengakui pada Sabtu kemarin bahwa Bale telah “menjadi pemain spektakuler". Statistiknya tentu mengesankan. Dia mencetak 105 gol, dan menciptakan 57 assists, dalam 251 penampilan di semua kompetisi untuk Madrid.

Ini bukan hanya tentang angka. Bale tidak hanya berkontribusi; tapi dia melakukannya dalam pertandingan besar, seringkali dengan cara yang spektakuler, mencetak beberapa gol paling ikonik dan penting dalam sejarah Madrid.

Gol solo memukau yang mengalahkan Barcelona di final Copa del Rey 2014 - saat ia sengaja lari keluar lapangan untuk membalap Marc Batra - benar-benar berkesan.

"Saya belum pernah melihat yang seperti ini," kata Xabi Alonso yang terkesima kepada wartawan pada saat itu.

Hanya beberapa bulan kemudian, dia mencetak gol penting dalam kemenangan Real atas Atletico Madrid di final Liga Champions di Lisbon, yang memastikan klub itu meraih Piala Eropa/Liga Champions kesepuluh yang bersejarah.

Masih ada yang jauh lebih baik, yakni ketika bertemu Liverpool di final pada 2018. Bale mencetak salah satu gol terbaik dalam sejarah Liga Champions, membobol gawang lawan dengan tendangan salto yang menakjubkan hanya beberapa detik setelah masuk dari bangku cadangan.

Memang, segalanya menjadi mengecewakan setelah dia mengemas dua gol di Kiev itu. Bale dimaksudkan untuk mengambil tempat Cristiano Ronaldo sebagai pemimpin tim setelah bintang Portugal itu hengkang ke Juventus musim panas itu; namun, ia justru gagal melakukannya dan hanya menjadi beban bagi saldo bank Los Blancos.

Kepergiannya, kemudian, tidak bisa dihindari, dan ini terbilang langkah penting. Akan ada banyak rasa pahit dari kepergiannya, dan itu bisa dimengerti. Tingkah lakunya membuat dia tidak memiliki banyak teman di ibu kota Spanyol.

Tapi Bale harus diingat sebagai Galactico hebat terakhir Madrid. Dia tidak hanya memenangkan lebih banyak medali di Madrid ketimbang sederet bintang seperti Luis Figo, Ronaldo, David Beckham dan Zidane, dia bisa dibilang menghasilkan lebih banyak kenangan magis dan juga bermakna.

Mantan presiden Ramon Calderon berargumen bahwa pemain berusia 31 tahun itu tidak bisa dianggap sebagai "rekrutan yang sukses". Namun Madrid tidak akan memenangkan empat trofi Liga Champions dalam kurun lima tahun tanpa Bale. Tidak ada perdebatan tentang itu.

Perannya dalam kesuksesan Madrid baru-baru ini tidak dapat diabaikan hanya karena beberapa penggemar dan jurnalis tidak lagi menyukainya. Dua tahun terakhirnya di Madrid tidak seharusnya merendahkan lima tahun karier dia sebelumnya.

Bale mungkin tidak akan dikenang sebagai legenda klub, tetapi namanya tidak bisa begitu saja dihapus dari sejarah Madrid; dialah yang membantu mereka membuatnya.